LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 46


__ADS_3

Kabar sakitnya Aara sampai di telinga Rafkha. Dia yang sedang bertugas keluar kota dan akan kembali malam hari, segera memutuskan untuk pulang lalu meminta Wahyu untuk menghandle semuanya. Kabar itu dia dapatkan dari Daddy nya. Sedangkan Tiara belum tau apa-apa begitupun dengan Lily. Mereka masih merahasiakan hal besar itu karena keduanya sedang mengandung. Takut juga terjadi sesuatu pada kandungan mereka terlebih pada Lily.


Rafkha sampai di rumah sakit tepat sore hari, dia segera menemui keluarga nya yang kini sedang menunggu Aara siuman. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Rafkha segera masuk ke ruangan Aara. Tubuhnya mendadak kaku melihat Aara terbaring lemah dengan banyak alat dan kondisi yang begitu memprihatinkan.


Adiknya yang terlihat baik-baik saja dengan sikap jutek dan bar-bar nya ternyata menyembunyikan penyakit mematikan. Rafkha melangkah dengan perlahan mendekat. Keluarga di sana pun hanya bisa menghela nafas berat dengan Mommy Andini yang kembali menangis saat melihat anak laki-lakinya datang.


"Aara...." lirih Rafkha, matanya sudah berjalan dengan dada yang begitu sesak. Bahkan kini kedua tangannya terkepal menahan kesedihan yang mendalam. Dia pikir Aara hanya sakit biasa, meski batinnya merasa tidak enak. Dan membuat Rafkha memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan. Dan benar saja, adiknya yang lahir hanya hitungan menit setelahnya kini sedang sakit keras.


Rafkha menoleh ke arah Daddy yang hanya menunduk menutupi kesedihan. Mommy menangis di pelukan Tante Erna dan Om Andika terdiam dengan wajah sendu.


"Aara sakit apa? Apa sangat parah hingga tubuhnya...." Rafkha tidak sanggup menerus pertanyaan, tapi dengan cepat Daddy mengajak Rafkha untuk keluar ruangan.


"Kita bicarakan di luar!" ucap Daddy yang kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar ruangan setelah mengecup kening sang istri yang tidak henti menangis.


"Sebenarnya ada apa Dad? Kenapa Aara bisa sampai seperti itu?"


Kini keduanya telah ada di luar ruangan Aara, mereka duduk di kursi tunggu dengan Daddy yang menoleh ke arah putranya. Bagaimana pun ia harus menjelaskan meski itu menyakitkan. Dan untuk masalah Lily pun ia tak bisa lagi menutupi.

__ADS_1


"Aara sakit kanker rahim dan kini sudah sangat parah bahkan sudah menyebar. Harapan sangat tipis, dia sendiri ternyata terlambat menyadari. Hanya mukjizat yang bisa menolongnya. Dan kita harus banyak-banyak berdoa."


Rafkha menghela nafas berat, serasa dadanya di hantam puluhan kilo batu hingga tak mampu lagi berkata apapun. Dia menundukkan kepala dengan menyurut air mata yang mulai tak bisa di bendung. Berita macam apa ini, sungguh musibah di tengah keluarganya yang datang mendadak. Belum selesai masalah Lily, ternyata adik nya yang lain pun tengah berjuang melawan penyakit.


"Lalu bagaimana tindakan selanjutnya Dad?"


"Masih menunggu perkembangan nya, karena Aara masih belum siuman setelah tadi siang pingsan."


"Aara pingsan?" tanya Rafkha memastikan.


"Iya, setelah tadi menjelaskan duduk perkara masalah Lily."


"Tau apa Aara tentang Lily Dad?" Setau Rafkha tidak ada yang tau tentang masalah Lily, karena semua tampak bungkam.


"Ayah dari anak yang Lily kandung adalah Brian. Meraka saling mencintai. Dan itu semua rencana Aara."


Rafkha tercengang mendengar jawaban Daddy, dia kenal Brian sejak dulu. Sahabat nya tidak pernah mengecewakan tapi mengapa kali ini menghancurkan kedua adiknya. Rafkha seperti di tusuk dari belakang. Tanpa banyak bicara Rafkha segara beranjak dan melangkah dengan cepat saat matanya melihat Brian yang keluar dari salah satu ruangan.

__ADS_1


"Brengs3k! Bajingaan loe Brian....."


Bugh


Bugh


Bugh


Gibran yang baru saja keluar juga dari ruangan yang sama begitu terkejut melihat Rafkha yang tiba-tiba menghajar Brian. Padahal luka tadi saja baru di obati dan belum kering. Tapi sepertinya akan tambah membiru setelah mendapatkan bonus tambahan dari Rafkha.


"Loe bisu hah! Kenapa loe diam aja anjing! Loe udah negerusak adik gue!"


"Gue nggak pernah ada niat buat ngerusak adik loe! Gue cinta sama dia!" susah payah Brian menjelaskan agar Rafkha tidak salah paham. Gibran pun tidak tinggal diam, dia segera meraih tubuh Rafkha agar menghentikan pukulannya tapi sepertinya akan kesulitan karena Rafkha yang begitu emosi.


"Bullsyyt! Loe bukan Brian yang gue kenal! Atau loe emang sengaja mau balas dendam karena adik loe?"


Bugh

__ADS_1


"Gue cinta sama Lily! Dan itu mutlak tanpa ada niat mau balas dendam sama loe! Apa loe lupa kalo Lily dan gue di jebak?"


Rafkha yang kembali akan memberikan pukulan pada Brian akhirnya ia hentikan dengan tangan yang terkepal kuat di depan wajah Brian. Dia lupa jika Lily di jebak kemudian ia pun teringat akan ucapan Daddy tadi.


__ADS_2