
Dokter datang setelah Brian keluar ruangan menuju kamar Aara. Dokter memeriksa Lily dan memastikan kondisi kedua bayinya dengan mendengarkan detak jantung keduanya dengan alat khusus.
Beliau tersenyum mendengar detak jantung keduanya yang begitu kencang. Lily pun dapat mendengarkan dengan senyum haru yang menghiasi wajahnya.
"Sudah sehat, padahal kemarin detak jantungnya sangat lemah. Alhamdulillah ya, di jaga terus bayinya dan jangan sampai kelelahan!" ucap Dokter dengan hati lega, bisa mendengarkan detak jantung nyawa yang baru tumbuh adalah suatu yang sangat membahagiakan baginya.
"Baik Dok, tapi saya sudah boleh jalan belum Dok? Maksudnya saya ingin keluar mencari angin segar atau malah sudah boleh pulang?" tanya Lily penuh harap. Jika boleh dia memilih pulang hari ini juga, agar tidak terlalu jadi pikiran dan kedua orang tua, juga Brian bisa fokus pada Aara.
"Nanti sore di cek kembali kondisinya ya, jika ibu dan bayinya sudah stabil sore akan saya buatkan resep dan boleh pulang. Untuk sekarang boleh jalan-jalan ke taman tapi jangan lama-lama!"
"Baik Dok, terimakasih."
Kemudian Dokter meminta salah satu perawat membawakan kursi roda untuk Lily agar lebih aman dan tidak kelelahan.
"Pelan-pelan saja ya karena tidak ada yang mendampingi, jika mengalami kesulitan bisa panggil perawat yang kebetulan melintas."
"Terimakasih banyak ya Bu dokter," jawab Lily dengan senyum mengembang. Kedua perawat yang mendampingi Bu Dokter segera membantu Lily untuk duduk di kursi roda. Dan mendorongnya keluar ruangan.
"Sampai sini saja Sus, saya bisa sendiri! Terimakasih ya Sus," ucap Lily dengan ramah.
"Iya sama-sama, hati-hati ya mbak!"
Lily menganggukkan kepala dan segera menggulir ban kursi rodanya, perlahan ia melintasi lorong rumah sakit yang masih sepi karena jam besuk belum tiba. Lily melihat setiap plang dan tulisan di masing-masing ruangan dengan teliti.
...****************...
"Aara kritis?" tanya Brian, padahal saat kemarin ia meninggalkan Aara kondisinya sudah stabil.
__ADS_1
"Iya, semalam dia tidak bisa tidur karena dadanya terasa panas. Aara merintih dan menangis karena tubuhnya pun terasa sakit. Lalu beberapa Dokter datang menanganinya, Aara di beri obat pereda sakit tapi sampai saat ini Aara belum kunjung sadar. Tadi Dokter datang lagi melihat kondisi Aara, beliau mengatakan jika kondisinya semakin lemah."
Mommy menundukkan kepala dengan kembali menitikkan air mata. Rasanya ia harus lebih mempersiapkan mental untuk apapun yang terjadi nanti. Karena beliau pun tidak tega jika terus melihat kondisi Aara yang semakin memperihatinkan.
Brian pun hanya bisa menghela nafas berat, ini jawaban atas keraguannya semalam. Memang sepertinya ia harus mengikuti apa yang Papahnya katakan. Dia tidak mungkin menggugat cerai Aara saat kondisi wanita itu semakin memburuk. Akan sangat tidak manusiawi sekali jika hal itu nekat ia lakukan.
"Bagaimana dengan Lily? Mengapa kamu meninggalkan Lily sendirian Brian?" tanya Mommy yang teringat akan putrinya yang juga sedang butuh perhatian.
"Oh iya Brian sampai lupa, tadi Lily bilang lapar Mom tapi dia hanya ingin masakan Mommy. Maaf Mom tadi Brian sudah membujuknya untuk membeli makanan di luar, tapi sepertinya Lily benar-benar ingin masakan buatan Mommy saja."
"Hmm.....Tidak apa-apa Brian, Lily sudah biasa makan masakan Mommy walaupun harus ada kamu di sampingnya. Tapi bagaimana dengan Aara? Daddy juga sedang pulang untuk mengambil beberapa pakaian karena kami akan menginap disini lagi malam ini, kebetulan Lily juga belum pulang kerumah."
"Biar Brian yang menjaga Aara Mom, nanti Brian ke kamar Lily agar dia tidak kepikiran. Dan mommy bisa pulang menggunakan mobil Brian."
