LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 71


__ADS_3

Mata Lily membola saat dia tau tangan siapa yang mendorong pintu dari luar. Jantungnya sudah berdebar tak karuan bahkan, seperti ingin terlepas. Lily melihat dua orang pria berbeda generasi kini melihatnya dengan tatapan menelisik.


Seperti tertangkap basah saat mencuri, rasanya Lily ingin bisa menghilang dari sana. Perlahan tangan Lily terlepas dari handle pintu dan membuang muka untuk menghindari tatapan tajam keduanya.


"Keluar!" tegas Brian. Rasanya dia ingin sekali marah pada Lily. Jangan tanyakan mengapa Brian tau jika wanita yang berdiri di hadapannya itu adalah Lily meskipun, wanita itu membalut tubuhnya dengan kaos besar hingga perut besarnya tidak terlalu ketara.


Tapi mungkin Lily lupa jika kaos yang dia pakai adalah milik Rafkha dan dia lah yang membelikan karena, dia punya dengan warna yang berbeda.


Mau tidak mau Lily pun segera melangkah keluar tetapi, sebelumnya dia menoleh ke arah Kakaknya. "Maaf kak, aku ketahuan."


Brian bersidekap dada dengan emosi yang berusaha dia redam sedangkan, Bayu yang juga tidak menyangka ada Lily di sana begitu merasa lega karena, mereka datang sebelum terlambat. Lily belum terlalu lama berada di dalam ruangan Aara.


"Bukannya Kakak tadi baru saja ke sana, kok tau-tau sudah kembali ke..."


"Kenapa kamu kesini tidak bilang dulu dengan Kakak atau Mommy dan Daddy?" tanya Brian dengan datar dan sikap dinginnya yang membuat Lily begitu takut.


"Kalo bilang sudah pasti di larang makanya, aku nggak bilang," jawab Lily, tanpa dia sadar jawabannya membuat Brian dan Bayu menjadi gemas.


"Buka kacamata kamu itu! Mau belajar jadi mafia?" tanya Brian lagi.


"Bahkan aku seperti maling ayam yang tertangkap basah saat ini!" Lily mengerucutkan bibirnya, kemudian segera membuka kacamata yang dia pakai.


Rasanya Bayu menyerah melihat perbincangan antara Brian dan Lily. Sejak tadi dia menahan tawa dan memilih untuk masuk ruangan Aara untuk memeriksa kondisinya terkini.


Brian menghela nafas berat, Brian melirik bibir Lily yang terus saja di majukan dan sukses membuat Brian tergoda tetapi, mengingat kini dia sedang marah dengan Lily maka dari itu, Brian berusaha menahannya.


"Pulang!"


"Nggak mau."


"Aku bilang pulang!" tegas Brian.

__ADS_1


"Aku bilang nggak mau Kak!" ucap Lily kekeh.


Brian tercengang mendengar penolakan dari Lily, tumben sekali wanita itu begitu ngeyel dan sulit di atur.


"Mau aku adukan pada Mommy?" ancam Brian, mungkin dengan ini Lily mau pulang dan tidak banyak tingkah karena, berbahaya sekali terlalu lama di rumah sakit, terlebih di bagian penyakit dalam.


"Paling Kakak yang nanti di bilang Mommy tidak becus menjaga aku!" celetuk Lily.


Ada lagi saja jawaban Lily membuat kesabaran Brian semakin terkikis dan hampir habis. Apa mungkin karena bawaan bayi? Atau kedua putranya sedang ingin menguji.


Brian menatap gemas tetapi, segera membalikkan badannya kemudian melangkah meninggalkan Lily. Lelah rasanya ketika apa yang dia katakan selalu di jawab dengan ketus.


Lily mengerjap berulang kali, dia heran dengan Brian yang justru malah meninggalkannya begitu saja. Dengan cepat Lily melangkah panjang dan menyusul Brian yang sudah berjalan jauh di depan.


"Kak!" panggil Lily, namun Brian tidak kunjung menoleh dan terus saja berjalan. Hingga dia mendengar suara tangis wanita yang sangat dia kenal, dengan cepat Brian segera menoleh ke belakang.


Bola mata Brian membesar melihat melihat Lily duduk di lantai dengan menangis sekencang-kencangnya. Belum lagi tingkahnya yang seperti anak kecil. Sungguh Brian mendadak malu, terlebih saat ini jam besuk pasien jadi banyak orang yang melihat tingkah Lily dan menatap dengan tatapan menyalahkan dirinya.


"Ya Tuhan...Ini kelakuan Bundanya si kembar kenapa bikin emosi jiwa? Jangan-jangan anak gue yang mau ngerjain bapaknya."


"Hiks...Hiks...Aku ditinggal, dicuekin dan tidak dipedulikan...Huwa...Hiks...Hiks..."


