LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 107


__ADS_3

Brian mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu Lily keluar dari sana. Begitu gemas sekali setelah tadi berhasil menggoda dan membuat wajah Lily merona. Baru lima menit di tinggal mandi, Brian sudah begitu merindukan istrinya. Terlebih sang istri yang semakin cantik dan terlihat lebih menarik dari sebelumnya.


"Lama sekali," keluh Brian.


Brian terlihat begitu gelisah, berulang kali pria itu mendengus kesal dan mengusap kasar wajahnya. Lily betul-betul membuat Brian geregetan.


Brian mengetuk kembali pintu kamar mandi namun tak kunjung terbuka. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Lily di dalam sana.


"Sayang, kamu sedang mandi atau menyikat lantai kamar mandi?" seru Brian dan terus saja mengetuk pintu dengan tidak sabar. "Astaga Yank... Kamu membuatku rindu setengah mati," keluhnya lagi. Nampaknya mantan duda ini tak ingin sedetik pun jauh dari sang istri.


"Sa... "


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan Lily yang berbalut bathrobe. Ternyata sejak tadi Lily dilanda gelisah karena tak membawa pakaian ganti. Kopernya masih ada di dalam kamar yang semalam ia tempati. Itu yang membuatnya bingung untuk keluar.


Lily pun sedikit kesal dengan Brian yang begitu tidak sabar. Benar saja, pria itu ternyata menunggunya di depan pintu.


Brian menyapu pandang, menelisik penampilan sang istri yang begitu sexy. Matanya terjamu dengan paha Lily yang putih mulus dan belahan dada yang sangat menggoda.


Brian menelan saliva saat melihat butiran air yang jatuh dari wajah menuju belahan dada. Tarikan nafasnya mulai berat dan suaranya pun terdengar serak.


"Kak ak_"


"Aku bersih-bersih dulu sebentar, tunggu aku ya Sayang!" Brian mengecup gemas pipi Lily lalu segera melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Lily tercengang melihat Brian yang begitu semangat melesat dengan cepat. Lily menunggu dengan gusar, berharap Brian berlama-lama di dalam sana. Namun, belum ada sepuluh menit suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat jantung Lily berdegup kencang.

__ADS_1


Hembusan nafas Brian begitu terasa dengan tangan dingin yang melingkar mesra di tubuh sang istri. Brian merapatkan tubuhnya dengan menyesap dalam wangi tubuh Lily.


"Sayang ..." Suara serak Brian membuat tubuh Lily meremang. Hembusan nafas hangat menerpa tengkuk lehernya, menimbulkan gelayar aneh di tubuh Lily.


"Kak..." lirih Lily, wanita itu menggigit bibir bawah saat Brian membalikkan tubuhnya dan menyerang leher jenjang miliknya. Sesapan pun tak terelakan, meninggalkan jejak merah begitu banyak.


Kedua tangan Lily menjambak rambut Brian. Pria itu sungguh meresahkan, tak ada awalan manis di bibir yang membuat nafas tersengal. Brian langsung menyerang titik sensitifnya, mungkin karena bukan kali pertama dia menjamah tubuh sang istri.


Erangan dan lenguhan Lily menggelitik telinga Brian. Membuat hawa nafsu semakin membara dan sesapan semakin kuat. Brian menelusupkan kepalanya di sela dada Lily. Perlahan Brian mengangkat tubuh sang istri dan merebahkannya di ranjang pengantin mereka.


Ranjang besar bertaburan bunga mawar yang begitu menenangkan pikiran. Tatapan keduanya berkabut gairah. Malam yang indah akan segera di mulai.


Brian merendahkan tubuhnya, menggigit tali bathrobe milik Lily dan membuka selembar kain yang menutupi seluruh tubuh sang istri. Pria itu tersenyum miring melihat pemandangan yang indah di depan mata.


Matanya berbinar dengan rasa ingin yang besar. Ternyata Lily mempermudah kerjanya, wanita itu sudah tak berbalut apapun. Kain tipis yang biasa membungkus bagian inti tak ia pakai.


"Kak..."


Malam panas yang Brian impikan akhirnya terwujud dengan status halal dan suasana yang berbeda. Lidah Brian mulai menelusuri tubuh indah Lily yang menggoda. Menyesap setiap lekuk hingga meninggalkan bekas di hampir semua bagian.


