LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 59


__ADS_3

"Kak....."


"Li..Ly..." Aara tersenyum melihat Lily datang, tangannya dengan lemah melambai agar tangan Lily meraihnya. "Jangan menangis Lily...." suara lirih Aara keluar dengan lancar. Aara sudah mulai menguasai dirinya setelah keluar dari masa kritis untuk kesekian kali.


Lily menganggukkan kepala dengan mengukir senyum, tangannya meraih tangan Aara dengan hati tak karuan. Terlebih ia merasakan tangan Aara yang begitu kecil. Bahkan hanya terasa tulang dan kulit. Hati adik mana yang tak teriris melihat ini.


"Kenapa nggak bilang kak? Kenapa loe harus nutupi ini semua dari gue? Apa loe udah nggak anggap gue adik loe? Gue sakit kak lihat loe begini!" ucap Lily dengan diiringi tangis yang menyesakkan. Sungguh tak terbayangkan olehnya jika Aara akan sakit separah ini.


Ini yang Brian khawatirkan, dia tidak ingin Lily emosi dan mengganggu mentalnya. Perlahan Brian mengusap pundak Lily, bahkan di depan Aara dia mengecup kepala Lily untuk menenangkan hati ibu dari kedua anaknya.


"Sabar, ingat baby twins," bisik Brian dengan lembut. Sebenarnya Brian pun tak sanggup melihat pemandangan yang menyayat hati antara adik dan kakak ini. Jika tidak berusaha untuk kuat, mungkin Brian pun sudah ikut menangis. Keduanya saling menyayangi, tapi karena keegoisan membuat salah satunya tega menyakiti.


Aara tersenyum melihat perlakuan lembut Brian. Jika dulu, Aara mungkin akan kecewa melihat sikap Brian yang begitu perhatian dengan Lily, tapi saat ini ia lebih lega dan tidak lagi ada rasa cemburu. Bahkan kini ia telah menyesal karena telah mencurangi adiknya.


"Loe tetap adik yang terbaik buat gue Ly, gue cuma nggak mau menjadi beban kalian. Terlebih semua sudah terlambat, gue tau di saat sudah tidak bisa lagi di sembuhkan." Rasanya Aara tak sanggup untuk menjelaskan akan penyakitnya, dunianya pun seakan runtuh setiap ia teringat penyakit apa yang menggerogoti tubuhnya. Maka dari itu ia tidak ingin semua orang yang ia sayang akan merasakan hal yang sama. Maka dari itu Aara merahasiakan dari siapapun kecuali Gibran tempatnya mengeluh.


"Kak...hiks....Maaf...."


"Loe nggak perlu minta maaf Ly, bukan loe yang salah disini. Gue yang salah Ly," Aara menggenggam erat tangan Lily. Dia tidak mau Lily merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Dia tidak ingin Lily kembali mengalah untuknya lagi. Sudah cukup dia membuat hati adiknya terluka dan tidak untuk ia ulangi lagi untuk kesekian kalinya.


"Maaf.....Gue terlalu bodoh. Gue buta karena terlalu cinta. Gue egois dan gue udah buat loe menderita sampai saat ini."


"kak..."Lily mengusap tangan Aara beharap Aara menghentikan ucapannya tapi Aara justru menggelengkan kepala seakan dia harus terus menjelaskan. Lily harus tau semuanya, Lily harus tau jika dialah yang salah dan Lily harus tau alasan apa yang membuatnya melakukan ini semua.

__ADS_1


"Maafin gue Ly, karena gue loe jadi korban. Gue yang berbuat curang dengan meminta Gibran memasukkan obat di minuman loe saat itu. Dan gue yang mengirim pesan itu." Seketika Lily melepas tangannya yang menggenggam erat tangan Aara. Dia menutupi mulutnya dan tak menyangka jika semua terjadi karena Aara. Padahal sejak awal dia sudah mengalah tapi dia yang justru di jebak.


"Awalnya gue mau loe dan Brian bersatu, itu alasan utama kenapa gue menjebak loe. Tapi melihat loe menyiakan kesempatan itu, keegoisan gue muncul dan mengambil kesempatan lalu terus menikah dengan Brian." Aara tau jika saat ini Lily pasti masih sangat kecewa. Tapi selagi ada waktu ia ingin menjelaskan semuanya dan meminta maaf atas kesalahannya. Aara juga sudah pasrah jika setelah ini Lily akan membencinya. Mungkin itu yang terbaik agar Lily lebih ikhlas melepasnya andai waktu itu tiba.


