
Brian kembali mengobati lukanya di bantu oleh Gibran. Tubuh dan wajahnya serasa di potek-potek. Remuk hingga menjalar ke aliran darahnya yang terasa nyeri saat mengalir. Tinjuan Rafkha melebihi Daddy Raihan begitu kuat dan perih karena awalnya luka lama masih begitu terasa.
Rafkha menatap datar sahabatnya, ia menarik nafas dalam dan membuang dengan perlahan. Mencoba meredamkan emosinya dan berpikir jernih.
"Loe kayak baru kenal sama gue! Gue nggak mungkin cuma mau ngerusak adek loe, dari SMA kan loe tau gue sering godain Lily. Tapi ya emang gue dekat sama Aara. Hanya sebatas sahabat karena emang gue nggak bisa mencintai yang lain. Mereka berdua yang ngelarang gue buat jujur sama kalian. Terutama Lily yang dari awal nggak mau kalo sampe gue buat loe dan keluarga kecewa. Apa lagi kita sahabatan udah dari kecil. Dia nggak mau ngerusak semuanya gitu aja, dia berkorban buat kakak dan semua keluarga. Jadi bukan karena gue brengs3k dan nggak mau tanggung jawab."
Rafkha menghela nafas berat, banyak sekali masalah di keluarganya. Dan besok adalah acara tujuh bulan kandungan istrinya, bagaimanapun Rafkha harus cepat pulang untuk membantu sang istri mempersiapkan semuanya. Sedangkan sampai malam Aara tak kunjung sadar. Kedua orangtuanya juga sudah tertidur di sofa karena lelah menunggu Aara. Om dan tantenya sudah dari sore ke rumah Tiara untuk mempersiapkan apa saja yang belum beres untuk acara besok.
"Gue yang salah Raf, gue di suruh Aara jebak mereka. Jadi stop loe nyalahin Brian apa lagi mukulin dia. Bisa modar ini anak sebelum bahagia."
Rafkha menatap tajam Gibran, tangannya terkepal dengan rahang yang sudah mengeras. Fakta baru lagi yang ia dengar membuat emosinya ingin meledak. Tapi bukan berarti Rafkha ingin kembali melayangkan tinjuannya. Sudah cukup emosinya saja yang di permainkan hari ini. Dia sudah lelah menghajar orang.
__ADS_1
"Bod0h! GoBl0k! Otak loe nggak loe pake! Loe sadar nggak itu nambah masalah?" umpat Rafkha dengan sewot. Gibran pun tak menjawab dan hanya berdecak kesal.
"Emang B3go! Orang pas pembagian otak dia ketinggalan makanya cuma dapet separo. Untung yang separo berguna jadi bisa mimpin perusahaan. Kalo nggak suruh pulang kampung aja dia nyari undur-undur!" sahut Brian tak kalah sewot.
"Puas-puasin loe pada kesel sama gue, kayak nggak tau aja loe kalo cewek udah bekoar. Gue pria baik jadi nggak tegaan kalo lihat cewek nangis. Lagian loe tuh ketiban durian monthong Brian, dapet adiknya dapetin kakaknya juga. Apa nggak gurih!"
"Ngomong loe sama nich perban gue!" sahut Brian yang masih kesal. Meskipun memang benar kata Gibran, tapi bagi Brian dia tidak akan menyentuh siapapun selain Lily. Karena hatinya hanya untuk Lily.
"Gue balik aja lah, kasian apartemen gue nggak ada yang ngelonin. Ntar nyari penghuni baru lagi yang lebih hangat dan sexy!" celetuk Gibran yang memilih untuk pulang. Mungkin jika tidak ada Brian dia akan menemani Aara. Tapi berhubung Brian yang berstatus suami Aara itu ada. Dia lebih baik pulang dan mengistirahatkan diri.
"Berisik loe! Gue main bersih emang loe!" Gibran segera keluar dari ruangan itu. Untung saja orang tuanya sudah pulang, kalo sampai mendengar itu semua auto kebebasannya di sita dengan paksa.
__ADS_1
Rafkha menggelengkan kepala kemudian memejamkan mata dengan mengusap kasar wajahnya. Dia beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekati Aara.
Rafkha meraih tangan Aara dan menggenggam tangannya dengan menatap wajah pucat yang terhalang alat membantu pernapasan. "Gue tau loe wanita kuat. Lawan penyakit loe....Gue yakin loe bisa. Dan bangun, loe harus jelasin semuanya sama gue. Kenapa bisa loe nyembunyiin ini semua dari kakak loe? Loe udah nggak nganggep gue Abang loe?"
Sesak dada Rafkha, matanya sudah berkaca-kaca, sungguh Rafkha ingin sekali berteriak agar Aara bangun dan tidak tidur lagi. Karena jujur Rafkha takut jika Aara benar-benar pergi.
"Gue balik dulu ya, kasian Tiara dan calon ponakan loe. Di sini ada Brian, gue tau loe cinta sama dia. Tapi sebagai wanita lebih baik loe yang di kejar dari pada loe yang ngejar cinta pria. Semoga kalian bisa berdamai dengan keadaan."
Rafkha mengecup kening Aara, dia harus benar-benar pulang sebelum Tiara pun curiga.
"Gue balik! Titip adek gue!" ucap Rafkha dengan menepuk pundak Brian.
__ADS_1
"Hmmmm.... Dia masih istri gue!" Brian menatap Aara dengan hati tak karuan. "Ajak Daddy dan Mommy juga biar istirahat di rumah, kasihan juga Lily sendiri di rumah!" Brian mengkhawatirkan Lily yang dirumah hanya dengan art. Bagimana jika Lily butuh sesuatu dan tidak ada yang bisa membantu. Sungguh Brian kepikiran.
"Fokus dulu sama Aara, biar Lily jadi urusan gue!" ucap Rafkha datar kemudian membangunkan kedua orangtuanya untuk di ajak pulang.