LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 77


__ADS_3

Di kamar Aara, saat ini ada Mommy dan Daddy yang menemani sang putri. Aara sedang menerima suapan demi suapan makanan yang Mommynya berikan. Dengan perlahan dia menerima tanpa ada penolakan. Namun, Aara sejak tadi hanya diam tidak ada niat membuka suara. Mommy dan Daddy sesekali saling memandang dengan hati bertanya-tanya. Sikap Aara pun berbeda dengan kemarin saat dia baru membuka mata kembali.


"Sudah Mom!" ucap Aara perlahan. Mommy segera menyudahi dan membereskan tempat makan. Beliau memang tadi sengaja membelikan makanan untuk Aara di resto terdekat agar Aara lebih bersemangat untuk makan.


"Mau buah Sayang?"


"Tidak Mom, aku mau bicara..." Perlahan Aara menoleh ke arah Daddy dan Mommy. Keduanya dengan hati was-was menunggu apa yang akan Aara bicarakan pada mereka. Daddy pun melangkah mendekati keduanya dan mengambil kursi untuk duduk di dekat ranjang Aara.


Mommy dan Daddy menatap Aara yang terdiam dengan banyak pikiran, terlihat sekali gurat kegelisahan di wajah putrinya. Perlahan Daddy mengusap tangan Aara agar tenang dan bisa memulai pembicaraan. Beliau tau betul apa yang sedang Aara pikirkan saat ini. Sudah dapat dipastikan tentang pernikahannya dengan Brian.


"Mom...Dad...Aara minta maaf," lirih Aara diiringi dengan jatuhnya bulir air mata yang tak mampu dia tahan.


"Sayang..." Mommy pun tak kuasa menahan kesedihan, sang putri dinyatakan telah sembuh total tetapi, dengan sikap Aara seperti ini seakan dia akan pergi jauh meninggalkan hati yang mulai sulit untuk kembali mengikhlaskan.


Raihan mengusap pundak sang istri dengan perlahan, sebagai Ayah dia harus lebih kuat. Dia yang lebih harus bisa menenangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Raihan menganggukkan kepala agar Aara kembali meneruskan ucapannya. Beliau ingin memberi kesempatan untuk Aara mengungkapkan segala ganjalan di hati. Terlebih setelah banyak hari yang telah mereka siakan tanpa komunikasi.


"Aara minta maaf belum bisa menjadi putri yang Mommy dan Daddy banggakan. Aara telah membuat keluarga kita dalam masalah. Aara telah menjadi anak yang kurang ajar. Biang keladi dari masalah yang terjadi. Maafkan Aara Mom, Dad...Hiks...Hiks..."


Aara terisak dengan hati yang teramat penuh penyesalan, dia yang telah membuat malu keluarga, bukan Lily dengan kehamilannya. Beruntung sampai sekarang kabar kehamilan Lily masih terjaga, meskipun Lily seperti barang yang di sembunyikan dari mata khalayak ramai, terpaksa menghentikan segala aktifitas di luar, dan berhenti berkarir selama ada janin yang tumbuh di rahimnya.


Aara mengusap air matanya, jemari yang jauh dari kata lentik itu berusaha mengeringkan pipinya yang basah. Aara menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan perlahan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan semburat kesedihan yang tercetak jelas.


"Aara bukan Kakak yang baik untuk Lily, Aara sudah menghancurkan hidup adik kandung Aara sendiri. Menghancurkan hati keluarga terutama Mommy dan Daddy. Mungkin di keluarga lain sikap Aara sudah tidak dapat termaafkan lagi. Dosa Aara membuat banyak hati yang menjadi korban. Jika bukan Mommy dan Daddy mungkin Aara sudah tidak di anggap anak lagi. Maafkan Aara..."


Mommy menyurut air mata dengan Daddy yang menundukkan kepala agar tidak terlihat lemah. Permintaan maaf Aara sangatlah penting baginya tetapi, menjadi hal yang sangat menyesakkan untuk kedua orang tuanya.


Ini penyesalan yang sangat besar dalam hidup Aara, sebelumnya pernah ada di fase ini, namun belum sedalam hari ini. Saat sakit Aara telah meminta maaf, tetapi belum setulus sekarang. Kesadaran itu hadir bukan karena tubuhnya yang sakit tetapi, hatinya yang benar-benar sadar dan membenarkan apa yang Gibran ucapkan. Umur tiada yang mengira, hari ini sehat, belum tentu besok masih bisa bernafas.

__ADS_1


"Aara telah melibatkan banyak orang untuk meraih kebahagiaan Aara sendiri, terutama Lily, adik yang tulus menyayangi tetapi selalu tersakiti. Dan kali ini Aara ingin meminta tolong pada Daddy, satu hal permintaan Aara yang terakhir."


"Sayang jangan bicara demikian!" Mommy tak sanggup lagi mendengar segala celotehan Aara, sebagai Ibu jelas dia kecewa. Namun, melihat Aara sudah kembali membuka mata saja rasanya beliau sangat bersyukur dan bahagia.


Mommy segera memeluk tubuh ringkih Aara, begitu pun dengan Daddy yang serasa tidak sanggup lagi menahan sesak di dada. Ketiganya menangis dengan dekapan saling bersambut. Tanpa mereka tau ada hati yang tak kalah sedih berdiri di ambang pintu dengan pelukan hangat pria yang terus mendampingi. Dia mendengar semua keluh kesah dan permohonan maaf sang Kakak. Namun, tidak berani untuk mendekati dan merusak suasana haru antara Aara dan kedua orangtuanya.


