LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 63


__ADS_3

Brian tidak menjawab apapun, sedikit kesal mendengar permintaan Lily yang selalu membuatnya menjadi sulit. Kedua putranya sangat dia nanti, tapi begitu mudah Lily memintanya untuk memberikan salah satunya pada Aara sebagai syarat akan pernikahan keduanya. Brian masih menatap lekat wajah Lily, rasanya dia ingin sekali membuka pikiran Lily dan menghentikan rencana Lily yang menurutnya tidak masuk akal.


"Kak....." Lily kembali memanggil Brian, dia menunggu jawaban dari pria itu. "Mungkin dengan ini Kak Aara bisa bangun dan sembuh."


"Bisa sekali saja tidak terus memikirkan orang? Bisa sekali saja memikirkan perasaan Kakak? Serendah itu kamu menganggap Kakak? Kakak seperti barang yang bisa kamu tukar semaunya, tidakkah kamu mengerti bagaimana rasanya terus menuruti keinginan yang jauh dari apa yang Kakak inginkan?"


Lily terpaku mendengar semua pertanyaan dari Brian, dia tak menyangka ucapannya akan membuat Brian tersinggung. Pikiran yang kalut membuat pikiran Lily buntu. Lily membuang muka dan memijit pelipisnya. Sejahat itukah dia pada Brian selama ini, hingga Brian berpikir jika dirinya menganggap Brian seperti barang.


"Mungkin kamu butuh waktu untuk berpikir, aku akan keluar dulu. Tapi please jangan membuat kamu berpikir sesuatu yang hanya akan menyakiti kita. Sudah cukup selama ini kita menderita dengan drama percintaan yang begitu rumit. Tidak ingin kah kamu bahagia bersama Kakak? Apa jangan-jangan cinta kamu sudah memudar buat Kakak?"


Pertanyaan Brian sukses membuat Lily menoleh ke arah pria itu dengan cepat. Mustahil jika cintanya telah luntur, sedangkan Brian adalah cinta pertamanya hingga ia tidak menoleh pada pria manapun yang mencoba untuk mendekati.


"Kakak meragukan aku?" lirih Lily dengan mata berkaca-kaca.


Brian beranjak dari duduknya dan segera meraih tubuh Lily untuk memeluknya dengan erat. Rasanya cukup lega mendengar pertanyaan Lily yang mengisyaratkan jika ia tidak terima dengan pertanyaan Brian.


"Aku mencintaimu.....Please....Sabar dan jalani tanpa tergesa-gesa. Tunggu aku menyelesaikan surat-surat dan tunggu sampai keadaan genting ini mereda. Aku tau berat untukmu menerima kenyataan akan Aara. Tapi tolong, sedikit kamu luangkan untuk memikirkan aku dan kedua anak kita. Dan jangan punya pikiran untuk menukar kami."


Brian mengusap lembut air mata Lily, dia meraih dagu Lily lalu mengecup bibir Lily dengan singkat. Brian tersenyum melihat mata Lily yang mengisyaratkan keterkejutan. Sungguh Lily sangat menggemaskan dan membuat Brian ingin mengulanginya lagi.


"Kak!" Lily menghentikan pergerakan Brian dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


"Kenapa?"


"Katanya jangan tergesa-gesa? Surat pengadilan belum keluar kan? Hati aku juga butuh tenang, beri aku waktu Kak untuk menerima semua ini. Aku masih sangat terkejut dengan semua yang terjadi."

__ADS_1


Brian mencoba mengerti, tapi bukan berarti Brian merenggangkan perhatian serta tanggungjawabnya pada Lily. Wanita itu tetap nomor satu dan tak akan terganti.


Brian mengecup kening Lily kemudian menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. "Istirahatlah! Kakak tunggu di sofa..."


Lily menganggukkan kepala dan merebahkan tubuhnya. Dia kembali mencoba mengistirahatkan diri dan memejamkan mata.


Brian pun mengusap kepala Lily hingga terdengar dengkuran halus yang menandakan Lily sudah tertidur.


"Aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi...."


Brian pun beralih ke sofa karena ingin sekali merebahkan tubuhnya. Sudah hampir seminggu Brian tidak merasakan tidur di kasur empuk. Bahkan pulang pun tidak, membuat tubuhnya terasa sakit semua.


...****************...


"Lily.....Maafkan Tante yang baru tau jika kamu hamil anak Brian Sayang. Brian sungguh nakal ya nak! Maafkan kelakuan Brian ya Sayang!"


