LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 95


__ADS_3

Lily tampak merengut setelah keluar dari toko pakaiaan dalam. Malu sekali di saat salah satu pelanggan bertanya tentang warna yang tadi diminta oleh Brian. Sepertinya wanita itu melihat saat keduanya berinteraksi tadi. Bahkan Lily pun begitu kesal saat banyak mata wanita yang melihat Brian dengan tatapan gemas. Ingin sekali Lily membungkus wajah Brian dengan paper bag agar tidak terus dipandangi seperti barang jual.


"Kenapa sich Sayang?" tanya Brian setelah sadar jika Lily menahan kesal.


"Kakak sengajakan ngajak aku ke sana karena ingin tebar pesona dengan para wanita? Kenapa tidak sekalian saja kakak berdiri di samping patung wanita dengan memakai sempaak?" celetuk Lily.


Brian tercengang mendengar ucapan Lily, namun sesaat kemudian tawanya pecah setelah sadar jika Lily cemburu.


"Kok malah ketawa?" tanya Lily gemas.


"Karena kamu tuh lucu, cemburu kok gitu. Emangnya rela bagi-bagi kalo aku berpose seperti itu di sana?" tanya Brian menggoda. Tatapan matanya begitu meledek, dia merasa bahagia dicemburui oleh Lily namun, merasa lucu mendengar ucapan Lily tadi.


"Kakak! Silahkan sana tapi jangan lagi sentuh Lily, karena Lily tidak terima barang obralan!" ketus Lily dan melangkah lebih dulu. Brian pun dengan cepat mengejar. Pria itu mendadak cemas karena Lily terlihat marah.


"Sayang... Sayang tunggu dulu!" Brian manarik tangan Lily yang sudah ingin menaiki taksi. Dia segera membawa Lily menuju basement kemudian meminta Lily dengan sedikit memaksa agar masuk ke dalam mobil.


Setelah memasukkan semua belanjaan di jok belakang, Brian segera masuk dan duduk di kursi kemudi. Dia menoleh ke arah Lily yang nampak merengut tanpa mau menoleh ke arahnya.


"Sayang..." Brian meraih tangan Lily dan memintanya untuk merubah posisi hingga kini keduanya saling berhadapan.


"Jangan marah donk, Kakak kan cuma bercanda." Brian mengusap pipi Lily dengan sayang lalu perlahan mengecupnya. "Hati, raga, dan jiwa Kakak hanya terpaut sama kamu. Meskipun banyak wanita cantik dan sexy di luaran sana yang begiu menggoda, nggak akan membuat Kakak goyah. Sinyal kamu lebih kuat dari pada mereka. Jadi kamu tenang saja ya Sayang," ucap Brian dengan begitu lembut.


Lily mengulum senyum menatap Brian, agaknya ucapan Brian berhasil membuatnya luluh. Memang Lily akui meskipun tadi banyak wanita yang memperhatikan pria itu tetapi, mata Brian hanya tertuju padanya dan tidak oleng kemana-mana. Hanya dirinya saja yang kesal melihat miliknya dijadikan bahan tontonan.


"Love you..."

__ADS_1


Lily tidak menjawab, dia memberanikan diri mengecup pipi Brian. Hal langka yang Lily lakukan bahkan Brian nampak terperangah dengan mengusap pipi yang masih begitu terasa bibir Lily.


"Boleh nambah nggak?"


"Ikh dasar soang, nggak boleh sebelum hari pernikahan!" Tangan Lily dengan cepat menutupi bibir Brian yang bergerak maju ingin menuju bibirnya. Lily berusaha menghindar, karena akan jadi bahaya jika sudah saling bertukar saliva. Lily tidak yakin Brian akan mampu menahan terlebih pria itu sudah pernah merasakan.


"Dikit saja Yank, pelitnya!"


"Nggak boleh Kak, tunggu seminggu lagi, oke!" Lily menahan tawa melihat tubuh Brian yang seketika melemas. Pria itu menghela nafas berat kemudian segera melajukan mobilnya untuk pulang.


"Mampir di restoran favorit kita dulu ya, nanti setelah itu baru kita pulang. Kakak laper, kamu juga kan?"


"Sebenernya pengen cepat pulang Kak, udah nggak nyaman banget. Ingin buru-buru di pompa tetapi kalo Kakak laper ya sudah mampir dulu nggak apa-apa dech," jawab Lily.


