LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 49


__ADS_3

"Bagaimana kondisi Aara?"


"Dia baru sadar tadi sekitar jam sepuluh," jawab Daddy Raihan yang tadi mendapatkan kabar dari Brian jika Aara sudah sadar dan sudah bisa berkomunikasi dengan lancar.


"Syukurlah....." Jawab keluarga yang lain selain Tiara yang memang sedang kembali ke kamar Lily untuk mengajaknya makan siang. Karena kebetulan acara sudah selesai. Tiara pun tidak mau Lily seperti terus di kurung dalam kamar.


"Tapi yang menjadi masalah saat ini Aara meminta untuk Lily mengunjunginya di rumah sakit."


"Jangan Mas, kasihan Lily....Bagaimana dengan kandungannya nanti. Sudah cukup aku melihat Aara sakit keras, aku tidak mau Lily pun ikut sakit karena memikirkan Aara. Aku tidak mau menjadi Ibu yang gagal untuk ke dua kalinya Mas." Mommy Andini benar-benar menolak akan itu, dia khawatir dengan Lily. Tidak mau sampai kedua putrinya akhirnya sama-sama sakit. Sudah sakit hati di tambah lagi sakit fisik.


"Tapi ini permintaan Aara... Bagiamana jika ini adalah permintaan Aara yang terakhir?"


"Mas!" sentak Mommy Andini tidak terima dengan kata-kata suaminya.


Prang


Mendengar sesuatu pecah di ujung tangga, semua yang ada di sana segera menoleh ke asal suara. Ternyata guci keramik tersenggol tangan Lily. Bertapa terkejutnya mereka, terlebih bukan hanya Lily tapi ada Tiara juga di sana yang mungkin mendengar semua pembahasan.


"Kak...A...A..Aara sa...sa...kit?" Seperti di hajar ribuan besi, hati Lily begitu sakit mendengar jika Aara sakit dan semua menutupi dari dirinya. Apa lagi dia mendengar jelas jika Aara sakit keras. Kaki Lily melemas bahkan ia tak kuat berpegangan pada pegangan tangga.


"Lily!"

__ADS_1


"Lily!"


"Astaghfirullah Lily!"


Daddy dan Raihan segara berlari menghampiri Lily yang tiba-tiba tak sadarkan diri sedangkan Tiara susah payah menahan kepala Lily agar tidak terbentur lantai.


Andika dan Andini serta Erna dan juga Cika ikut menghampiri. Mendadak suasana yang sepi kembali riuh karena kondisi Lily yang tiba-tiba melemah. Daddy meraih tubuh Lily sedangkan Rafkha membantu Tiara untuk berdiri dan duduk di sofa.


"Daddy bawa Lily ke rumah sakit dulu!" dengan cepat Daddy mengangkat tubuh Lily. Dia tak ingin terjadi sesuatu dengan anak dan cucunya. Meski kehamilan Lily merupakan aib keluarga tapi Daddy berharap akan cucunya lahir dengan selamat. Dan tidak ingin terjadi sesuatu pada Lily juga cucunya pertamanya.


"Mas ada darah di kaki Lily!" teriak Mommy Andini yang merapikan dress Lily saat suaminya mengangkat tubuh putrinya. Jantung semuanya mendadak bekerja berkali-kali lipat. Tiara pun langsung menangis mendengar teriakan Mommynya. Tapi dengan sabar Rafkha menenangkan hati Tiara hingga sang istri mampu menguasai diri dan tidak lagi panik. Rafkha yakin Lily kuat dan Rafkha segara mengajak Tiara masuk kamar untuk istirahat karena tidak ingin Tiara kecapekan dan pikirannya terus memikirkan sesuatu yang akan membahayakan kandungannya.


Daddy Raihan berusaha untuk tenang namun melihat Lily yang semakin memucat membuatnya tak mampu lagi menutupi kepanikan. Di tambah sang istri sudah menangis di sampingnya. Dua hal yang membuat Daddy lemah. Istri dan anak yang sedang tak baik-baik saja.


"Loe pikir ini jalanan keluarga Baratajaya doank yang boleh lewat! Gue juga kudu permisi sama pengendara lain." Padahal Andika sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi tetap dia tidak mau ceroboh dan berusaha berpikir sehat untuk menjaga keselamatan bersama.


"Ck, hubungin Bayu Er!"


"Oke-oke...." jawab Mamah Erna yang segera meraih ponselnya untuk menghubungi Bayu. Karena memang tadi tidak bisa datang karena memantau kondisi Aara.


"Eh, loe kalo panik jangan bikin acara sendiri! Bayu bukan dokter kandungan!" Andika menggelengkan kepala mendengar perintah Raihan dan istrinya yang malah mengiyakan.

__ADS_1


"Berarti hubungi Brian, karena dia yang tau dokter kandungan yang biasa menangani Lily!" perintah Raihan lagi. Mau bagaimana pun dia tidak bisa melepaskan peran Brian dari Lily. Andai sejak awal dia peka, Lily selalu membutuhkan kehadiran Brian semenjak hamil. Pasti dia tau dari awal jika Brian lah ayah dari cucunya.


Erna segera menghubungi Brian, dengan cepat pria itu pun mengangkat panggilan darinya.


"Hallo Tante..."


"Brian tolong kamu temui dokter kandungan Lily, kita lagi dalam perjalanan kesana sekarang!"


"Memang ada apa dengan Lily Tante?"


"Nanti kamu akan tau, yang jelas Lily butuh pertolongan dokter segera."


Brian melihat layar ponselnya, panggilan dari Erna telah di tutup. Dia menghela nafas berat dengan hati yang tak tenang. Pantas saja sejak tadi Brian serasa ingin meninggalkan rumah sakit dan pergi ke rumah Rafkha menyusul Lily. Tapi karena tanggungjawab nya pada Aara lebih besar membuat Brian tak bisa kemana-mana.


"Lily kenapa Brian?" tanya Aara membuyarkan lamunan Brian. Dia segera menoleh ke arah Aara dan pamit untuk meninggalkannya sebentar.


"Gue nggak tau, tapi gue mau keluar sebentar. Loe baik-baik disini ya Ra! Kalo ada apa-apa cepet telepon gue!" Brian mendekatkan ponsel Aara agar lebih mudah jika Aara ingin menghubunginya. Setelah itu Brian segera berlari keluar ruangan dengan tujuan Dokter kandungan.


"Sejak awal memang Lily nomor satu di hati loe Brian. Sepanik itu....." Aara tersenyum getir melihat pintu yang sudah kembali tertutup.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya man teman dengan like, coment dan vote....Makasih 🤗


__ADS_2