Lily berusaha untuk mengukir senyum, lalu mencium tangan Tante Cika. "Lily yang salah Tante, bukan Kak Brian. Makasih Tante dan Om sudah menjenguk Lily. Maaf jika Lily merepotkan," lirih Lily dengan tidak enak hati.


"Kamu tidak merepotkan Sayang, justru Tante yang merasa bersalah karena baru tau semuanya. Lagian Brian tetap lah salah Nak. Dia tidak mau jujur pada Tante dan satu lagi, dimana-mana kalo wanita hamil ya prianya yang salah karena setelah mendapatkan kenikmatan, eh dia menyebar benih seenaknya. Maklum anak Tante masih pemula ya Sayang!"


Wajah Brian sudah memerah mendengakan ucapan sang Mamah, sedangkan Papahnya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan istrinya yang bbb. Bagaimana dengan Lily? Tentu saja sama dengan Brian, bahkan Lily rasanya sudah ingin menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Cika....Cika....Awas itu suara loe di denger sama kedua cucu kita!" celetuk Andini yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyempatkan diri untuk mandi.


"Dua?" tanya Tante Cika yang menoleh ke arah Mommy. Setelah mendapat anggukan oleh Mommy, Tante Cika menatap Lily dengan tatapan penuh tanya. "Benar dua sayang?"

__ADS_1


"Iya Tante...."


Tante Cika tak mampu menahan rasa harunya, rasanya dia begitu bahagia akan mendapat dua cucu sekaligus.


"Brian hebat Pah, sekali tendang langsung cetak dua gol." Nampaknya Tante Cika tertular dengan sifat Om Bayu yang sama gokilnya dengan Om Andika. Lily begitu ingin menutupi wajahnya yang sudah sangat merona setelah mendengar ucapan Tante Cika.


"Iya, Brian memang pintar seperti Papahnya....Iya kan Brian?" Tanya Bayu pada putranya, dia tau Brian pasti sudah menahan malu sejak tadi. Maka Bayu sengaja membuat Brian membuka suara, hitung-hitung intermezo dari masalah yang terjadi.


"Pah!"


Bayu menahan tawa melihat Brian memintanya untuk diam. Mungkin Brian malu karena ada kedua orang tua Lily juga. Padahal dalam hati Brian pun bangga dengan dirinya yang sekali semprot langsung menghasilkan dua bocil sekaligus.


Cika tersenyum hangat menatap wajah Lily, sebenarnya dia begitu iba dengan masalah yang terjadi pada putranya, Lily dan juga Aara. Tapi Cika tidak ingin kedatangannya akan membuat Lily merasa tertekan. Maka dari itu ia berusaha mencairkan suasana.


"Sayang....Mulai sekarang panggil Tante dengan panggilan Mamah ya... Lily kan sebentar lagi juga akan menjadi anak Mamah."


Lily tersenyum tipis, dia masih bingung untuk menjawab apa. Lily melirik ke arah Brian, Mommy dan Daddy yang semua melihatnya dengan menganggukkan kepala. Rasanya Lily masih sangat berat, hatinya masih berantakan.


"Mah, mungkin Lily belum terbiasa. Nanti jika sudah menikah dengan Brian pasti Lily akan memanggil kita dengan panggilan yang sama seperti Brian memanggil kita."


Lily tertunduk tanpa suara, mulutnya kelu untuk mengucapkan panggilan itu. Rasanya masih seperti mimpi dan begitu terlalu sulit, sedangkan baru hari ini Brian menjatuhkan talak pada Aara. Dan Lily pun merasa belum saatnya dia menganggap kedua orang tua Brian menjadi mertuanya. Hatinya masih kalut setelah menyaksikan sendiri keadaan Kakaknya yang tiba-tiba memburuk.


"Iya nggak apa-apa Mas, maaf ya sayang Tante tau betul bagaimana perasaan kamu saat ini. Maaf jika terlalu terburu-buru. Tapi lain kali kita bertemu, pasti Tante akan menagih itu!" Cika tersenyum tanpa ada rasa kecewa di hatinya. Tidak mengapa karena dia paham dengan perasaan Lily saat ini. Mungkin jika dia yang berada di posisi Lily, tidak mungkin akan kuat melewati semuanya.


"Makasih Tante atas pengertiannya," ucap Lily dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2