LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 68


__ADS_3

Lily menatap pria yang kini tak ada henti mengusap perutnya. Brian begitu gemas dengan perut Lily yang semakin membesar. Baru di tinggal satu Minggu saja sudah terlihat bedanya. Tubuh Lily pun semakin berisi saja, tepatnya lebih terlihat montook. Hal itu Brian berusaha membuang pikiran kotornya yang terus saja menggoda.


"Geli Kak, dari tadi mengusap perut Lily terus. Awas ya kalo modus!"


"Apa sich sayang? nggak ada modus, walaupun memang ingin." Brian segera menutup mulutnya yang kelepasan. Dia memejamkan mata dengan sedikit menundukkan kepala.


Lily memicingkan mata melihat Brian kemudian menyingkirkan tangan pria itu dari perutnya. Sungguh meresahkan sekali otak pria ini, ternyata sejak tadi sedang berpikir mesum.


"Sayang maaf, habisnya badan kamu bikin Kakak gagal fokus. Kakak nggak aneh-aneh kok Sayang, kali ini Kakak nggak akan mengulangi hal itu sebelum ijab sah di gelar. Serius...." Brian berusaha meyakinkan dan mengutamakan kesabaran. Jangan sampai Lily tidak mau lagi di dekati karena risih dengannya.


Lily menatap jengah dengan mengusap perutnya sendiri. Sejak tadi kedua anaknya merespon dengan baik. Mungkin mereka tau jika Ayahnya datang mengunjungi.


"Tapi perut kamu semakin besar loh, sudah berapa bulan sich?" tanya Brian yang ingin mengusap kembali namun segera di tepis oleh Lily.


"Lima bulan Kak, lusa waktunya periksa."


"Pantas saja sudah semakin pintar menendang, mereka sudah semakin besar. Kakak nggak sabar ingin melihat mereka." Brian sudah membayangkan akan menjadi Ayah yang baik untuk anak-anaknya. Bisa menjadi ayah teladan yang bisa terjun merawat langsung kedua putranya dengan baik.


Lily tersenyum menoleh ke arah Brian, mungkin akan sangat bahagia jika mereka sudah menikah. Tidak seperti sekarang, keberadaannya masih seperti di sembunyikan. Kalau saja hubungan mereka tidak seperti ini, Lily sudah membayangkan sebentar lagi belanja barang-barang bayi bersama suami. Hal itu pasti sangat menyenangkan sekali.


"Sedang mikir apa, hhmm?" tanya Brian.


Lily terhenyak kemudian menoleh ke arah Brian, dia tersenyum tanpa menjawab apapun lalu beranjak dari duduknya.


"Sudah malam Kak, Lily ngantuk."


Brian menarik nafas panjang kemudian ikut beranjak dari sofa. Brian tidak paham dengan apa yang Lily pikirkan, tetapi dia yakin ada yang mengganggu pikiran Lily saat ini.


"Ya sudah Kakak pulang ya, lusa Kakak usahakan untuk menemani kamu ke dokter kandungan, sekalian Kakak ingin menjenguk Aara."


"Menjenguk Kak Aara?" tanya Lily mencari kebenaran.

__ADS_1


"Hhmmm.....Kamu pasti merindukannya kan? Kita akan melihat dia, sekarang kamu istirahat dulu ya dan jaga anak kita!" Brian mengusap lagi perut Lily sebelum pulang.


Lily menganggukkan kepala, kemudian menarik jas Brian berulang kali. "Boleh kasih pesan juga buat Kakak?" tanya Lily dengan ragu.


"Apa sayang?" Brian mengusap pipi Lily dengan lembut. Brian begitu gemas melihat Lily yang menggigit bibir bawahnya. Mungkin wanita itu bingung ingin mengawali ucapannya.


"Jangan menyerah memperjuangkan Lily!" lirih Lily dengan kepala tertunduk. Lily menyembunyikan wajahnya yang sudah merona sekali, pipinya pun serasa memanas.


Tanpa Lily sadar ucapannya menjadi angin segar untuk Brian. Letupan kebahagiaan kembali mencuat dari dalam hati pria itu. Setelah badai menerjang, akhirnya Brian kembali mendengar ucapan manis dari Lily. Semanis permen tetapi bukan gulali melainkan rambut nenek yang sangat manis tapi ada krenyes-krenyesnya, Brian di buat geregetan.


"Kayaknya ini malem Kakak nggak bisa tidur dech," ucap Brian masih terus menatap wajah Lily.


