LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 62


__ADS_3

Saat ini Brian telah berada di dalam ruangan Aara, sedangkan Mommy dan Daddy menunggu di luar. Brian tak banyak bicara, hanya diam dengan berulangkali membuang nafas kasar. Tapi doa tak lupa terangkai di dalam hati.


Brian mengusap pipi Aara dan membisikkan sesuatu di telinga Aara, lalu keluar dari ruangan itu. Brian kembali membuka pakaian khusus. Hanya satu orang yang boleh masuk, itupun tidak boleh menunggu di dalam. Kemudian dia kembali menemui Raihan dan Andini untuk pamit ke kamar Lily.


"Mom, aku mau ke kamar Lily. Mommy dan Daddy mau ikut?"


"Iya, Mommy mau bertemu dengan Lily. Daddy juga?" "Hhmm....."


Ketiganya pergi ke kamar Lily, mereka masuk dan melihat Lily yang nampak diam termangu. Mommy melihat ke arah Brian dan suaminya secara bergantian. Tidak tega rasanya harus kembali melihat putrinya bersedih.


"Mungkin Lily sedang butuh kamu, kami akan keluar."


" Iya."


Daddy paham perasaan putrinya saat ini, kemudian beliau mengajak Brian untuk pergi ke kantin sekedar untuk membeli kopi dan mencari angin.


Andini menarik nafas dalam-dalam sebelum menutup pintu dan mendekati putrinya. Terlihat sekali wajah Lily penuh beban. Ekor matanya pun masih basah, mungkin sejak tadi Lily tak henti menangis karena memikirkan Aara.


"Sayang...."


Lily menoleh ke arah Andini, dia kembali tidak bisa menahan tangis. Dengan cepat Lily segera meraih tubuh sang Mommy dan memeluk beliau dengan erat.


"Kak Aara Mom....hiks ..hiks...."


"Ikhlas sayang ....Apapun yang terjadi kita harus bisa menerima. Ini semua sudah takdir dari yang pencipta. Mommy sama halnya dengan kamu, begitu hancur dan tak sanggup melihat anak Mommy sakit. Tapi Mommy dan Daddy berusaha untuk ikhlas Nak, semua yang terjadi sudah di gariskan oleh Allah. Dan kita hanya manusia yang melakukan perannya saja."


"Tapi ini karena Lily Mom....Ini salah Lily....Lily yang merebut kebahagiaan Kak Aara...hiks....andai Lily tau sakitnya Kak Aara sangat parah, pasti Lily tidak akan mau menerima Kak Brian Mom....hiks....hiks..."


"Sssttt......Kamu bicara apa Sayang? Ini bukan salah kamu! Tidak boleh menyalahkan diri sendiri Nak! Justru Aara yang ada salah sama kamu. Tapi kamu sudah memaafkan Kak Aara kan?" tanya Mommy yang sudah melepas pelukannya.

__ADS_1


Lily menganggukkan kepala dengan terus menangis, tentu saja dia sudah memaafkan Kakaknya. Bahkan sejak kejadian tadi Lily sudah melupakan kesalahan yang Aara lakukan.


"Terimakasih ya Sayang....Lily anak baik. Jangan salahkan diri Lily lagi! Kak Aara telah mengakui kesalahannya lalu meminta kamu dan Brian bersatu. Jadi jangan buat dia kecewa Sayang, apapun yang terjadi nanti, Mommy harap kamu harus ikhlas. Dan terimalah Brian lagi, kasihan dia Ly. Sejak dulu Brian sudah seperti anak Mommy sendiri dan Mommy tidak mau kehilangan menantu sebaik dia. Lily mengerti kan maksud Mommy?" Kali ini Andini melupakan dirinya yang tidak mau kembali ikut mengurusi masalah anak-anaknya setelah melihat Lily yang begitu kalut. Dan dia berharap Lily bisa cepat berdamai dengan keadaan.


Lily tidak menjawab pertanyaan Mommy, dia kembali memeluk Mommynya. Rasa bersalah masih belum bisa Lily hilangkan, namun cukup tenang setelah bisa mendengarkan nasihat Mommy. Terlebih Lily melihat kedua orang tuanya sudah ikhlas dengan apapun yang akan terjadi. Tinggal dirinya yang masih begitu terkejut dengan kenyataan yang menamparnya pagi ini.


