
Brian mengecup kening Lily, dia mengulum senyum melihat wajah Lily yang nampak tegang, kemudian mengusap perutnya lalu kembali mendekatkan diri untuk mengecup bibir Lily.
cup
"Kita makan dulu ya, kalian pasti lapar kan?"
Brian kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalan menuju restoran. Brian sadar betul jika ancamannya akan membuat Lily takut karena, memang ancaman di layangkan untuk membuat Lily berpikir ulang untuk kembali bercakap dengan pria lain.
"Kak, apa kah berlaku dengan semua pria?"
"Hhmm...."
Lily menggelengkan kepala, pria ini benar-benar sudah Bucin akut. Mungkin jika Daddy dan Rafkha tidak sedarah dengannya, sejak kemarin sudah membuat pria itu uring-uringan.
Setelah makanan datang keduanya begitu lahap menikmati makanan tersebut. Brian melirik Lily yang nampak cuek dengan tiga porsi makanan dengan menu yang berbeda sedang di habiskan satu persatu. Brian menahan tawa saat melihat Lily mengunyah dengan pipi mengembang.
"Pelan-pelan makannya!" lirih Brian membuat Lily mendongakkan kepala dengan kunyahan yang dia hentikan.
"Makan kak, jangan lihatin aku terus!" ucap Lily dengan suara yang tidak jelas karena makanan yang masih memenuhi mulutnya. Brian pun hanya tertawa kecil kemudian melanjutkan makannya.
Sampai di rumah, Lily segera di antar oleh Brian menuju kamar. Kebetulan di rumah tidak ada orang karena Mommy dan Daddy belum pulang. Hal itu di jadikan kesempatan untuk Brian mengantar sampai ranjang. Anggap lah sekali mendayung dua tiga kecupan bersambut.
"Kakak mau langsung pulang atau masih balik ke kantor?"
__ADS_1
"Kalo boleh aku malah mau menginap di sini," jawab Brian yang kini sudah masuk ke dalam kamar Lily.
Lily yang sedang meletakkan tasnya dengan cepat menoleh ke arah Brian. Dia menatap tajam pria itu kemudian melangkah mendekati dengan tangan mengusap perutnya.
"Mau aku adukan ke Kak Rafkha?" tanya Lily dengan seringai tipis mengejek Brian.
"Jangan donk sayang, masalah perceraian saja belum selesai. Bagaimana jika di tambah dengan masalah ini, yang ada Kakak tidak bisa menemui kamu lagi." Brian menghela nafas berat, selain banyak pekerjaan di kantor. Brian pun sibuk memikirkan masalah surat perceraian yang di minta oleh Rafkha sebagai syarat untuk menikahi Lily.
"Maka dari itu, pulanglah Kak! Jangan membuat masalah baru yang semakin menyulitkan hubungan kita!"
Brian menganggukkan kepala dan pamit untuk kembali ke kantor. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Lily sendirian di rumah, namun setelah mengingat kembali akan hubungan mereka yang rumit, membuat Brian berpikir ulang untuk berulah.
Keesokan harinya Brian datang sendiri ke rumah sakit untuk menengok Aara. Dia menyempatkan diri dari kesibukannya sekaligus menanyakan perkembangan perihal kondisi Aara kepada Papah Bayu. Sudah beberapa hari ini Brian sulit sekali bertemu dengan Papah Bayu karena kesibukan keduanya.
"Assalamualaikum Aara..." Brian hanya diam berdiri di samping ranjang Aara tanpa berani menyentuh wanita itu. Bukan karena takut, tetapi karena tidak tega menyentuh tulang yang berbalut kulit tersebut. Brian yakin, jika Lily mengetahui ini pasti tidak akan mampu. Beruntung dia kemarin tidak jadi mengajak Lily untuk mampir.
"Ra, gue nggak nyangka loe masih bisa bertahan sampai di detik ini dengan kondisi loe yang sangat mustahil di katakan masih bernyawa. Jika masih ada secercah harapan, gue berharap loe kembali sehat. Berkumpul lagi dengan keluarga dan menata kembali hidup loe. Semangat Ra! Lily dan semua keluarga loe sangat menyayangi, dan sebentar lagi, keponakan loe akan lahir, apa loe tidak mau melihat anak Rafkha? Pasti ada sedikit wajah loe di bayinya yang akan lahir nanti."
