LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 34


__ADS_3

Setelah makan malam Lily melipir ke taman belakang, hawanya dia begitu gerah. Dia memutuskan untuk mencari angin dan menjernihkan pikiran. Lily pun ingin membuang jauh-jauh rasa penasaran dan rasa sakit melihat Brian begitu perhatian pada Aara. Terlebih jika yang di ucapkan oleh Mommynya itu benar. Berarti Brian dan Aara sudah melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama dengan Brian.


Lily mengusap wajahnya dengan kasar, bohong jika ia tidak ada rasa cemburu. Tapi berusaha dengan sekuat hati untuk membuang jauh-jauh rasa itu. Tidak pantas dia iri atau memikirkan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri. Apa lagi itu hubungan orang lain. Dia yang sejak awal sudah mencoba mengikhlaskan seharusnya lebih paham jika akhirnya Aara pun akan mengandung sama sepertinya.


"Gue nggak boleh begini, gue mikir apa sich...... huuuhhhfff......" Lily membuang nafas kasar. Rasanya merana sekali hatinya saat ini.


"Eheeeemmmm...." deheman seseorang membuyarkan lamunannya. Perlahan Lily menoleh dan melihat orang yang kini ikut duduk di sampingnya.


"Gibran....."


"Hhmmm...... Sendirian aja! Orang bunting nggak boleh kebanyakan melamun sendirian." Gibran menoleh menatap wajah Lily. Ada rasa bersalah di hatinya, apa lagi setelah melihat kondisi Lily saat ini. Dia tidak menyangka jika Lily begitu tegar. Bahkan lebih memilih berjuang sendiri tanpa merusak hubungan orang lain.


"Terus mau sama siapa kalo nggak sendiri?" tanya Lily balik, wanita itu kembali memandang langit yang cerah dengan senyum yang merekah. Lily berusaha untuk baik-baik saja agar orang tidak ada yang tau dengan kegundahan hatinya saat ini.


"Kenapa nggak minta tanggung jawab? Meskipun orang itu nggak salah, tetap aja dia nikmatin loe kan? Doyan juga berarti! ****** banget donk kalo di lepas gitu aja!"


"Ck, berarti nggak perlu gue jelasin lagi loe udah paham donk! Berita ini juga pasti udah viral kan di rumah loe? Pasti Om Dika marah-marah!" tebak Lily dengan membayangkan wajah kecewa Omnya.


"Pasti, apa lagi taunya belakangan. Berasa nggak di anggap aja bokap gue. Loe paham lah! Apa lagi Mamah, dari sore udah nangis aja. Cuma di sini aja keliatan biasa, mereka nggak mau loe kepikiran."


Lily menghela nafas berat, ternyata masalahnya nggak cuma nyakitin satu dua orang. Tapi semua keluarga dan semua merasa kasian dengan dirinya yang memilih berjuang sendiri. Lily menundukkan kepala, sudah jalan hidupnya seperti ini dan ia tak ingin berlarut-larut menyesali.

__ADS_1


"Masa depan loe masih panjang, nggak usah loe pikirin banget. Setelah anak itu lahir hidup loe akan normal kembali," ucap Gibran dengan bijak. Dia merangkul tubuh Lily dan mengusap lembut pundaknya. "Sorry ....."


"Buat apa?" tanya Lily yang kini menoleh ke arah Gibran.


"Apapun.....Ya kali ucapan gue ada yang nyakitin loe! Sorry juga gue nggak ada saat loe butuh temen, pasti berat banget kan?" ucap Gibran dengan senyum yang di paksakan. Dalam hati Gibran benar-benar merasa bersalah. Gibran memeluk Lily dengan erat hingga Lily merasa heran dengan sikap Gibran yang tak seperti biasanya.


"Maaf Ly....maaf....."


Lily menatap Gibran dengan tatapan heran, mata Gibran terlihat penuh penyesalan dengan mata yang teduh.


