
Setelah tiga hari di rumah sakit, sore ini Lily sudah diperbolehkan untuk pulang. Lily sudah bisa lebih leluasa bergerak meski jahitan di perutnya masih terasa nyeri. Mungkin karena masih basah dan dalam masa pemulihan. Butuh obat yang lebih mujarab agar cepat kering dan tidak sakit lagi.
Kepulangannya tidak di antar oleh Brian karena pekerjaan yang tidak bisa pria itu tinggalkan. Dia pulang bersama dengan Mommy dan di bantu Tante Erna yang sengaja datang sekalian menjenguknya. Sedangkan Daddy Raihan bertugas di depan menyopiri mereka berlima.
Sampai di rumah, Lily dan kedua putranya di sambut oleh Tante Cika yang telah menyiapkan nasi kuning dan bubur merah putih. Katanya untuk syukuran menyambut kepulangan kedua cucu kesayangan. Meski masih pulang ke rumah calon besan namun, Tante Cika begitu bahagia. Pagi-pagi sekali beliau sudah datang ke kediaman Baratajaya untuk mengeksekusi bahan makanan yang telah beliau beli.
"Wah... Ini semua loe yang masak Cik? Hancur nggak tuh dapur gue loe buat?" tanya Mommy Andini setelah menidurkan Lian di kamar sementara Erna masih menemani Lily.
"Berantakan dikit nggak apa-apa lah, demi cucu Din. Nanti gue bantuin beres-beres," jawab Cika, dia segera bersiap untuk melangkah ke kamar Lily.
"Loe mau kemana?" seru Andini setalah menyicipi bubur buatan sahabatnya itu.
"Lihat cucu gue, loe kalo mau makan duluan aja. Gue mau main dulu sama si kembar." Cika segera menaiki tangga dan masuk ke kamar Lily. Sedangkan Andini memilih untuk mendekati suaminya untuk melakukan ritual cipika cipiki sebelum di tinggal ke kantor.
"Assalamualaikum cucu Oma..."
Lily tersenyum melihat Tante Cika masuk dengan membawa paper bag yang berisikan mainan untuk kedua cucunya. Lily segera bergeser memberikan tempat agar Tante Cika bisa ikut duduk dan menyapa Brilly dan Lian yang sedang tiduran di ranjang Lily.
"Senangnya sudah pulang, anteng ya nak! Sementara Ayah belum bisa menemani, nanti biar di temani dengan Oma Andini dulu ya Ganteng."
Lily menundukkan kepalanya dengan mengulum senyum. Tidak menyangka perjuangannya sudah sampai di titik ini. Dia pun bersyukur mungkin dalam waktu dekat bisa benar-benar menanggalkan status lajang dan berharap hidupnya semakin terarah.
__ADS_1
Erna melirik Lily yang diam melamun, dia tau apa yang kini sedang Lily pikirkan dan menggenggam tangan Lily membuat Ibu baru itu menoleh menatapnya.
"Jangan melamun! Dipikirkan boleh tetapi, jangan di jadikan beban pikiran! Santai saja, nikmati hari-hari menjadi Ibu! Sebelum nanti kamu akan capek dirusuhi suami setiap hari." Tante Erna memberi nasihat yang malah membuat wajah Lily merona. Meski belum berumah tangga tetapi dia tau arah pembicaraan itu. Apa lagi jika bukan urusan ranjang bergoyang. Terlebih dirinya yang sudah merasakan meski hanya beberapa kali namun, kenangannya selalu membuat Lily merinding.
"Yupz bener banget, apa lagi keturunan soang, hati-hati setelah ini pasti akan launching lagi!" sahut Tante Cika yang malah membuat Lily reflek mengusap perutnya. Tiba-tiba perutnya terasa ngilu sekali mendengar ucapan Tante Cika.
Jahitannya saja masih basah, sudah akan launching lagi. Sepertinya harus nego sebelum kejadian. Brian harus dia ajak meeting dulu sebelum menikah perihal anak sebelum kebobolan. Mengingat dia yang melahirkan jalur darat bukan jalur lembab yang cepat dalam penyembuhan.
"Jangan buat takut ponakan gue! Tapi emang bener sich, siap sarung aja yang banyak ya Li, biar jarak anak aman," ucap Tante Erna yang awalnya membela tetapi malah justru membenarkan kata-kata Tante Cika.
Lily mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Tante Erna. Beliau yang paham akan tatapan Lily yang kebingungan segera mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Lily menutup wajahnya.
"Eh loe apain Mbak calon mantu gue? Jangan diajarin yang nggak-nggak Mbak, nanti jadi pinter!" ujar Cika asal.
