
Malam harinya Brian mengajak Lily makan malam romantis disalah satu restoran yang terdapat di pesisir pantai. Keduanya makan dengan menikmati malam yang bertabur bintang dengan deru ombak berdendang di telinga. Alunan music romantis pun semakin menghangatkan suasana.
Keduanya makan dengan khidmat dan lahap karena memang aktivitas mereka begitu menguras tenaga. Brian mengulum senyum melihat Lily sudah menghabiskan makannya. Sang istri menghabiskan makan dengan begitu cepat, tak sampai sepuluh menit piring kembali bersih.
"Main nambah nggak Sayang? Stok tenaga harus power full loh, biar semangat nanti," ucap Brian dengan mengedipkan sebelah mata.
"Mesumnya suami aku," jawab Lily dengan menatap jengah dan membuat Brian tertawa.
Setelah mereka makan, Lily mengajak Brian bermain di pantai sebentar dan lanjut ke alun-alun Bali.
Banyak jajanan yang Lily beli dan ia nikmati sambil melihat penorama Bali. Ternyata tanpa perlu ke luar negeri, ia bisa menikmati honeymoon menyenangkan di negerinya sendiri. Sebelum mereka kembali ke hotel pun Lily menyempatkan untuk membeli pernak-pernik dan apapun yang sekiranya menarik. Tidak lupa mainan kembar dan baju-baju lucu khas Bali untuk kedua buah hatinya.
Sampai di hotel, Lily menyempatkan diri untuk Vidio call dengan Aara. Dia begitu merindukan Lian dan Brilly. Lily juga ingin menanyakan apakah keduanya anteng atau malah rewel dan menyusahkan sang Kakak.
"Hallo Kak, gue kangen sama duo bocil. Coba perlihatkan kameranya ke mereka Kak!"
"Loe nggak kangen sama yang ngasuh?"
"Udah tua Kak, loe mah tanpa gue Vidio call udah bisa gue lihat di status ig loe yang updatenya satu jam sekali."
"Sialaan loe!"
Aara segera mengarahkan kamera ponselnya ke arah Lian dan Brilly yang tertidur nyenyak. Ya, ini sudah pukul sebelas malam dan Lily mengganggu orang pacaran. Aara sedang teleponan dengan Wahyu tetapi, karena Lily menghubunginya maka ia matikan dulu telepon dari ayank bebh.
"Hay anak-anak Bunda, nyanyak banget ya bobonya di kasur Tante Aara. Jangan rewel ya jagoan Bunda, lihat nich Bunda udah beliin banyak oleh-oleh buat kalian. Besok Bunda tambahin lagi ya Sayang. Tunggu Bunda dan Ayah pulang. Sehat-sehat kalian Nak! Bye-bye..."
__ADS_1
Lily tersenyum melihat kedua putranya menggeliat dengan sedikit membuka mata tetapi kembali tidur lagi. Mungkin mereka mendengar dan merespon suara sang Bunda.
"Mereka rewel nggak Kak?"
"Nggak, tenang aja. Pokoknya nggak usah banyak mikirin yang ada di sini. Loe fokus aja kegiatan loe di sana sama Brian dan jangan lupa oleh-oleh buat gue!"
"Apaan? Topeng reog mau?"
"Loe pikir gue disini mau pawai dibeliin kayak begituan. Udah akh gue mau tidur, oh iya jangan lama-lama! Pulang dari sana temenin gue fitting baju!"
"Wah ... Jadi kak?"
"Hhmm... Apapun resikonya. Semoga Wahyu jodoh gue meskipun nantinya dia.. Akh udahlah, penting loe jangan lama-lama. Gue juga mau honeymoon seperti kalian."
Aara segera mematikan sambungan panggilan dari Lily. Dia merebahkan tubuhnya dan tanpa menunggu lama Aara terlelap meraih mimpi hingga tepat pukul tiga pagi, dia terbangun karena merasakan kegelisahan Lian.
"Kenapa Sayang, hhmm? Popoknya penuh ya? Atau mau minum susu?" Aara mengecek popok Lian dan benar saja, popoknya sudah penuh dan membuat bayi itu tidak nyaman.
