LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 55


__ADS_3

Lily merengut dengan membuang muka, baru saja akur sudah ngajak ribut. Brian tidak tau bagaimana perasaan Lily yang masih sangat merasa bersalah. Lily pun belum tau pasti kondisi Aara yang sebenarnya. Hanya sepenggal perdebatan yang ia tangkap dan ia paham jika Kak Aara sedang sakit namun itu di rahasiakan darinya.


Cup


Brian mengecup singkat bibir Lily, sebenarnya ingin lebih tapi dia belum ada keberanian. Apa lagi melihat Lily yang sedang merajuk, tapi ternyata kecupannya berhasil membuat pipi Lily merona.


"Jangan cemberut gitu! Nanti jika sudah sembuh boleh menengok tapi bukan untuk ikut merawat!"


"Kakak nggak tau bagaimana rasa bersalahnya aku sama Kak Aara. Sebenarnya Kak Aara sakit apa Kak?" tanya Lily kembali menoleh ke arah Brian. Dia berharap Brian mau menjelaskan. Tapi ternyata ia salah, Brian menggelengkan kepala dan mengusap kasar wajahnya. Kemudian kembali menatap lekat Lily yang begitu penasaran.


"Setelah sembuh akan aku bawa kamu kesana, nanti kamu akan tau sendiri bagaimana kondisi Aara. Sekarang sudah malam waktunya kamu beristirahat!" Brian membenarkan selimut Lily kemudian memberi kecupan di keningnya.


"Kak...."


"Aku akan menemani kamu disini!" Lirih Brian. Sepertinya memang malam ini ia akan bermalam di ruangan Lily. Tapi sebelum itu Brian akan menemui Papah Bayu terlebih dahulu.


"Kakak temani Kak Aara saja, Lily nggak apa-apa kok sendiri. Tapi setelah Lily tidur ya!"

__ADS_1


"Hhmm.....Cuma sebentar setelah itu kakak akan kembali menemani kamu sampai pagi."


Lily tersenyum kemudian meraih tangan Brian dan diletakkannya di atas kepalanya. Rasanya di usap akan lebih nyaman dan mudah terlelap. Ntah mengapa Lily ingin sekali di belai hingga tertidur pulas.


Brian pun cukup paham dengan apa yang Lily inginkan. Perlahan tangannya membelai rambut Lily dan mengusap kepala Lily dengan penuh kasih sayang. Bisa berdekatan dengan Lily membuatnya bahagia. Apa lagi kini Lily mulai luluh dan mau menikah dengannya. Suatu angan yang telah lama Ia impikan dan perlahan akan menjadi kenyataan.


Mata Lily kembali terbuka, ada sesuatu yang baru ia sadari sejak tadi. Tangannya terulur ke arah wajah Brian. Dia baru sadar jika ada yang beda di wajah pria itu. Mungkin karena terlalu banyak pikiran membuatnya tidak memperhatikan.


"Wajah kakak kenapa?"


Brian meraih tangan Lily kemudian mengecupnya. "Calon suami loe kan jagoan, biasa laki. Abis di keroyok kucing!" jawab Brian ngasal.


"Hush kalo ngomong, udah kayak nggak ada cewek yang mau terima si joni aja. Padahal dia sendiri udah ngiler kan pengen aku buat becek kayak kemarin?"


"Apa sich kak!" wajah Lily sudah merona. Sekelebatan bayangan akan keduanya yang beradu peluh membuat Lily merasakan sesuatu yang berbeda.


Sepertinya memang baby twins ingin kedua orangtuanya bersatu. Membuat sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seakan kali ini begitu ia inginkan.

__ADS_1


Brian mengulum senyum melihat gerak gerik Lily yang gelisah. Dia tau Lily teringat akan moment kedua kalinya mereka bersama menciptakan lenguhan.


"Mikirin apa hhmm? Kucing kawin?"


"Kakak!" Lily memukul dada Brian berulang kali. Rasanya sudah lama sekali keduanya tidak saling bercanda dan gabut bersama. Tapi malam ini tawa mereka melebur menjadi satu.


"Daddy yang memberi hadiah ini sama Kakak, setelah tau Aara sakit semua terungkap. Sampai Daddy dan semua tau jika anak ini adalah anak Kakak." Brian menghela nafas panjang sebelum kembali menjelaskan. "Kakak tidak marah, aku terima semuanya karena memang aku salah. Kurang bijak dan kurang tegas menghadapi kalian. Dan yang lebih seru lagi, Kakak mendapatkan bonus dari Rafkha juga...." Brian tertawa kecil saat mengingat Rafkha kemudian kembali melihat wajah Lily yang berubah sendu.


"Kenapa? Sedih ya lihat Kakak babak belur begini?"


"Sedih ....hiks....Aku sedih banget Kak, muka Kakak jadi penyok begini." Lily mendadak mellow, sebenarnya bukan karena melihat Brian, tapi sedih mendengar alur yang Brian ceritakan tentang terbongkarnya masalah yang selama ini tertutup rapat. Hanya saja Lily menutupi agar Brian tidak lagi khawatir.


"Aish.....Justru ini yang buat kamu mau Kakak nikahi. Tau gitu dari kemarin aja muka Kakak babak belur."


"Ish ya nggak gitu juga kak! Tapi kayak nya butuh ketok magic dech kak biar gantengnya balik lagi." Lily mengulum senyum melihat Brian yang segera membuka kamera ponsel untuk melihat kondisi wajahnya.


"Tapi kayaknya wajah kakak masih sama belum berubah jadi Patrick." Brian menoleh melihat Lily yang sudah tak mampu lagi menahan tawa. Dia menghujani Lily dengan banyak kecupan hingga Lily nampak kegelian dan tertawa lepas.

__ADS_1


Keseruan itu berakhir ketika Lily sudah kembali mengantuk. Brian segara mengusap lembut kepala Lily dengan senyum yang tak kunjung luntur. Dia rindu, sangat rindu hingga kerinduan menggunung. Dan kini kerinduan itu mulai terkikis setelah dia bisa melihat kembali wajah ceria yang telah kembali singgah.


Setelah Lily terlelap Brian bergegas pergi keruangan Papahnya. Kebetulan malam ini sang Papah sedang bertugas malam. Suatu kesempatan menceritakan dan meminta bantuan Papah Bayu atas masalah yang belum terselesaikan.


__ADS_2