Sore harinya, keluarga besar berkumpul untuk makan bersama dan memotong tumpeng yang tadi Cika buat. Rasa syukur kembali Raihan ucapkan, mengingat masalah di keluarganya yang semakin lama semakin ketemu titik terang. Lily selangkah lagi akan merajut rumah tangga dengan Brian dan Aara yang kabarnya sehat dengan perkembangan yang begitu pesat dalam hidupnya.
"Rencananya kapan kalian akan menikah?"
Brian dan Lily segera menoleh ke arah Daddy. Keduanya melihat keseriusan di wajah Daddy membuat mereka mendadak grogi. Keluarga yang lain pun menyimak seraya menyantap makanan penutup. Semua keluarga begitu mensupport pernikahan Brian dan Lily. Mereka pun turut bahagia melihat keduanya akhirnya bersama.
"Brian inginnya secepatnya Dad tetapi, Brian kembalikan lagi ke Lily. Kapan Lily siap untuk Brian nikahi?" Brian menoleh ke arah Lily yang masih diam dengan wajah bingung.
__ADS_1
Baginya lebih aman di nikahi setelah nifas selesai karena Lily teringat dengan rusuhnya Brian. Seperti di rumah sakit saja pria itu meresahkan sekali. Lily tidak ingin masa pemulihannya berjalan lama karena sikap Brian yang membuat gelisah.
"Bisa tidak menunggu anak-anak berumur dua bulan gitu? Lily masih proses penyembuhan, belum bisa mempersiapkan semuanya," jawab Lily berhati-hati.
"Bilang aja Lily takut di serang di saat palang pintu masih di gembok. Tendang aja Ly, kalo anak buaya ini berani menerobos di tanggalan yang masih berwarna merah," sahut Andika membuat semua yang ada di sana menahan tawa, kecuali Lily yang kini terlihat malu dan Brian yang mengenal nafas kasar dengan mantap sengit Andika.
"Haiyah... Selalu saja bawa-bawa buaya, kalo udah tobat tuh jangan di senggol-senggol! Udah jinak nich, jangan di buat bangun lagi!" tegur Bayu yang tidak terima tetapi malah mendapat cubitan di perut oleh sang istri. "Ouw sakit Mah, kan cuma mengingatkan dan nggak akan bangun di sembarang lahan kok."
Cika tidak menyahut namun tatapannya begitu mematikan. Dapat Bayu rasakan sebuah ancaman melayang dari tatapan sang istri. Bayu menghela nafas pasrah andai nasibnya malam ini harus tidur di luar. Sedangkan yang lain sudah tidak bisa menahan tawa mereka setelah melihat wajah Brian yang begitu memelas.
Brian menoleh ke arah Lily, rasanya dia sangat keberatan jika harus menunggu dua bulan lamanya. Brian berharap masih bisa mendapat diskon, syukur-syukur Lily mau memangkas banyak dari waktu yang diminta.
"Nggak kelamaan? Memangnya nggak ingin dapet pelukan setiap malam? Kakak rindu loh kebersamaan kita. Nahannya sampe sakit kepala," lirih Brian agar tidak ada yang mendengar.
Lily tersenyum dengan menggenggam tangan Brian yang berada di bawah meja. Bukannya dia tega tetapi, jika terlalu cepat Lily seakan belum siap. Menikah banyak sekali persiapan dan dia baru saja melahirkan.
"Di korting dikit boleh, tapi banyak jangan. Lily kan masih mau perawatan dulu biar makin disayang sama Ayahnya Brilly dan Lian," jawab Lily tak kalah lirih dengan wajah merona.
"Udah Brian, nggak apa-apa lamaan dikit. Nikmati masa kebebasanmu dengan wanita sexy di luar sana!" celetuk Gibran merusak suasana, diam-diam pria itu mendengar bisikan-bisikan mengudara yang membuat dirinya gatal untuk berkomentar. Tanpa dia sadar telah menyiram bensin di atas lilin. Tatapan kedua orang tuanya begitu mematikan.
Gibran meringis menghadap kedua orangtuanya dan kembali menoleh ke arah Lily dan Brian yang kini menahan tawa dengan wajah meledek.
__ADS_1
"Mampuuuussss....Ngajarin gue jajan, makan tuh amukan nyokap loe!" ledek Brian dengan berbisik.
"Awas ya loe Gibran ngajarin Brian aneh-aneh! Belum aja loe gue kutuk jatuh cinta sama cewek yang cuma mau ngabisin harta loe doang," lanjut Lily dengan kesal. Sejak awal keterlibatan Gibran membuat masalah semakin runyam. Walaupun tidak di pungkiri memberi hikmah yang besar. Kini Lily dan Brian bisa bersatu setelah melewati jurang yang terjal.