Aara pun mengecek popok Brilly sebelum mengambilkan susu untuk mereka berdua.
Setelah kedua popok mereka diganti, kini Aara turun ke dapur untuk menyiapkan ASI. Dia kembali dengan membawa kedua botol susu yang terisi penuh agar kedua ponakannya kenyang dan kembali tidur.
"Tante senang bisa mengurus kalian, makasih ya kalian berdua sudah anteng." Aara tersenyum melihat keduanya begitu lahap menyedot botol susu mereka.
"Ya Tuhan, aku pasrah dengan jalan hidupku kelak. Aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang Kau berikan. Begitu banyak nikmat, termasuk bisa mengasuh kedua ponakaku. Jika Engkau masih memberikan aku umur panjang, ijinkan aku untuk bisa mengasuh anak dari suamiku kelak... Aamiin." Aara berdoa dengan menitikkan air mata. Dia meletakkan botol susu yang sudah kosong dan kembali tidur di samping kedua ponakannya.
__ADS_1
...****************...
"Kamu setuju dengan persyaratan yang Papah ajukan?"
"Ya, dengan berat hati aku lakukan karena aku sangat mencintai Aara Pah. Aku harap Papah mengerti." Wahyu berharap sang Papah memberikan restu tanpa menambah lagi persyaratan yang rumit.
Wahyu sudah mempertimbangkan dengan sangat matang dan menerima persyaratan itu dalam kondisi sadar. Beruntung Aara pun tak keberatan meski Wahyu yakin di dalam hati Aara pasti sangat sedih membayangkan apa yang harus ia hadapi ke depannya.
"Bagus, jika cinta memang harus ada pengorbanan dan perjuangan. Terlebih kamu sudah tau kekurangan dan resikonya. Kapan ingin melamar putri dari keluarga Baratajaya?" tanya Papah tanpa menatap Wahyu.
"Lusa, Wahyu harap Papah tidak menyinggung tentang persyaratan yang Papah ajukan dengan keluarga besar Baratajaya. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa dan berakhir tidak menyetujui hubungan kami."
"Hhmm... Persiapkan saja dirimu untuk melangkah menuju pelaminan. Papah ingin kamu segera menikahinya dan terjun langsung ke perusahaan kita!"
Wahyu tak menanggapi lagi ucapan sang Papah, dia memilih untuk segera pergi ke rumah Aara. Pagi ini kedua orangtuanya sedang pergi ke luar kota karena pekerjaan Daddy Raihan. Wahyu juga harus segera membicarakan tentang lamarannya pada Aara.
"Hais... Dasar anak itu!" gumam sang Papah dengan menatap Wahyu yang pergi begitu saja padahal beliau belum selesai bicara.
"Sabar Pah! Jangan terlalu keras pada Wahyu. Kasian dia, persyaratan yang Papah ajukan terlalu berat untuknya." Sejak tadi sang Mamah hanya menyimak dan tak ingin ikut campur. Beliau mengerti sekali jika Wahyu saat ini terpaksa menyetujui. Sebenarnya beliau pun tidak tega, tetapi memang hanya Wahyu anak mereka satu-satunya yang sangat diharapkan keturunannya.
"Papah pun terpaksa, demi kelangsungan keluarga kita. Tidak mungkin aku mewarisi hartaku pada anak yang tak jelas asal-usulnya." Papah segera melangkah pergi meninggalkan sang istri. Beliau berangkat ke kantor dengan hati tak karuan.
Mamah Wahyu menghela nafas berat, beliau berharap semua akan baik-baik saja. Tanpa ada masalah pada keluarga Wahyu kedepankan.
"Mamah hanya bisa mendoakan kamu dan juga Aara. Mamah merestui kalian, tetapi Mamah harap kalian bisa sabar dan saling menguatkan." Seorang ibu tidak akan tega melihat anaknya kesulitan. Namun, beliau hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kehidupan anaknya kelak. Tanpa mampu berbuat banyak.
__ADS_1