Setelah Lily sedikit tenang, Mommy meminta Brian dan Daddy untuk kembali ke kamar Lily. Meraka lega melihat Lily yang sudah tidak lagi termenung. Keduanya pun mendekati Lily dan Mommy yang sedang menyiapkan makan siang untuk Lily.


"Biar Brian saja Mom, Mommy juga makan dulu sama Daddy. Dari pagi belum makan kan? Biar Lily, Brian yang suapi."


Lily melirik ke arah Brian, tapi tidak ada niat untuk menolak karena tak ingin merasakan penolakan kedua anaknya jika dia sok-sokan menolak niat baik dari Ayah kedua putranya.


"Ya sudah, Mommy makan dulu ya sama Daddy. Mau makan dimana Dad?" tanya Mommy yang sengaja ingin memberi waktu untuk Brian dan Lily. Padahal bisa saja beliau makan di sofa kamar Lily karena Mommy yang sudah membawa makan siang dari rumah.


"Kita ke taman saja, ayo!" ajak Daddy. "Daddy dan Mommy keluar dulu ya sayang!"


"Iya Dad..."Lirih Lily, kemudian berusaha untuk duduk dengan di bantu oleh Brian.


"Sudah kenyang?"


"Sudah, makasih Kak..." lirih Lily.


Brian tersenyum dan mengusap perut Lily, "ini sudah kewajibanku, cepat sembuh ya. Biar nanti bisa cepat pulang. Sudah nggak betah kan disini?"


"Iya, aku mau pulang Kak, emmmm......Bagaimana dengan keadaan Kak Aara?" tanya Lily yang tadi belum sempat menanyakan keadaan Aara pada Mommynya.


Brian menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Sebenarnya dia enggan menjawab karena tidak ingin Lily kembali kepikiran. Tapi jika di tutupi, Brian takut Lily penasaran dan mencari tau sendiri.


Brian meraih tangan Lily, dia mengecup tangan Lily dan mengusap lembut dengan terus menatap lekat wajah Lily yang sembab.

__ADS_1


"Tapi aku harap tidak membuatmu terbebani!" ucap Brian dengan lembut.


"Aku sedang berusaha Kak."


"Aara koma dan Dokter sudah angkat tangan. Aara butuh doa kita dan Kakak berharap kamu bisa menerima ini semua ya..." Brian melihat tak ada air mata yang kembali terurai, mungkin Mommy sudah banyak memberi wejangan pada Lily. Dan benar apa yang di katakan Lily jika dia sedang berusaha saat ini.


"Lily masih sulit Kak untuk menerima semuanya, rasanya ini semua seperti mimpi buruk. Lily rindu dengan kebersamaan kita bertiga. Kak Aara sosok wanita yang kuat, dia tidak pernah mengeluh sejak dulu. Dan melihat dia berjuang sendiri membuat aku sebagai adik merasa tidak berguna. Lalu di saat dia ingin meraih kebahagiaan, justru aku menjadi penghalang."


"Jangan terus menyalahkan diri sendiri sayang...Sejak awal kamu tidaklah salah. Hanya kita yang sama-sama tidak mau mengakui perasaan. Andai Aku sejak awal mengungkapkan cinta sama kamu, mungkin tidak akan ada cinta segitiga. Jadi bukan kamu yang salah ..." Lily tampak diam memikirkan sesuatu, lalu dia membalas pegangan tangan Brian lalu menatap Brian dengan wajah penuh harap.


"Kak....Mau melakukan sesuatu untuk Lily?"


Brian menyandarkan tubuhnya di kursi, dia berpikir apa lagi yang akan Lily lakukan. Sungguh dia tidak akan sanggup jika harus kembali berpisah.


"Kak...."


"Kamu mau apa?" Tanya Brian dengan hati tidak tenang.


"Aku mau menikah dengan Kakak asal salah satu anak ini menjadi anak Kakak Aara."


"Tapi kan...."


"Tidak ada yang tidak mungkin Kak, anggap aku barter dengan Kak Aara. Dan aku berharap mukjizat itu akan datang."


Brian menghela nafas berat, dia tidak tau harus menjawab apa. Brian pun tidak mengerti dengan pikiran Lily, mana mungkin Lily menganggap dia dan anaknya seperti barang yang bisa di tukar sesuka hati.


...****************...


Man teman.....Makasih yang sudah dukung Lily dan Brian. Jangan lupa vote ya...🤗 likenya juga hehehe.....

__ADS_1


Oh ya.....Othor bingung nich, Aara mau di buat sembuh atau meninggoy? Coment ya....


__ADS_2