LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 28


__ADS_3

Setelah pertengkaran antara Lily dan Aara, keduanya tak lagi saling bertegur sapa. Hanya ada komunikasi saat mereka sedang berada dengan keluarga. Jika tidak, mereka akan sama-sama bungkam dengan perasaan masing-masing.


Hubungan Aara dan Brian juga biasa saja, hanya satu kamar tapi tidak berbagi rasa apa lagi keringat. Mereka berstatus suami istri tapi perhatian Brian tak untuk Aara. Apa lagi akhir-akhir ini Brian lebih sering menemani Lily.


Brian mengantar Lily ke rumah sakit, kerumah Tiara dan selalu menemani Lily makan. Semua atas dasar ijin dari Aara. Justru Aara yang meminta dengan alasan tak ingin anaknya kenapa-kenapa.


Lily pun heran, kenapa semakin kesini Aara semakin menjauh dari Brian. Tak lagi bergelayut manja dan memamerkan kemesraan di depan orang tua mereka. Aara pun memberi pengertian pada Daddy dan Mommy jika apa yang di lakukan Brian hanya semata-mata untuk bayi yang ada di dalam perut Lily dan tak perlu meminta ijin dengannya apapun yang Lily minta jika itu berkaitan dengan Brian.


Perdebatan antara Brian dan Aara pun selalu terjadi, seakan mereka tidak lelah dengan hubungan yang hanya diisi dengan emosi.

__ADS_1


"Gue berangkat duluan!" pamit Aara yang akhir-akhir ini memilih berangkat sendiri lebih pagi. Tapi kemarin Brian mendengar Daddy menegur Aara yang selalu datang terlambat. Brian kini tidak tau aktifitas Aara di kantor Daddy nya karena Brian yang sudah pindah kekantor yang ia bangun dengan usahanya sendiri.


"Tunggu Aara!" Brian menahan tangan Aara yang sudah ingin meninggalkan kamar. Aara pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali menatap Brian yang kini tengah memperhatikan dirinya.


"Loe kenapa?" tanya Brian dengan terus menatap lekat Aara yang hanya diam membuang muka. "Kenapa diam? Loe menghindar dari gue? Dan pergi kemana loe setiap pagi?" tanya Brian lagi. Akhir-akhir ini Brian begitu penasaran dengan sikap Aara yang semakin diam dan cuek akan dirinya. Dan cukup penasaran dengan kegiatan Aara yang menurutnya semakin membuat wanita itu jarang di rumah.


"Bukannya ini yang loe mau!" jawab Aara dengan ketus. Dia tersenyum miring dan bersedekap dada, "Brian, mau gue telanjang di depan loe. Loe cuek kan sama gue? Terus kenapa sekarang loe nanya gue kenapa? loe mulai suka sama gue?" tanya Aara tanpa basa-basi.


"Nggak usah loe mikirin gue! Urus aja Lily dan anak loe! Jaga anak itu sampai lahir dengan baik, karena gue nggak mau sampe anak gue kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Kasih gue satu alasan yang tepat dengan sikap loe yang berubah!" tegas Brian dengan memegang kedua pundak Aara. Dia suaminya, bukan karena tidak cinta dan Aara bisa sesuka hati melakukan apapun tanpa memperdulikan dirinya. Karena Brian sadar selama Aara masih berstatus menjadi istri, selama itu juga ia yang bertanggung jawab akan Aara.


"Gue cuma mau ngelakuin apapun tanpa ada yang mengatur!" jawab Aara dengan lantang, kemudian dia menghempas kedua tangan Brian dengan kasar.


"Tapi apa yang loe lakuin juga udah nyakitin Lily!"


"Lily! Lily! Lily! Lily terus yang ada di otak loe! Nggak bisa loe lihat gue? Gue sama kayak Lily, gue juga mau di cintai!" Sentak Aara membuat Brian hanya menggelengkan kepala. "Benar kata loe, gue memang nyakitin Lily, tapi kan ada loe! Terus apa gunanya ada loe? Bahkan loe bisa bikin dia bunting, masak bikin dia nggak sedih aja loe nggak bisa?"


"Aara jaga ucapan loe! Gue nggak mungkin menghamili Lily kalo nggak ada unsur kecelakaan!" ucap Brian menegaskan dan mencoba mengingatkan Aara akan apa yang terjadi dengan Lily. "Dan gue minta sama loe, bersikap baik lah sama Lily, karena meski bagaimana pun dia adik kandung loe!"

__ADS_1


"Apa loe bisa bersikap baik sama gue? gue istri loe!" tegas Aara.


__ADS_2