Perlahan Brian membawa Lily keluar dari kamar Aara, dia membawa Lily ke taman untuk lebih rileks dengan mencari udara segar. Hati Lily sejak kemarin di buat tak karuan akan Aara yang kembali menganggap Brian sebagai suami, dan tadi dia melihat Aara seperti telah menyadari.


"Apa Kak Aara sudah ingat akan status kalian?" tanya Lily dengan menatap lekat wajah Brian.


Brian tidak langsung menjawab, dia tersenyum dengan mengusap lembut pipi Lily. Tangannya turun menggenggam tangan Lily dengan lembut. Hati Brian tersentuh mendengar pertanyaan Lily, pertanyaan yang mengisyaratkan akan kegelisahan dan ketakutan.


"Mudah-mudahan ya..." Brian tersenyum, merangkul pundak Lily dan mengecup keningnya secara perlahan.


"Mau pulang sekarang? Atau mau menemui Aara? Tadi sebelum Kakak jemput kamu, Aara berpesan sama Kakak, dia ingin bertemu sama kamu."


"Lily belum siap Kak, boleh langsung pulang saja?" tanya Lily tanpa menoleh ke arah Brian.


Brian tidak banyak bicara, menjaga kenyamanan Lily adalah yang utama. Perlahan dia mengajak Lily untuk cepat pergi dari sana dan pulang agar Lily bisa leluasa beristirahat di rumah. Tak masalah baginya hati ini Lily belum mau bertemu, mungkin masih ingin menenangkan diri. Tetapi Brian berharap Kakak beradik itu tidak terus hidup dalam masalah batin yang terus menjadi batu sandung keduanya.


Sampai di rumah, Lily segera naik ke kamar untuk berganti pakaian. Brian dengan sabar menunggu di bawah, dia melangkah ke dapur untuk membuat kopi dan susu hamil untuk Lily. Sempat melirik tudung saji yang ternyata tak berpenghuni, dengan cepat Brian meraih ponselnya untuk memesan makanan untuk makan siang yang tertunda.


"Kakak buat apa?" tanya Lily yang melangkah perlahan menuruni tangga.


"Pelan-pelan Sayang!" seru Brian mengingatkan. "Ini Kakak buatkan kamu susu, di minum ya! Sebentar lagi makanan yang Kakak pesan juga datang. Kamu belum makan siang kan?" tanya Brian yang kemudian duduk di samping Lily.


"Bahkan dari pagi si kembar belum di beri makan."

__ADS_1


Brian menghela nafas kasar, dia lupa jika kabar kelahiran cucu pertama keluarga Baratajaya membuat geger para orang tua. Mereka begitu antusias sampai Lily pun lupa di tinggali makanan.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" Gemas sekali rasanya, Brian menatap geregetan wanita hamil yang kini malah menatapnya dengan cengengesan.


"Aku kasih susu sampai dua gelas, biar adil dan nggak berantem di dalam sana." Sebenarnya bisa saja Lily memesan makanan tetapi, karena moodnya sudah hancur sejak semalam membuatnya malas untuk makan.


"Setelah ini makan yang banyak, jika perlu aku pesan lagi makanan buat kamu ya! Aku takut kamu tidak kebagian karena kedua anak kita makan begitu lahap." Brian segera meraih ponselnya namun, dengan cepat Lily menghentikan.


Yang benar saja dia harus makan banyak, sedangkan dia baru saja menghabiskan segelas susu.


"Nanti kalo kurang baru pesan lagi Kak, nggak baik kalo nanti nggak dimakan. Mubazir Kak!" ucap Lily mengingatkan. Alhasil Brian mengalah kemudian mengusap perut Lily dengan menempelkan sebelah telinganya.


"Kenapa Sayang? Oh nggak di kasih makan sama bunda? Biar saja nanti Bunda kalian Ayah hukum ya." Brian melirik Lily yang tercengang melihat tingkahnya. Sekuat tenaga Brian menahan tawa setalah melihat wajah imut Lily. Brian kembali mendekati lagi telinganya di perut Lily.


" Apa Sayang? Mau minta Ayah tengok? Oh siap, Ayah tanya bunda dulu ya Sayang, semoga di ACC."


Brian kembali duduk dengan benar, dia mengulum senyum melihat wajah Lily yang sudah berubah merona.


"Gimana Bun? Anak-anak minta di tengok Ayahnya, lanjut nggak? Mumpung sepi loh!" Rasanya Brian sudah tidak tahan menahan tawa, terlebih melihat bola mata Lily yang melebar dengan mulut terbuka.


"Gimana?" tanya Brian lagi. "Ayo!" Brian sudah mulai beranjak dari sofa kemudian menarik lembut tangan Lily. Namun, dengan cepat Lily menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang tubuh.


Dengan cepat Lily menggelengkan kepala, menggigit bibir bawahnya dengan melirik ke arah pintu depan yang terbuka.


"Kakak bantu aku kabur! Aku nggak mau di itu," rengak Lily.


Tawa Brian pecah mendengar ucapan Lily, bagaimana bisa Lily meminta di bantu kabur pada orang yang akan menidurinya. Begitu menggemaskan sekali calon istrinya itu, hingga Brian teringat saat Lily memintanya untuk menyembuhkan dia dari pengaruh obat. Mata penuh permohonan itu selalu meluluhkan kan.

__ADS_1


__ADS_2