Brian melirik dada Lily yang semakin membesar. Sepertinya memang sudah sangat penuh sekali tetapi, keduanya belum makan sejak siang dan bisa-bisa sampai di rumah pun Lily tidak sempat makan karena sudah kelelahan.


 "Kak, jangan mulai dech!"


Kini keduanya telah sampai di restoran favorite mereka. Tak banyak yang Lily pesan karena sudah begitu tidak nyaman. Brian pun paham dan segera menghabiskan makanannya yang sudah datang. Keduanya memutuskan untuk segera pulang setelah menghabiskan makanan mereka.


Sampai di rumah tepat pukul sembilan, rasanya tubuh Lily sudah pegal-pegal karena sudah lama tidak pergi ke mall dan menghabiskan waktu untuk berbelanja. Dulu dia sering sekali menghabiskan waktu dengan Aara dan juga Tiara. Namun, setelah Tiara kembali dengan kakaknya dan sikap Aara yang berubah, Lily menjadi kesepian. Dia pun sudah tidak lagi bisa kumpul bareng dengan keduanya.


"Kakak mau mampir dulu?" tanya Lily saat bersiap ingin turun.


"Sepertinya Kakak langsung pulang. Titip salam saja kepada Mommy dan Daddy, ucapkan terimakasih kepada beliau. Serta sampaikan maaf karena sudah merepotkan."

__ADS_1


"Nanti Lily sampaikan, Kakak hati-hati ya!" Lily bersiap untuk turun namun dengan cepat Brian mencegahnya. Brian menarik tubuh Lily lalu mendekapnya dengan erat. Brian pun menghirup banyak-banyak aroma tubuh Lily karena setelah malam ini keduanya tidak akan bertemu selama seminggu.


"Kakak pasti akan sangat merindukanmu Sayang." Brian mengecup kening Lily begitu dalam dan mengecup bibir Lily tanpa menyesap, hanya singkat kerena Brian pun tak ingin khilaf.


Brian melihat wajah Lily berubah merona, gemas sekali rasanya melihat wajah imut sang kekasih.


"Mau lagi? Mumpung Kakak belum pulang nich, besok kan udah nggak boleh ketemu."


Lily tidak menjawab tetapi dengan cepat dia kembali memeluk Brian. Lily juga merasakan hal yang sama dengan Brian. Sangat berat untuk berpisah, terlebih setelah seharian keduanya bersama.


"Sampai jumpa di pelaminan Sayang. Siapkan jiwa dan ragamu untuk menjadi istriku! Mulai minggu depan kamu tidak akan aku lepaskan lagi," bisik Brian membuat tubuh Lily meremang dan segera melepaskan pelukannya.


"Kakak mengerikan sekali."


"Karena anak soang tidak akan melepaskan miliknya sebelum terkapar." Brian tersenyum miring menatap Lily yang melihatnya dengan tatapan awas. Wanita itu bergidik ngeri dan segera membuka pintu mobil.


"Dasar anak soang meresahkan!"


Lily segera keluar rumah dengan membawa semua barang belanjaan yang di beli tadi. Melangkah menuju pintu masuk dan menjulurkan lidah ke arah Brian sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Bahagia sekali anak Daddy, pelukannya masih berasa ya?" tanya Daddy menggoda membuat langkah Lily terhenti. Lily tidak tau jika ada Daddy terduduk di sofa karena lampu ruangan sebagian telah dimatikan.


"Daddy," lirih Lily. Malu sekali dirinya, seperti anak SMA tertangkap basah saat pacaran. "Dapat salam dari Kak Brian Dad, Kak Brian berterimakasih dan juga minta maaf telah merepotkan Daddy karena mengurus Brilly dan Lian."


"Tidak masalah, lagian Daddy dan Mommy juga mengerti kalian butuh pacaran. Setelah kalian menikah Daddy pun siap jika harus mengurus mereka berdua saat kalian honey moon," ucap Daddy dengan mengulum senyum. Beliau senang sekali menggoda Lily. Sudah lama Raihan tidak melihat Lily begitu bahagia seperti saat ini.

__ADS_1


"Ikh Daddy..." Lily segera berlari menaiki tangga menuju kamar.


"Semoga kalian semua bahagia..." Raihan membuka kaca matanya dan mengusap ekor matanya yang basah.


__ADS_2