LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 37


__ADS_3

Malam ini, malam panjang bagi kedua pasang kekasih yang terhalang karena status. Namun cinta masih tumbuh di hati masing-masing. Mungkin ini sebagian jalan yang harus mereka lalui, namun semua itu tidak lah benar. Hal yang harusnya mereka hentikan justru membuat mereka enggan untuk melepas pelukan yang bercampur peluh.


Brian berhasil menaklukkan Lily, ia berhasil membuat Lily pasrah dan menerima setiap hujaman lembut yang Brian berikan. Sentuhan Brian membuat Lily akhirnya mengangguk dan menikmati apa yang ia tahan sejak tadi. Brian sudah membuatnya menyerah, merobohkan tembok besar yang ia bangun. Dan mampu membuat Lily tak lagi menolak padahal setelah Brian menikah Lily benar-benar tidak menerima apapun bentuk sentuhan yang Brian berikan.


Keduanya saling melebur menjadi satu, mengulangi malam itu hingga sama-sama melupakan status.


Berulang kali Lily mengerang dengan tubuh bergetar, dia mendapatkan hal yang luar biasa. Jika malam itu ia tidak sepenuhnya sadar tapi malam ini ia benar-benar menikmati. Senyum Brian pun terukir di atas tubuh Lily. Ia melihat wajah cantik yang terpejam menikmati sisa pelepasaan. Dan itu belum berakhir, Brian kembali bergerak karena ia pun ingin merasakan hal yang sama setelah memastikan Lily terpuaskan.


Lenguhan kembali terdengar indah di telinga Brian membuat Brian gemas dan kembali menghisaap bibir tipis yang terbuka dengan suara manja.


"Loe bikin gue gemes Ly!"


"Pelan-pelan kak!" hanya itu jawaban Lily dengan mata masih tertutup. Sebenarnya mata Lily tertutup bukan karena sepenuhnya menikmati, itu karena ia begitu risih dengan dirinya yang kini tak berbalut sehelai benang pun. Terlebih tatapan Brian yang begitu mendamba melihatnya tanpa henti. Rasanya Lily ingin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya andai saja tidak di buang oleh Brian.


Brian tau Lily tak semudah itu bisa di nikmati tanpa banyak penolakan. Maka dari itu ia menyentuh di titik-titik sensitif wanita itu dengan lembut agar Lily takluk dan tak lagi menolak. Dia juga sengaja menyingkirkan selimut saat mata Lily terus terfokus dengan selembar kain tebal yang nantinya akan membuat Brian sulit untuk melihat keindahan yang begitu nyata.


"Iya sayang ini pelan, tapi kan kurang enak kalo pelan!"

__ADS_1


"Diem atau berhenti sekarang kak!" lirih Lily dengan menahan rasa yang sangat melenakan. Lily pikir mungkin bayinya yang nagih, bukan dia yang mau. Tapi tidak munafik memang rasanya seenak itu.


Mendengar ancaman Lily membuat Brian gemas dan kembali melumaaat bibir Lily. Bisa-bisanya ancaman itu di layangkan ketika wanita itu sudah berulang kali mendesaah panjang.


"Kak gue mau pipis, udah dulu bisa nggak? Di jeda atau iklan sebentar. Please nggak tahan banget ini!" rengek Lily membuat Brian menghela nafas berat. Dia yang merasa sudah di ujung jadi kembali turun karena rengekan Lily yang memintanya berhenti.


"Pipis disini nggak apa-apa Ly, mungkin loe mau_"


"Kak....Jangan buat gue malu dech, ini anak loe kali yang mau pipis bukan gue! Gue kan udah sampe basah begini!" Lily menunjukkan kasur yang sudah basah agar Brian paham dan melepaskannya karena memang ia sudah benar-benar tidak tahan.


"Ya mungkin mau lagi Ly, udah diam dan nikmati. Kalo mau keluar ya keluarin aja sayang...Nggak usah pake minta berhenti! loe nggak kasian sama si Joni yang udah mau muntah jadi balik lagi!" Brian sedikit sewot namun ia tak kunjung melepaskan dan masih terus bergerak berirama.


"Oke....Oke....Tong-Tong loe nggak ngenakin ayah banget sich! sabar dulu kek!" keluh Brian kemudian melepaskan Lily dan membantu Lily untuk bangun.


"Mau sendiri apa di temani?" tanya Brian dengan tatapan mata penuh arti, ia pun menunjukkan pada Lily betapa gagahnya si Joni yang masih ingin melanjutkan dan mencoba menunggu dengan sabar. Bahkan nampak kekar di genggaman tangan Brian yang kini bergerak naik turun karena si Joni yang tak mau berhenti.


Wajah Lily nampak memerah, rasanya ia ingin menimpuk dengan bantal kepala Brian karena sikapnya yang semakin menjadi. Tanpa peduli pada Brian, Lily segara masuk kedalam kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Memang benar ia ingin pipis bukan hanya alasan saja.

__ADS_1


"Pelan-pelan nggak usah lari, nanti jatuh! inget loe lagi hamil!" ucap Brian mengingatkan Lily yang begitu cepat melangkah menuju kamar mandi.


"Haiishhh.....sabar Ya Jon, begini dulu sambil nunggu!" ucapnya sambil melihat si Joni yang masih mengeluarkan ototnya. Brian menunggu hampir lima menit, namun Lily tak kunjung keluar dari kamar mandi sedangkan dia semakin tak tahan ingin melanjutkan kembali.


Kepala Brian pun mulai pening, ia mondar mandir di depan pintu kamar mandi masih tanpa busana dan tangan yang main arisan. Cukup khawatir namun tak sabar hingga menit ke sepuluh Lily baru keluar dengan balutan bathrobe di tubuhnya.


"Loh...kok udah bersih-bersih?" tanya Brian dengan wajah mulai frustasi. Dia sudah membayangkan akhir dari aksinya malam ini.


Dan benar saja, Lily justru bergeser dan memberi akses untuk Brian masuk ke dalam kamar mandi tanpa mau melihat kearah pria itu.


"Kenapa?" tanya Brian memastikan. "Kita masih mau lanju_"


"Di kamar mandi stok sabun banyak kak, gue ngantuk dan mau tidur. Maaf mata gue udah pengen merem banget kak. Dan sepertinya tangan loe lebih aktif dari pada gue."


Brian menganga dengan wajah memerah, yang benar saja kali ini Lily mengakhiri tanpa peduli dirinya yang sudah sangat pusing.


"Tapi Ly..."

__ADS_1


"Cepet kak! Keburu si Joni ngamuk, sana masuk!" Lily segara melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian yang akan ia pakai meninggalkan Brian yang hanya bisa menatapnya pasrah dengan menghela nafas kasar.


"Nasib....Nasib... Huuuhhhfff....Gila emang si Lily bikin pala gue mau pecah! Katanya tangan gue lebih aktif Jon. Dia nggak tau aja loe sampe bosen sama tangan gue." Brian pun masuk kedalam kamar mandi, mau tidak mau ia harus menuntaskan. Sebenarnya ingin kembali memaksa Lily tapi sepertinya akan sulit jika wanita itu sudah mode off.


__ADS_2