"Ya sudah begitu saja, sekalian Mommy bisa memasak untuk makan siang juga. Mommy pulang dulu ya!" Andini segara beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil Brian.
"Iya."
Setelah Mommy keluar ruangan, Brian menoleh ke arah Aara yang masih betah menutup mata. Dia melangkah mendekati tubuh yang semakin mengecil dengan kulit yang nampak tak secerah dulu lagi. Brian duduk di samping ranjang kemudian dia meraih tangan Aara dengan tatapan sendu.
"Ra, gimana kondisi loe hari ini? Maaf semalam gue nggak bisa jagain loe! Kata Mommy semalam loe kesakitan, sekarang bangun Ra! Bilang sama gue, cerita sama gue mana yang sakit? Gue nggak tau karena semalam gue nggak ada di sini. Ayo bangun ceritain semuanya sama gue Ra!" lirih Brian dengan dada yang terasa begitu sesak. Baru semalam saja ia tidak berada di sisi Aara, sudah terlihat banyak perubahan yang ada di diri wanita itu.
"Gue nggak bisa ngelakuin apapun buat loe Ra....Maaf.... Maaf jika selama ini belum bisa menjadi apa yang loe impikan." Lagi-lagi rasa bersalah menggelayuti dirinya, Brian memejamkan mata dengan menundukkan kepala. Doa apa yang bisa membuat Aara kembali sembuh dan menanggalkan segala penyakit yang menggerogoti tubuh Aara. Andai dia tau, mungkin saat ini juga Brian akan bersujud memanjatkan doa itu.
"Brian......"
Brian terhenyak merasakan pergerakan di tangan Aara serta suara lirih yang terdengar begitu miris. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Aara yang perlahan membuka mata.
__ADS_1
"Aara.....Aara loe sadar? Aara....."
"Li....Ly....Ma..Na....?" tanyanya dengan terbata, sejak kemarin memang Aara ingin sekali bertemu dengan Lily. Entah apa yang ingin disampaikan atau mungkin memang Aara merindukan Lily karena sejak masuk rumah sakit ia belum bertemu dengan Lily lagi.
"Lily......" Brian bingung ingin menjawab keberadaan Lily saat ini. Dia tidak mungkin mengatakan jika Lily pun di rawat di tempat yang sama.
"Lily....."
"Gue disini Kak!"
deg
Brian menoleh melihat Lily datang dengan duduk di kursi roda. Dia tidak menyangka Lily akan sampai di kamar Aara. Padahal Brian sudah memastikan jika Lily tidak akan membuntutinya karena tadi dia sempat curiga saat Lily begitu kekeh memintanya untuk menemui Mommy.
"Lily, ngapain kamu kesini?" Brian segara mendekati Lily dan berjongkok di hadapan Lily. Mata Lily sudah menggenang air mata yang siap meluncur dengan sekali kedipan. Brian tau saat ini Lily sangat terpukul dengan kondisi Aara.
"Kenapa kesini? Kakak kan sudah bilang, tunggu sampai kamu benar-benar sembuh dulu!" Brian khawatir jika terjadi sesuatu dengan Lily. Terlebih dengan kedua bayinya yang dia tau masih lemah. "Jangan nekat Sayang kasihan anak kita!" ucap Brian dengan mengusap perut Lily.
"Bawa aku ke Kak Aara!" hanya itu yang Lily mau. Dia pun tidak menghiraukan kekhawatiran yang begitu jelas terlihat di wajah Brian.
"Tapi...."
"Kakak sayang dengan Lily bukan? Lily ingin melihat Kak Aara!" ucap Lily lagi dengan air mata yang sudah tak mampu ia tahan.
"Janji kamu kuat!" Brian pun ingin memastikan jika setelah ini Lily tetap baik-baik saja.
Lily menganggukkan kepalanya, dia mencoba untuk tersenyum meski ia tidak tau akan seperti apa setelah ini. Tubuhnya perlahan mendekati ranjang dimana sang kakak terbaring lemah. Brian mendorong kursi roda dan membawa Lily bertemu dengan Aara.
__ADS_1
Pandangan Aara dan Lily sudah saling menyapa, bahkan keduanya sudah sama-sama menangis tersedu. Dapat Lily lihat tubuh kakaknya yang begitu kurus dengan pipi tirus dan rambutnya yang....."Oh Tuhan....Kemana aku di saat Kak Aara harus berjuang..."