LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 41


__ADS_3

Bayu masih tidak menyangka jika yang sakit itu adalah Aara dan ia tak habis pikir mengapa keluarga tidak ada yang tau. Dan bagaimana bisa sahabatnya yang kini menjadi besan bisa kecolongan seperti ini. Dan hanya Gibran lah yang tau penyakit yang selama ini Aara sembunyikan. Lalu bagaimana dengan putranya. Sebagai suami Brian nampaknya pun tidak tau menahu akan itu.


Padahal terlihat jelas perbedaan yang Aara perlihatkan. Bahkan rambut Aara sekarang sudah hampir botak dan kulitnya pun tidak seperti wanita normal pada umunya. Bagaimana bisa seorang suami tidak tau perubahan fisik istri nya.


Banyak sekali pertanyaan yang terangkai rapi di kepala Bayu.


Bahkan kini air matanya hampir terjatuh melihat menantunya terbaring lemah di atas brangkar. Ini tidak bisa di biarkan, Aara butuh penanganan yang serius. Dan keluarga harus tau itu. Bayu melangkah mundur namun dengan cepat Aara mencekal lengannya.


"Papah....." Lirih Aara dengan suara yang lemah. Kondisi Aara memang semakin menurun namun ia berusaha terus bertahan setidaknya sampai Lily melahirkan.


Bayu tak menjawab, beliau justru memijit pelipisnya dengan air mata yang tak tertahan. Andai bukan menantu pun, hubungan antara dia dan Raihan sudah terjalin sangat lama. Dan beliau tau Aara sejak bayi hingga rasanya sudah seperti anak sendiri. Sesak sekali dada Bayu melihat kondisi aara yang sudah memprihatinkan tapi tidak ada yang tau akan itu.


Mungkin jika tadi dokter Harkan tidak merasa kesulitan pun, Bayu tidak akan tau apa-apa sampai hal itu terbongkar sendiri. Dan yang kini ingin ia datangi adalah Ayah dan Suami dari Aara. Dua orang pria yang menurut Bayu lalai dan tidak peka.

__ADS_1


"Pah....Tolong jangan beri tahukan siapapun akan penyakit Aara. Aara tidak ingin mereka bersedih, biarkan Aara menghadapi ini sendiri."


Bayu tidak menyangka Aara masih saja ingin menutupi perihal kondisinya kepada siapapun padahal mertuanya kini sudah mengetahui dengan jelas penyakit yang ia derita. Dan Bayu pun tidak mungkin mengambil resiko jika mengiyakan permintaan itu.


Bayu tidak menjawab apapun, beliau menghela nafas berat kemudian menoleh ke arah Gibran.


"Om ingin bicara!"


"Baik Dok."


"Dan satu lagi, tolong usahakan upaya apapun untuk menantu saya!" tegas Bayu kemudian segera keluar ruangan Aara. Melihat itu Aara hanya bisa pasrah, mungkin ini waktunya semua keluarga tau akan kondisi nya yang sudah sangat lemah. Padahal Aara tidak ingin orang-orang yang ia sayang menangisi dirinya.


Gibran mengikuti langkah Om Bayu sampai kini ia memasuki suatu ruangan yang ia tau itu adalah ruangan kerja milik Om Bayu. Gibran duduk di depan meja kerja beliau kemudian menunduk meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf Om, ini permintaan Aara. Dia yang memaksa Gibran untuk tidak menceritakan semua pada keluarga. Termasuk Brian yang memang sejak awal tidak tau apa-apa." Gibran mengatakan dengan penuh penyesalan. Ya memang dia sangat menyesal, sebanarnya Gibran pun sudah membujuk Aara untuk berkata jujur tapi Aara seakan membatu dan sulit di beritahu.


"Ini hal yang sangat penting dan bisa-bisa nya kalian menutupi. Apa lagi kondisi Aara yang sudah sangat parah. Dan Om juga tidak menyangka mengapa anak Om yang merupakan suami nya tidak mengetahui apapun. Bahkan mereka tidur bersama, apa secuek itu Brian sampai tidak peduli dengan perubahan istrinya."


Om Bayu membuka kacamata nya dan mengusap air mata yang kembali menetes. Dirinya masih sangat syok akan kanyataan yang baru beliau ketahui. Dan tidak mudah baginya untuk percaya jika penyakit itu menimpa pada Aara.


"Jika Om ingin tau jawabannya, Om bisa tanyakan sendiri pada Brian. Bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Karena bukan wewenang saya untuk menjawab."


"Ya, Om akan tanyakan langsung pada anak itu. Dan kamu, cepat hubungin Raihan dan Andika! Semua harus tau secepatnya. Dan jangan lagi mendengarkan kata Aara. Ini demi kesembuhan Aara walaupun kemungkinan sangat tipis. Tapi Om sangat berharap Aara masih bisa di sembuhkan."


Bayu menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Hari ini ia begitu lelah di tambah lagi dengan masalah yang ada. Semakin membuatnya pusing kepala.


Akhirnya Gibran pun menghubungi kedua orangtuanya lalu Om dan tantenya sedangkan Bayu menghubungin istri serta Brian untuk segera datang.

__ADS_1


__ADS_2