LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 13


__ADS_3

"Tuh koper nggak salah?"


"Kopernya mah nggak salah, kelakuan gue yang salah." Lily membuang muka ke jendela, kini keduanya dalam perjalanan menuju kantor. Lily memilih untuk segera berangkat ke kantor dan ke rumah Rafkha nanti setelah pulang kerja.


"Ck, gagal move on sampe milih buat ngabur?" tanya Wahyu lagi, ia tak menyangka Lily memutuskan untuk keluar rumah. Padahal jika pikiran benar, bukan Lily yang harusnya keluar, tetapi Brian yang kini menjadi menantu di keluarga Baratajaya yang berhak keluar dan membawa istrinya untuk tinggal bersama.


"Diem dech Yu, loe kalo cuma mau buat gue tambah bete mendingan turunin gue sekarang." Lily menghela nafas kasar dan menoleh ke arah Wahyu dengan malas.


Wahyu tersenyum dengan menggelengkan kepala, tak mengerti dengan pikiran Lily yang masih saja terpaut dengan pria yang menurutnya tak bisa di pegang ucapannya.


Setelah sampai, Lily masuk ke dalam ruangannya diiringi Wahyu yang tak lagi berkomentar. Menghempaskan tubuhnya di kursi kerja dengan membuang nafas kasar. Namun belum sempat ia menenangkan diri, pintu ruangannya kembali terbuka. Rafkha masuk dengan wajah datar dan melangkah menuju kursi mendekati Lily.


"Kenapa?" pertanyaan pertama yang membuat Lily bingung untuk menjawab. Apa yang harus ia katakan, salah menjawab sedikit saja Rafkha bisa tau apa yang terjadi padanya.


Lily melempar senyuman, berusaha untuk tidak terlihat galau. Dia menggelengkan kepala dengan mata berbinar. "Gue cuma mau mandiri aja kak, sekarang kan udah kerja. Lagian jarak dari rumah ke sini lumayan, gue nggak mau ngerepotin orang terus. Loe kan tau sendiri gue nggak becus kalo bawa kendaraan sendiri. Ada aja kendala di jalan, mana bisanya cuma nangis lagi."


"Yakin?" tatapan Rafkha membuat Lily gelagapan, seperti itu lah Rafkha tak langsung percaya dengan alasan yang ia berikan.


"Nggak percayaan banget sich kak!" Lily membuang muka dengan berdecak kesal. Menutupi rasa gelisah agar tak terbaca oleh Rafkha.


Pria itu menganggukkan kepala dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Siapin berkas! kita ada meeting pagi ini dengan perusahaan Daddy." Rafkha segera keluar dari ruangan Lily. Meninggalkan Lily yang terhenyak akan perintahnya.


"Perusahaan Papah...." Lirih Lily. "Otomatis gue bakal ketemu sama dia." Lily menepuk jidat, hidupnya terus saja berkaitan dengan Brian. Bagaimana bisa move on jika selalu bertemu seperti ini.

__ADS_1


Lily segera menyiapkan berkas-berkas yang akan di bawa sebelum akhirnya ikut Rafkha dan Wahyu untuk mengunjungi kantor Daddy nya. Bersikap seperti tak terjadi apa-apa meski di hati terasa enggan.


Sampai di lobby ketiganya segera turun dan melangkah menuju ruang meeting. Di sana sudah ada Daddy dan Brian yang menunggu. Memang semenjak perusahaan Tiara di pegang oleh Rafkha, dia memperluas kerjasama sampai ke perusahaan besar milik Daddy nya.


"Siang Dad..." sapa Lily dan Rafkha.


"Siang Om..." sapa Wahyu yang menyusul di belakangnya.


"Siang...." Daddy menjawab sapaan mereka.


"Bro!" Rafkha menyodorkan kepalan tangannya dan di sambut oleh Brian.


"Kak..." begitupun dengan Wahyu yang juga menyapa Brian. Tetapi tidak dengan Lily, dua pasang mata mereka saling menyapa dalam diam. Lily melangkah mendekat dan duduk di samping Brian. Semua pergerakan Lily di bawah pantauan sepasang mata yang sejak tadi menahan ingin berucap.