Brian nampak kelimpungan, dia segera membantu Lily untuk berdiri dan merangkul tubuh Lily. Brian mengajaknya keluar dari rumah sakit kemudian, membantu Lily untuk masuk ke dalam mobil. Mood Ibu hamil yang satu ini benar-benar tidak bisa diprediksi.


Sekarang, Lily tampak senang dengan senyum mengembang. Mata Lily berbinar saat Brian menyusul masuk ke dalam mobil. Lily dengan cepat memeluk Brian dari samping dengan sikap manjanya.


"Sayang, are you oke?" tanya Brian yang merasa sikap Lily benar-benar aneh.


"Lily sehat, Kakak jangan marah lagi. Lily cuma kangen sama Kak Aara dan baby kita baik-baik saja di dalam sana." Lily menarik tangan Brian dan meletakkan di atas perutnya. Matanya terlihat sangat menggemaskan dengan wajah merayu menggoda.


Melihat sikap Lily yang tiba-tiba manja, Brian tidak lagi bisa marah. Sekarang Brian begitu gemas dan kembali menarik Lily ke dalam pelukan. Rasa khawatir yang sejak tadi dia rasakan sudah mulai menghilang. Berulang kali Brian mengecup kening Lily dengan mengacak gemas rambutnya.

__ADS_1


"Jangan seperti itu lagi! Beruntung tadi Kakak cepat datang. Kakak tau kamu pasti rindu tetapi, kamu bisa melihatnya dari kaca pintu. Jangan sekali-kali kamu kembali nekat seperti tadi!" ucap Brian mengingatkan.


"Maaf..."


"Hhmm... Sekarang Kakak antar pulang ya!" ucap Brian dengan lembut. Pria itu segera melepas pelukannya kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman Baratajaya.


Setelah mobil memasuki pagar, Lily bergegas masuk ke dalam rumah. Mommy yang sedang duduk di sofa mengernyitkan dahi melihat penampilan Lily. Tadi setelah pulang dari rumah Tiara, Mommy memang sempat mencari Lily tetapi, beliau pikir Lily pergi bersama Brian. Dan memang benar jika beliau sekarang melihat Lily pulang bersama dengan Brian. Namun, Andini merasa aneh dengan pakaian dan jangan lupakan masker dan kacamata yang kembali Lily kenakan saat masuk.


"Ini penampilan kamu model apa sich Sayang?" tanya Mommy, beliau segera beranjak dari duduknya dan mendekati Lily.


"Keren ya Mom? Tetapi, kalian nggak pangling sama Lily," jawab Lily kemudian, memajukan bibir bawahnya.


"Bagaimana mau pangling? kalo perut kamu saja masih kelihatan seperti itu. Lagian kamu habis dari mana sich? Ini kan bajunya Rafkha Nak, anak-anak lagi pengen Bundanya berubah jadi rocker pakai pakaian hitam-hitam begini?" tanya Mommy yang terus memandang Lily dengan begitu heran.


"Aku tadi..."


"Lily habis dari kantor Brian Mom mungkin benar kata Mommy, anak-anak sedang ingin melihat Bundanya dengan gaya berbeda hari ini," sahut Brian. Dia tau Lily takut kena marah maka dari itu, Brian buru-buru menjawab pertanyaan Mommy.


Mommy menggelengkan kepala, beliau percaya dengan jawaban yang Brian katakan. Tanpa curiga sama sekali.


"Aneh, tapi ya sudahlah demi cucu-cucu Mommy, maaf ya Mommy jadi jarang di rumah. Mommy bolak balik ke rumah Tiara. Takut tiba-tiba ingin melahirkan pas Rafkha tidak ada di rumah."


Mommy mengusap rambut putrinya kemudian membuka masker yang Lily pakai. Beliau mengecup pipi Lily dengan gemas dan tersenyum melihat Lily yang terlihat manja.


"Nggak apa-apa Mom, kasihan juga Tiara tidak ada yang mendampingi. Kalo Lily kan masih lama lahirannya."


"Syukurlah kamu mengerti tetapi, jangan keluar rumah saat Mommy tidak ada ya Nak! Tetap jaga nama Daddy, ya walaupun suatu saat semua akan tau tetapi, untuk saat ini kamu sabar dulu. Sampai hubungan kalian sah di mata hukum dan agama."


Lily menarik dalam nafasnya kemudian menghembuskan dengan perlahan. Dia tersenyum melihat Mommy yang menatapnya dengan tatapan sendu. Kalau untuk sabar mungkin, Lily jagonya.


"Lily mengerti Mom," jawab Lily kemudian memeluk sang Mommy.

__ADS_1


"Sabarlah terus Lily! Karena anak sabar rejeki lancar," ucap Lily dalam hati.


__ADS_2