Tak ada yang tertinggal dari sentuhan pria beranak dua itu. Brian mampu melumpuhkan sang istri, terbukti dengan bagian inti Lily yang tak kering lagi.


"Kak..."


"Kita mulai Sayang," ucap Brian dengan lembut. Brian mulai bergerak di atas tubuh Lily, semua terkesan indah dan melenakan. Terlebih tubuh Lily yang begitu wangi, sungguh memabukkan.


Brian memperlakukan dengan sangat lembut tanpa menyakiti dan hanya lenguhan indah yang keluar dari mulut Lily. Brian pun tidak memberi kesempatan untuk Lily beristirahat. Setahun tak menyatu membuat Brian khilaf dan begitu menuntut.

__ADS_1


Lily dibuat tak berdaya setelah tiga kali Brian meminta. Kini keduanya berpelukan di balik selimut tebal. Lily di buat kewalahan demi Brian yang menuntut kepuasan. Sepertinya Joni pun sudah kenyang dan ikut tertidur pulas.


Hampir siang keduanya masih anteng berbalut selimut. Matahari semakin bersinar terang menelusup celah gorden mengganggu mata Brian yang masih terpejam. Pria itu mengucek mata kemudian membukanya dengan perlahan. Senyum mulai terbit saat wajah cantik wanita yang masih tertidur pulas menyapa pandangannya. Brian mengecup kening Lily dan kembali memperhatikan wajah sang istri.


"Makasih untuk semuanya Sayang..." Brian mengecup pundak polos Lily dan kembali mendekap erat tubuhnya.


"Aish Jon... Jon. Semalem loe udah buat bini gue tepar, masak iya loe mau lagi?" Brian menghela nafas berat dengan menatap jengah si Joni yang kembali bereaksi. Mungkin karena tubuh mereka tak berjarak membuat si Joni gelisah.


"Kak, aku masih capek banget loh," keluh Lily dengan mata yang masih terpejam. Lily terbangun karena Brian kembali merusuh. Pria itu tak bisa menahan keinginan Joni yang ingin kembali bermain becek-becekkan.


"Sekali saja Sayang, kamu tau aku akan tersika jika dia terus terjaga." Brian menyambar bibir ranum milik sang istri. Bibir yang masih bengkak karena ulahnya semalam. Penyatuan pun tak bisa dihindarkan. Lily tampak pasrah, tubuhnya pun menerima baik dan melawan setiap gerakan Brian. Peluh yang sudah surut kembali membasahi keduanya.


"Terimakasih Sayang..." Brian mengecup gemas pipi Lily kemudian turun dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu. Dia membiarkan Lily kembali beristirahat.


Ketukan pintu membangunkan Lily, dia mencari keberadaan Brian yang masih berada di dalam kamar mandi. Perlahan Lily bangun dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Kakinya turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.


"Aduh sakit sekali sich... Sungguh keterlaluan Kak Brian, aku sampai sulit berjalan begini," keluh Lily yang ingin melangkah menuju kamar mandi untuk meminta Brian menyudahi mandinya.


Ketukan pintu pun tak kunjung henti, membuat Lily bingung sendiri. Tidak mungkin dia membukakan pintu di saat tubuhnya belum berbusana.


"Kak, masih lama?" seru Lily dengan suara keras. Dia mengetuk pintu kamar mandi sampai Brian keluar dengan handuk sebatas pinggang. Bagian dada Brian pun masih tampak basah. Butiran air mengalir di dada bidang pria itu memberi kesan sexy yang membuat Lily teringat betapa gagahnya pria itu semalam.


"Kenapa Sayang? Kok malah melamun?" tanya Brian dengan menatap heran. Dalam hati dia ingin tertawa melihat Lily melamun dengan wajah merona dan mata yang tak lepas dari dada bidangnya.


"Oh... Itu ada yang mengetuk pintu Kak. Tolong lihat ya Kak! Aku mau mandi dulu..."


Brian melirik ke arah pintu kemudian menganggukan kepala. "Mandilah! Jangan terlalu banyak melamun, nanti malam bisa kita ulangi lagi!" Dia mengacak gemas rambut Lily yang berantakan dan segera melangkah menuju koper untuk memakai pakaian terlebih dahulu.

__ADS_1


Lily menghela nafas kasar dan segera masuk ke dalam kamar mandi. "Bisa gempor aku Kak kalo terus menuruti keinginan kamu yang tidak ada habisnya."


__ADS_2