LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 103


__ADS_3

Hening, semua orang nampak menunggu serangkaian kata yang akan menjadi tanda sah nya pernikahan. Brian menarik nafas dalam-dalam sebelum menggenggam tangan Daddy. Dalam hati dia berdoa agar dimudahkan dan dilancarkan mengucapkan kalimat ijab dalam satu hembusan nafas.


"Bismillah..."


Daddy mulai mengucapkan kalimat sakral dalam pernikahan sebagai wali nikah yang sah untuk putri kandungnya. Beliau menghentakkan tangan Brian menandakan pada calon menantunya untuk segera menjawab serangkaian yang ia ucapkan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lilyana Putri Baratajaya  binti Raihan..."


"Sah."


"Sah."


Brian menghela nafas lega setelah kata "Sah" ia dapatkan. Perjuangan tak ada yang sia-sia. Dia bisa memperistri Lily, cinta pertama dan yang terakhir dalam hidupnya. Ucapan syukur terucap lirih di dalam hati dengan tetes air mata yang tak dapat ia tahan.


Lily menundukkan kepala dengan rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu. Sama halnya dengan Brian, Lily pun tak mampu air matanya. Tante Erna yang mengerti akan Lily yang kini tengah menangis, memberikan sebuah tisu kepada ponakannya.

__ADS_1


"Silahkan bersalaman dan mengecup kening istrinya! Giliran udah sah malu-malu, tadi pengennya buru-buru," ledek Pak Penghulu.


Brian mengulum senyum, begitupun dengan Lily. Dia mengusap air matanya dan menoleh ke arah Lily yang kini telah menjadi istrinya. Brian mengulurkan tangannya dan perlahan di sambut oleh Lily.


Pertama kali mengecup tangan Brian dengan status sebagai istri membuat hati Lily menghangat. Kecupan hangat di kening membuat jantungnya berdebar kencang. Perlahan senyum di bibir Lily kembali terbit begitu damai dan membahagiakan namun, tidak lama kemudian Brian membuat dia geregetan. Suaminya tak kunjung menyudahi kecupannya dan menahan wajah Lily hingga tak bisa terlepas.


"Buseeet ini anak soang, loe baca doa apa lagi nahan kepengen? Nyiumnya lama bener Bang," celetuk Om Andika membuat yang lainnya tertawa melihat tingkah Brian.


Brian melepas kecupan di kening Lily, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyuman terpaksa. Brian menoleh ke arah Lily, dia tersenyum melihat wajah Lily yang merona dan dengan gemas Brian menarik hidung sang istri.


Setelah menandatangani kedua buku nikah dan berkas-berkas yang lainnya. Keduanya lanjut bersalaman dengan para orang tua kemudian singgah di pelaminan. Akhirnya pelaminan yang megah dengan dekor yang indah, menjadi tempat keduanya saling sapa setelah seminggu tak berjumpa.


"Nggak kangen sama Kakak?" lirih Brian dengan senyum yang mengembang. Keduanya tengah menyalami para tamu undangan yang tidak ada hentinya. Menjelang siang saja sudah ramai begini bagaimana nanti sore dan malam. Sudah pasti keduanya tak bisa beristirahat dan hanya bisa duduk sebentar lalu masuk kamar untuk mengganti pakaian.


"Haruskah Lily ungkapkan sedangkan Kakak sudah tau jawabannya?" lirih Lily, bukannya menjawab Lily justru kembali melempar pertanyaan yang membuat Brian begitu gemas mendengarnya. Namun, saat ingin sekali menyentuh istrinya, Brian kesulitan karena tamu yang begitu banyak dan tak kunjung habis.

__ADS_1


Brian begitu kesal, kakinya mulai lelah begitu juga Lily yang ia lihat mulai meringis menahan sakit. Rasanya Brian tidak tega tetapi tidak mungkin meminta tamu yang masih mengular untuk menghentikan dulu pergerakan mereka.


"Lepas heelsnya Sayang jika itu menyakitkan kamu! Jangan sampai kaki istriku terluka."


"Tapi aku jadi pendek sekali nanti Kak," tolak Lily yang tidak ingin melepas heelsnya padahal dia sudah begitu tidak nyaman.


"Lepas atau Kakak buat pengumuman agar para tamu yang hadir langsung pulang saja dan tidak perlu menyalami kita!" ancam Brian yang akan berujung malu andai Lily membiarkan Brian melakukan itu. "Nurut sama suami Sayang!" Sepertinya kini Brian memilikki senjata setiap kali Lily mulai sulit diatur. Terbukti dengan Lily yang tadi berdiri sejajar pundaknya, kini tampak lebih rendah setelah menanggalkan heels yang tingginya 10 meter. Brian tidak membayangkan betapa tersiksanya wanita itu.


Tepat di jam 12 siang, keduanya di minta untuk kembali ke kamar untuk berganti busana dan merapikan riasan. Lily dan Brian pun akan menyempatkan untuk makan siang selagi ada kesempatan. Brian menggenggam tangan Lily menuju kamar yang semalam Lily gunakan. Namun, keduanya belum bisa bermesraan karena ada team rias yang akan membantu Lily untuk berganti dan merapikan kembali riasannya.


"Kak, aku ingin menyusui Brilly dan Lian dulu sebentar selagi bisa. Mereka di mana ya Kak?" tanya Lily setelah keduanya masuk ke dalam lift.


Brian mengulum senyum, dia melepas genggaman tangan Lily dan perlahan mendorong tubuh Lily hingga jarak keduanya begitu rapat. Brian mengangkat dagu Lily agar pandangan keduanya bertemu.


"Kak," lirih Lily saat sadar tatapan Brian tak hanya ke wajahnya tetapi mengarah ke dadanya yang nampak membusung karena gaun yang ia kenakan dan volume yang semakin membesar karena sudah waktunya kembali di pompa.

__ADS_1


"Akan Kakak hubungi Mommy, tetapi nanti malam itu menjadi jatah Kakak," bisik Brian membuat Lily resah. Lily yakin nanti malam ia tak akan bisa kabur dan lepas dari suaminya. Terlebih tatapan lapar yang Brian tunjukkan membuat Lily gemetar. Maklum anak soang selalu meresahkan.


__ADS_2