Meeting di mulai dan semua serius bekerja, Lily pun memberikan berkas-berkas yang ia bawa kepada Wahyu untuk di presentasikan. Sejak tadi Lily hanya diam, tampak kalem mencatat point penting dan menyiapkan segala keperluan. Meski hati ketar ketir sendiri takut Brian bersikap nekat.


"Gue mau bicara dan gue harap loe jangan menghindar!" bisik Brian semakin mengencangkan genggamannya. Mata Lily berkedip berulang kali dan semakin bungkam hingga meeting selesai.


"Yu, gue ke toilet dulu ya. Loe sama kak Rafkha masih makan siang kan sama Daddy?" lirih Lily yang sedang berusaha melepaskan tangannya.


"Hmm... Hati-hati!" jawabnya dengan melirik ke arah Brian. Lily pun menganggukkan kepala, lalu menghentakkan tangan dan beranjak dari sana.


"Dad, aku ke toilet dulu!" ijinnya.

__ADS_1


"Segera menyusul ke cafe depan kantor, kita makan siang dulu sebelum kalian kembali ke kantor." Lily menganggukkan kepala dan segera melangkah keluar ruangan. Duduk berdekatan dengan Brian rasanya sungguh menyesakkan dada.


Dan kini ia tengah mencuci wajahnya dan kembali menambah make up agar lebih segar. Sejak pagi wajahnya sudah kusut karena air mata yang sejak pagi sudah tak bisa di bendung. Setelah terlihat segar kembali, ia tersenyum menatap cermin dengan menormalkan kembali jantungnya dan menghela nafas dalam sebelum keluar dari toilet.


"Akh....."


BRUK


"Loe!"


"Sssttt......." Brian menarik Lily yang baru saja keluar dan membawa wanita itu masuk ke ruangannya, tanpa mereka sadar ada hati wanita lain yang terluka, tersenyum getir dengan membuang muka.


"Mau apa lagi sich? kita nggak ada hubungan apa-apa dan ini di kantor, loe nggak takut istri loe lihat dan kita menjadi bahan ghibah?" Lily benar-benar kesal, dia begitu geregetan dengan Brian. Apa lagi melihat wajah pria itu yang tampak santai. Tanpa Lily tau, jika hati Brian sejak pagi tidak tenang.


"Kalo memang loe nggak mau dekat sama gue lagi, nggak perlu loe keluar rumah. Gue yang akan angkat kaki dari rumah Daddy." Brian menatap lekat, dadanya benar-benar sesak. Bukan ini yang ia mau, bukan ini yang ia inginkan hingga melihat wanita yang ia cinta menderita. Dan bukan hanya Lily yang hancur sendirian, tapi dia pun sama.


"Ya, kalo bisa malah gue pergi sejauh mungkin biar nggak terus terlibat urusan apapun sama loe kak!" Lily melempar telunjuk di depan wajah Brian. Begini mungkin lebih baik, bersikap kasar walaupun hatinya tak tega.


Brian tersenyum getir, ia menghela nafas berat dan melepaskan cekalan tangannya. Lily sudah benar-benar ingin pergi, pergi dari hidupnya dan hatinya.


"Sebegitu inginnya loe menghapus semua tentang kita?"


"Apapun yang bisa membuat gue lupa sama loe, maka akan gue lakukan meski kegagalan di depan mata." Mata Lily mulai berkaca, dia tak segan menatap Brian.

__ADS_1


"Bagaimana jika gue terus berusaha?"


"Semakin loe dekat semakin gue menjauh dan gue harap loe tau adap, kita ipar bukan pacar. Dan loe harus inget, kalo istri loe yang berhak atas semua yang loe punya, termasuk hati loe!" Lily mendorong Brian dengan jari telunjuknya. Dia segera berbalik dan meninggalkan Brian yang bungkam dengan wajah datar.


__ADS_2