Brian tersenyum dengan menahan sesak, dia yakin jika Aara pasti mendengarnya. Maka dari itu Brian ingin menceritakan kehidupan di luar sana untuk kembali memberi semangat untuk wanita itu.
"Ra, kemarin gue habis memeriksakan kandungan Lily. Anak kami sangatlah sehat, Lily pun bahagia melihat gambaran kedua putra kami." Brian mengeluarkan hasil foto USG yang dia bawa. "Lihat Ra! calon keponakan loe ada dua, anak Lily dan gue kembar. Terimakasih telah menjebak kami, kami tidak lah marah begitupun dengan Lily. Ini anugerah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semoga saat mereka lahir, loe sudah kembali sehat dan bisa melihat keponakan-keponakan loe yang lucu-lucu."
Brian tersenyum melihat foto itu dengan menahan sesak di dada. Andai Aara melihatnya pasti akan sangat bahagia dan kembali bersemangat untuk sembuh. Karena Brian masih ingat di saat Aara mengatakan jika dia begitu bersemangat untuk hidup, setidaknya sampai bisa menggendong anak Lily.
__ADS_1
Setelah bercerita panjang lebar pada Aara, Brian pun segera keluar dari ruangan itu kemudian melangkah menuju ruang kerja Papahnya. Tanpa Brian sadar, ada orang yang menahan sesak dan isak di balik pilar.
Lily diam-diam datang berkunjung, mengetahui Mommynya yang sedang sibuk mengurus Tiara, hal itu di jadikan kesempatan untuk dia keluar dari rumah. Penampilan Lily pun berbeda, dia mengenakan masker dan kaca mata. Lily juga tidak mengenakan dress hamil, melainkan mengambil kaos di lemari Rafkha dan celana hamil.
Sejak tadi Lily memperhatikan Brian dari luar, dia melihat Brian terus berbicara dengan wajah sendu dan mengeluarkan foto hasil USG kedua anaknya. Hal itu sangatlah membuat Lily terharu, apa lagi saat matanya melihat bagaimana keadaan Aara saat ini. Rasanya tubuh Lily seperti tak bertulang hingga begitu lemas.
Lily kembali melangkah ke arah pintu ruangan setelah memastikan Brian sudah tidak terlihat. Dia kembali melihat dari jendela, Aara yang masih diam berbaring koma.
"Kak, Lily rindu. Bangun Kak! Kembali seperti dulu lagi di saat cuma gue yang loe punya buat teman curhat."
Ingin rasanya Lily masuk, dia melihat handle pintu itu dengan perasaan yang tak karuan. Tangannya terulur untuk meraihnya agar bisa membuka dan masuk ke dalam. Jika boleh justru Lily ingin sekali merawat Aara setiap hari, tetapi bagiamana caranya dia bisa leluasa keluar masuk ruangan tersebut tanpa ada yang tau.
"Kuat ya anak-anak Bunda, Bunda ingin bertemu dengan Mamah Aara." Lily sudah memberikan panggilan khusus untuk Aara. Dia ingin anak-anaknya kelak memanggil Aara dengan sebutan Mamah, agar Aara pun merasakan kasih sayang kedua anaknya layaknya anak sendiri.
Lily menarik nafas dalam sebelum akhirnya meraih handle pintu itu. Dia memejamkan mata sebelum membuka pintu ruangan tersebut.
ceklek
Perlahan mata Lily terbuka, dia sudah membuka pintu ruangan itu. Saat nya kini dia masuk kedalam untuk bertemu Aara secara langsung. Satu langkah begitu berat namun berhasil dia ayunkan. Lily berharap tidak ketahuan tim medis yang lewat, melihat kondisinya yang sedang hamil besar.
"Bismillah..." Lily membenarkan maskernya, bahkan sebelum taksinya berhenti di depan rumah sakit, Lily telah memasangkan masker yang kedua.
Lily kembali melangkah masuk dan melepas genggamannya di handle pintu. Semua Lily lakukan dengan perlahan, tetapi saat tubuhnya sudah barada di dalam dan ingin menutup pintu. Lily merasakan pintu tertahan dari luar.
__ADS_1