LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 40


__ADS_3

Pagi ini dengan tubuh yang lemah Aara segera keluar rumah sebelum semua penghuni bangun dan melihatnya yang kabur. Di jalan ia menghubungi Gibran namun tak kunjung di angkat oleh sepupunya. Aara kembali mual dan mengharuskan dirinya berulang kali menepikan mobil.


Sampai di rumah sakit Aara segera masuk keruangan dokter yang selama ini menangani dirinya. Aara segera mendapatkan penanganan khusus setelah menceritakan semua yang ia alami sejak semalam. Hari ini ia terpaksa sendirian menghadapi rasa sakitnya, tak ada Gibran karena mungkin terlalu pagi. Dan pria itu belum bangun, tapi Aara sudah mengirimkan pesan agar segera di baca setelah ia membuka ponselnya.


"Dok, saya butuh bantuan. Ada pasien yang mengalami efek dari kemoterapi yang terlalu parah. Dia mual hingga tubuhnya melemah. Memang sudah setiap hari saya pantau perkembangannya namun kali ini sepertinya penyakitnya pun sudah sangat parah dan kami sedikit kesulitan."


"Baik saya akan kesana sekarang!" Dokter yang biasa menangani Aara tampak mengalami kesulitan sedangkan Aara sudah begitu lemah. Sebenarnya sudah di beri peringatan untuk Aara di rawat inap tapi wanita itu tidak mau dan lebih memilih setiap hari datang untuk mengecek kondisinya.


Alhasil dokter pun tidak bisa memantau secara 24 jam kondisi aara yang memang sudah sangat membutuhkan penanganan yang serius.


"Bagaimana dengan pasien, apa sudah ada perkembangan?" tanya dokter yang merupakan ketua atau kepala dokter di rumah sakit tersebut. Kebetulan dia sedang ada jadwal operasi semalam jadi pagi ini baru akan pulang. Namun karena ada panggilan mendadak yang harus ia tangani terpaksa mendahulukan keselamatan pasien dari pada kepentingan pribadinya.


"Masih lemah dokter, ini data pasien nya. Dan silahkan masuk Dok untuk melihat sendiri bagaimana kondisi pasien saat ini." Dokter Harkan yang menjadi dokter yang menangani Aara segera mempersilahkan beliau masuk.


Sebelum beliau benar-benar masuk, terlebih dulu melihat data pasien agar beliau tau, tindakan apa yang harus dilakukan setelah ini.

__ADS_1


"Kanker rahim stadium 4 dan sudah menjalar hingga ke organ lainnya. Jantung dan parunya bagaimana?"


"Sudah mulai menyebar hampir 70 persen dari organ dalamnya Dokter."


"Kenapa tidak di rawat? bahkan seperti nya harapan begitu kecil. Pasien ini harus mendapatkan penanganan yang lebih serius lagi. Bagaimana dengan keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut dengan perlahan langkahnya mendekati brangkar Aara.


"Kami sudah meminta dokter, bahkan sudah hampir tiga bulan ini membujuk beliau setiap datang untuk tetap tinggal di rumah sakit. Tapi beliau tidak mau dokter. Untuk keluarga pasien, ada satu yaitu kakak laki-laki nya. Tapi selama enam bulan ini saya menangani beliau belum pernah saya melihat kedua orangtuanya datang dokter. Jadi yang bertanggung jawab selama ini hanyalah kakak laki-laki yang setiap hari selalu datang menemani nya."


"Tapi untuk pagi ini saya lihat pasien datang sendiri dokter. Sebenarnya tim saya sudah hampir angkat tangan dengan penyakit yang pasien derita. Tapi karena semangat Kakak laki-laki pasien membuat kami terus berusaha untuk memberikan yang terbaik dan mengkemo meskipun kemungkinan sembuh sangat kecil."


"Maaf Dok saya terlambat, bagaimana dengan....."


"Gibran!"


"Om Bayu!"

__ADS_1


Gibran tak menyangka jika akan bertemu dengan Om Bayu, selama ia menemani Aara tidak pernah mereka bertemu dengan om Bayu. Meskipun Aara dan Gibran tau jika rumah sakit tersebut adalah salah satu tempat Om Bayu bertugas.


Maka dari itu Aara dan Gibran memastikan sejak awal siapa dokter yang akan menangani Aara. Mereka pun memilih rumah sakit itu karena terkenal bagus di kota mereka dengan penanganan yang cepat dan alat yang sudah memadai. Sebelumnya Aara mengetahui penyakitnya bukan di rumah sakit itu melainkan rumah sakit lain yang akhirnya angkat tangan dan membuat Aara terpaksa pindah di rumah sakit tempat mertuanya bertugas.


"Kamu..."


"Beliau Kakak dari pasien dokter....Apa dokter kenal?" lanjut dokter Harkan menjelaskan.


Gibran sudah tak mampu lagi bicara, ia tau setelah ini semua akan terbongkar. Penyakit Aara yang selama ini ia tutupi atas permintaan Aara sendiri pasti akan sampai di telinga keluarga.


"Kakak, maksudnya dia Tiara?" lirih Bayu yang tidak menyangka jika yang sakit adalah keluarganya sendiri. Beliau begitu terkejut hingga jantungnya berdegup begitu kencang. Penasaran juga dengan siapa adik dari gibran yang di maksudkan itu. Karena setaunya ya hanya Tiara, tapi kenapa Andika tidak pernah cerita apa-apa.


"Bukan Om..." Gibran menundukkan kepala dengan menghela nafas berat, namun Om Bayu tak lagi bertanya. Beliau segera memastikan sendiri dari pada menduga-duga dan membuatnya semakin penasaran. Jujur ia takut jika orang yang Gibran maksud benar keluarganya. Meski cukup lega saat Gibran berkata jika itu bukan Tiara.


Langkah Bayu terhenti, tubuhnya mematung saat kedua mata pasien itu bersinggungan dengan nya. Bahkan seakan tak percaya hingga membuat dadanya begitu sesak.

__ADS_1


"Aara...."


__ADS_2