
Lily menghela nafas panjang, ia tau jika apa yang ia lakukan tidak adil untuk Brian. Dan itu menyulitkan Brian, di saat sudah akan melepaskan semua rasa tapi justru ia menghentikan secara sepihak dan tak mau melanjutkan.
Sebenarnya itu bukan tanpa sebab, saat Lily masuk ke dalam kamar mandi ia sadar dengan apa yang ia lakukan sepenuhnya memang salah. Meski tadi sempat kalah dengan nafsu namun saat ia membasuh mukanya bayangan akan Aara terlintas jelas.
Lily merangkak naik ke ranjang, suara lenguhan Brian begitu terdengar di telinga. Cukup kasihan namun apa boleh buat, rasa bersalah tiba-tiba muncul meruntuhkan gairahnya.
"Maaf kak, gue yakin loe bisa....Bukan gue lagi tempat loe buang semua benih loe itu. Walaupun gue sekarang udah percaya kalo loe belum menyentuh kak Aara. Lalu dengan gejala yang Kak Aara perlihatkan tadi, dia hamil anak siapa..." Gumam Lily dengan mengernyitkan dahi.
"Lagi ngelamunin apa?" pertanyaan Brian mengejutkan Lily dan membuyarkan lamunannya. Lily menoleh ke arah Brian yang sudah memakai pakaian rapi. Wajahnya merona kemudian segera membuang muka.
"Udah?" lirih Lily.
"Apa nya yang udah, hhmm?" tanya Brian balik dengan mendekati Lily dan duduk di ranjangnya.
"Udaaaah....mmmmm......Udah itu..."
__ADS_1
"Udah itu?" bisik Brian dengan mendekati Lily yang tampak gugup. "Tau nggak? kalo tadi sampe nggak keluar gue bisa pusing sampe pagi. Dan loe itu nggak adil, waktu itu minta gue terus gue turutin sampe tuntas. Tapi tadi giliran gue mau, loe udah gue buat puas. Eh buntutnya gue di suruh arisan sendirian." Brian menghela nafas panjang, untung bayangan Lily masih jelas diingatan jadi dia bisa berfantasi sampai si Joni muntah-muntah. Kalo nggak .... hhuuuuhhff nggak kebayang dia bakal uring-uringan sampai pagi.
"Gue....mmmm Gue ngerasa ber_"
"Sssttt......Gue ngerti, tapi gue mengaskan sama loe. Gue nggak ada nyentuh Aara sama sekali. Jadi please jangan loe raguin cinta gue!" jari telunjuk Brian singgah di bibir Lily membuat wanita itu menghentikan ucapannya.
Lily menoleh ke arah Brian, pria itu tersenyum kemudian mengecup kening Lily begitu dalam. "Makasih ya, sekarang loe tidur! Kasian anak Ayah udah malem masih ke ganggu ya?" Pandangan Brian turun ke perut Lily.
"Kapan periksa lagi? kita harus USG biar tau keadaannya dan memastikan jenis kelamin dia." Masih mengusap perut Lily Brian tersenyum merasakan tendangan kecil yang berasal dari dalam sana. "Eh....anak Ayah sudah pintar nendang-nendang ya...." Mata Brian berbinar menoleh ke Lily yang terperangah merasakan gerakan dari bayi yang ia kandung. Air matanya menetes dengan senyum yang perlahan mengembang. Dia tidak menyangka akan sebahagia ini, karena ini pertama kali bayinya memberikan tendangan.
"Mau apa? Oh mau ditengokin lagi....Tanya Bunda sayang, boleh atau tidak Ayah menengok kamu lagi!...Auwhh...."
Lily memukul pundak Brian dengan gemas, sembarangan sekali mau menengok lagi. Itu mah maunya Brian saja alias modus.
"Nggak aneh-aneh ya kak! Balik sana! Di cariin loe ntar, gue nggak mau nambah masalah ya kak!" Lily berubah menjadi mode galak. Dia menatap jengah Brian yang kini melihatnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Iya gue balik, tidur nyenyak! Untuk acara di rumah Tiara pakai pakaian yang ada di meja itu ya!" Brian menunjuk meja sofa di dekat balkon kamar Lily. "Di sana juga acara empat bulanan kandungan loe Ly, gue mau loe tetap menjadi istimewa walaupun nggak terlihat."
Lily mengalihkan pandangannya ke arah kotak yang bertalikan pita. Begitu cantik meski ia tidak tau apa isi di dalamnya.
"Gue keluar, jangan lupa di pakai ya!"
Cup
Brian meninggalkan kecupan di pipi lalu perlahan keluar dari kamar Lily.
"Brian...."
deg
Langkah Brian terhenti saat ia ingin melesat ke kamarnya. Matanya terpejam dengan degup jantung dua kali lipat tak seperti biasa.
__ADS_1