"Saat tau loe hamil, gue orang pertama yang bahagia karena gue tau tidak akan bisa untuk gue hamil dan melahirkan anak. Gue meminta pada Daddy untuk bisa mengangkat anak itu. Tapi bukan berarti gue benar-benar akan merebut anak loe Ly. Gue tau umur gue nggak akan lama lagi dan anak itu yang buat gue semangat bertahan sampai saat ini. Hanya untuk melihat, menimang dan merasakan sejenak menjadi seorang ibu. Dan setelah itu mungkin gue akan tenang di sana."


Lily terus menangis mendengar Aara yang menjelaskan duduk perkara dari permasalahan yang terjadi selama ini. Lily rasanya masih tidak percaya jika Aara akan melakukan itu semua, tapi mendengar impian Aara yang ingin sekali menimang bayinya membuat hati Lily tersentuh. Andai Aara tau jika anak yang ia kandung kembar mungkin akan menjadi semangat baru untuk Aara.


"Gue tau sejak acara pertunangan itu kalian saling mencintai dan saat ini gue ikhlas loe dan Brian bersama. Gue lega adik gue mendapatkan cinta yang tulus. Brian pria baik yang bisa menjaga cintanya buat loe Ly, bahkan dia kuat saat gue berusaha untuk menggoda." Aara tersenyum mengingat masa-masa ia menggoda Brian. Dan Aara bangga dengan Brian yang bisa menahan padahal dia tau, mustahil ada pria tidak menginginkan saat di depan mata ada wanita yang sudah membuka akses untuknya mencicipi.


Tatapan Aara beralih ke arah Brian, ia tersenyum melihat tatapan teduh pria yang sempat singgah di hatinya. Dan mungkin masih ada nama Brian di hati Aara yang sengaja tidak Aara lupakan meski sudah mengikhlaskan.


"Jaga Lily! Gue ikhlas kalian bersama."


"Hari ini, tolong ceraikan gue Brian! Talak gue detik ini juga!"


deg


Brian terkejut mendengar permintaan Aara, dia tidak menyangka jika Aara memintanya untuk mengucapkan kata talak detik ini juga.


"Aara...."


"Gue ikhlas ...." Dada Aara begitu sesak, nafasnya mulai tersengal. Rasanya ia tak sanggup lagi berucap terlebih rasa sakit yang semalam ia rasakan kembali menjalar ke tubuhnya.

__ADS_1


Lily yang sejak tadi menunduk menangis pun begitu terkejut dengan permintaan Aara yang tiba-tiba. Dia menatap Brian dengan menggelengkan kepala. Tidak mungkin dia tega melihat Brian mengucap talak pada Kakaknya setelah tau kondisi Aara yang sebenarnya.


"Jangan Kak...."


"Ce.....Ce.....Pat Bri..An!" ucap Aara dengan suara yang mulai tidak jelas. Matanya pun mulai sayu dengan nafas yang mulai terputus-putus. Aara merasakan dadanya semakin sesak.


"Jangan Kak!" cegah Lily dengan memohon bahkan kini Lily menarik tangan Brian berulang kali agar merespon dirinya.


"Ce ...ce...Pat!"


Tak ada pilihan lain, meski Brian begitu berat mengatakan tapi ia tidak bisa menolak permintaan Aara. Dia melihat Lily yang terus mencegahnya kemudian kembali melihat tatapan Aara yang sudah mulai melemah.


"Kak, Lily mohon sekali lagi...hiks ...hiks...Jangan talak Kak Aara.....Lily mohon Kak!"


Brian melepas tangan Lily, bola matanya melebar melihat dada Aara naik turun dengan cepat. Aara terlihat sekali begitu kesulitan untuk bernafas. Brian melangkah lebar mendekati Aara dan merengkuh tubuh Aara.


"Bri...Bri...An..Ce..."


Lily pun semakin cemas melihat kondisi Aara yang tiba-tiba memburuk. Tangisnya pecah, rasanya Lily tak sanggup menyaksikan semuanya.


"Kak jangan Kak....Kasian Kak Aara..." Lily masih terus mencegah.


Brian memejamkan mata dengan air mata yang sudah menetes di pipi Aara. Dia mengecup kening Aara dengan rasa bersalahnya. "Maaf...."

__ADS_1


Brian menatap Aara dengan memeluk tubuh Aara, "Hari ini ..hiks ...Detik ini...aku Brian menjatuhkan talak padamu istriku Aara Jhen Putri Baratajaya," lirih Brian yang masih mampu terdengar oleh Lily dan juga Aara.


__ADS_2