"Loe kenapa? Loe nggak usah terlalu kasihan sama gue!" Lily segera membuang muka, "tampang loe nggak pantes mellow!" sindir Lily, karena memang Gibran dan Om Andika sebelas dua belas. Makin tua makin selengekkan dan nggak pantes masang muka sedih.


"Ck, ngerusak suasana loe!"


"Besok ikut gue yuk!" Ajak Gibran, mungkin dengan mengajak Lily keluar rumah bisa membuat hati Lily lebih baik. Karena Gibran tau, meskipun Lily terlihat tersenyum namun hatinya masih rapuh.


"Kemana? Gue kan udah bilang tadi, gue tuh lagi hidup di sangkar emas. Mana boleh gue keluar rumah, yang ada kalo sampe ada partner kerja Daddy yang lihat perut gue. Gue nambah bikin malu Daddy, gue aib yang lagi di tutupi. Jadi nggak usah ngajak gue kemana-mana!" Lily tersenyum getir. Ini semua kenyataan yang harus di hadapi jadi sebisa mungkin Lily harus terbiasa sampai ia melahirkan.


Mendengar ucapan Lily membuat Gibran kembali merasa bersalah. Dia mengusak kepala Lily membuat rambut Lily berantakan.


"Ck, iseng ikh! Berantakan tau!" kesal Lily kemudian dengan cepat merapikan rambutnya.

__ADS_1


"Omongan loe bikin ingus gue mau turun, bikin sedih ngeb!" ucap Gibran asal.


"Mata Gibran, mata loe! Bukan hidung, loe kata lagi pilek!" Lily menggelengkan kepala dengan tersenyum menanggapi ucapan Gibran. Cukup terhibur meski hatinya masih kalut.


"Emang loe mau ngapain ngajak gue? Loe nggak takut pacar loe pada marah? Ntar mereka ngira loe ngehamilin gue lagi!"


"Bagus biar pada kabur sekalian! Cewek bisanya minta jatah belanja doank tapi jatah gue nggak di kasih!" celetuk Gibran yang membayangkan kisah cintanya tak semulus yang ia pikirkan. Setelah move on dari Tiara dia berusaha membuka hati untuk wanita lain. Tapi bukannya mendapat yang tulus dia mendapatkan cewek modus.


"Jatah! Awas anak orang bunting! Dasar playboy cap donat!" ketus Lily. Sejenak ia bisa melupakan kesedihannya dengan adanya Gibran.


"Donat? Emang ada playboy cap donat?" Gibran menghela nafas panjang.


"Ada ya loe itu playboy cap donat! Cewek loe itu bukan matre tapi realistis, loe minta jatah tiap hari tapi nggak mau rugi! Lagi insyaf jangan nyari bolongan mulu!"


"Wajib lah, gue lagi melakukan seleksi alam biar tau mana yang perawan!" jawab Gibran dengan bangga, "tapi nyatanya emang pada kayak donat! Keliatannya aja mentul-mentul tapi ternyata udah pada bolong! Makanya enak benar yang dapetin loe, abis dapet yang masih rapet loe biarin aja tanpa minta tanggung jawab."


Tanpa sengaja Gibran kembali membuat Lily mengingat akan kejadian di malam itu. Membuat Lily tidak nyaman dan diam tak lagi menimpali ucapan Gibran.


"Gue ke kamar ya, ngantuk!" ucap Lily tiba-tiba membuat Gibran berpikir keras. Gibran menarik nafas dalam, ia lupa jika kata-katanya mungkin menyinggung hati Lily.


Lily segera beranjak dari sana tapi dengan cepat Gibran mencegah. "Eh Ly, sorry....gue nggak ada maksud!" lirih Gibran yang kini berdiri di depan Lily dengan mencekal tangan wanita itu.

__ADS_1


Lily tersenyum dan menepuk pundak Gibran, "lebaran udah lewat, bentar lagi lebaran haji. Mending loe minta maaf sama kambing yang besok dagingnya mau loe bikin sate!" celetuk Lily kemudian melepas tangan Gibran dan melangkah masuk menuju kamar.


__ADS_2