"Loh kenapa?" Lily kembali memperhatikan wajah Brian yang senyum-senyum gaje.


"Nggak sabar pengen cepet bawa kamu ke KUA."


Lily kembali membuang muka, Brian ini pandai sekali membuat hati wanita hamil itu melayang tinggi.


Hari ini Lily sudah berdandan cantik, dia memoleskan make up-nya tipis-tipis dan memakai dress hamil selutut. Dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Brian pun sudah menghubunginya tadi, pria itu sedang otw menuju rumahnya untuk menjemput.


Sebenernya Brian sangatlah sibuk, tapi baginya Lily dan kedua anaknya adalah prioritas nomor satu. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya Brian sampai dengan mata berbinar. Bagaimana tidak jika turun dari mobil di sambut penampilan Lily yang beda dari biasanya.


"Manis sekali Sayang...."


"Jangan gombal Kak!" jawab Lily dengan wajah merona.


Mommy bergegas keluar setelah mendengar suara mobil Brian masuk ke halamannya. "Sudah sampai?"


"Sudah Mom..."


"Maaf ya Mommy merepotkan kamu, hari ini mommy juga ingin menengok Tiara yang mengeluh semalam badannya sakit semua. Makanya Mommy tidak bisa menemani Lily," ucap mommy dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tidak merepotkan Mom, ini sudah menjadi tugas Brian. Mommy hati-hati nanti ke sananya," ucap Brian.


"Titip salam untuk Tiara ya Mom," sambung Lily.


"Iya sayang, ya sudah kalian cepat berangkat! Sampai sana pasti masih ngantri. Mommy juga mau siap-siap dulu ya." Mommy kembali masuk ke rumah dengan terburu-buru. Sedangkan Lily dan Brian segera berangkat ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Brian segera mendaftarkan antrian untuk Lily. "Kamu tunggu di sana ya! Kakak mau daftar dulu." Brian menunjuk deretan kursi. Lily pun segera melangkah ke sana untuk menunggu Brian.


Tanpa di duga Lily melihat siluet pria yang sudah lama tidak ia temui, senyum Lily terukir dan buru-buru melangkah mendekati tepat di depan loket obat.


"Wahyu!"


"Lily!" Wahyu begitu terkejut karena tiba-tiba ada Lily di depannya, jujur dia merindukan Lily. Rindu bekerja dengan wanita itu dangan segala keribetannya.


"Kamu mau periksa?" Wahyu melihat perut Lily yang semakin membesar membuatnya gemas sekali dan reflek mengusap perut Lily.


"Iya, kamu ngapain kesini?"


"Ini tadi di minta Rafkha buat ambilkan obat Tiara, biasa asisten mah begini, serabutan kerjanya," jawab Wahyu kemudian mengajak Lily untuk duduk dengan menuntun Lily. Mungkin jika orang tidak tau, mereka akan mengira jika Wahyu dan Lily adalah pasangan suami istri.


"Iya tadi Mommy bilang Tiara lagi nggak enak badannya. Sudah move on?" tanya Lily dengan tersenyum manis.


"Sepertinya sudah dan memang wajib, jika tidak aku akan di penggal oleh Kakakmu. Kamu sendiri gimana? Sudah move on? Kita sudah lama loh nggak ngobrol-ngobrol. Kangen aku sama kamu."


"Berani loe kangen sama ibu dari anak-anak gue!"


Keduanya segera menoleh saat suara Brian begitu terdengar tajam di telinga, nampaknya pria itu emosi atau menahan cemburu yang membuatnya mendadak galak.


Tadi Brian sempat kelimpungan mencari Lily, di minta menunggu di kursi yang sudah dia tunjuk tetapi tiba-tiba kabur tanpa memberitahu. Tanpa di sangka setelah dia cari kesana kemari, justru Lily sedang asyik mengobrol tanpa mengingatnya dan menebar senyum pada pria lain. Terlebih Brian melihat wanita itu begitu bahagia. Rasanya Brian ingin murka tapi malu karena banyak orang. Alhasil dia datang dengan menekan emosinya tetapi tidak pandai menutupi hingga keduanya tau jika Brian sedang cemburu.


"Belum sah kan? Lagian Lily itu kangen kali sama gue, buktinya dia yang nyamperin gue duluan."

__ADS_1


Lily nampak tercengang dengan ucapan Wahyu, alamat dia yang kena amuk. Wahyu kebangetan jujur membuat masalah baru, ingin rasanya Lily kabur dari tatapan tajam Brian yang begitu menusuk kalbu.


__ADS_2