
Lily segera masuk ke dalam rumah dan melangkah terburu menuju kamar. Namun belum sempat kakinya melangkah menuju tangga, ia bertemu Om Andika yang kebetulan sudah ingin pulang. Terpaksa Lily berhenti dan menyapa terlebih dahulu.
"Om...."
Andika tidak langsung menjawab, ia mengamati wajah Lily dan perut ponakannya bergantian. Sungguh malang nasib ponakannya saat ini. Setelah tadi Andika meminta Raihan dan Andini untuk tidak terlalu keras dengan Lily dan mencari tau siapa pria yang menghamili Lily secara diam-diam. Kini beliau bisa memeluk ponakannya dengan erat.
"Kenapa begini nak......" lirih Andika.
Lily diam namun air matanya kembali menggenang dan tak bisa di tahan, sebenarnya Lily sudah lelah untuk menangis. Tapi keadaan dan orang-orang yang justru membuatnya kembali mengingat akan masalahnya membuat ia lagi-lagi bersedih.
"Aku tidak apa-apa Om....." Lily merenggangkan pelukannya dan tersenyum manis dengan mengusap air matanya. "Disini ada little Lily, dia akan menjadi teman Lily dan penyemangat untuk Lily melakukan apapun. Hanya saja...."
"Tidak, tidak ada yang berhak merebut anak ini. Kamu yang mengandung, kamu yang melahirkan dan kamu juga yang membesarkan." Ucapan Andika di saksikan oleh kedua orang tua Lily yang berdiri di belakang Andika. Andika paham yang menjadi beban Lily saat ini.
Tadi Andika juga sangat menyayangkan keputusan Raihan untuk memberikan anak Lily kepada Aara. Dia hampir-hampir marah besar dan tidak mengerti apa maksud dari Raihan dengan melakukan itu. Tapi setelah berunding dengan kepala dingin akhirnya Raihan mengalah dan tidak lagi menuntut apa-apa pada Lily.
"Iya nak, maafkan Daddy sayang...."
Lily terperangah tak menyangka, berkat kedatangan Om Andika dia bisa kembali memiliki anaknya. Tapi bagaimana dengan Aara. Apa kakaknya mau menerima begitu saja.....
"Tapi Daddy, bagaimana dengan Kak Aara?" tanya Lily dengan ragu.
__ADS_1
"Biar Daddy yang bicara dengan Aara, Daddy sadar jika keputusan Daddy tidak adil untuk kamu. Tapi untuk tetap tinggal di rumah itu tetap berlaku. Dan Daddy pun berharap kamu mau memberitahu siapa pria itu!" Lily tidak mungkin memberitahu kepada siapapun. Akan jadi apa Brian jika semua tau dan bagaimana dengan nasib kakaknya nanti.
Apa lagi tadi dia melihat sendiri gejala yang Aara alami sama dengan dirinya. Jika benar kakaknya juga hamil, mau tidak mau Brian harus menikahi dirinya tanpa meninggalkan Aara. Dan itu tidak mungkin terjadi, sama saja dia menjadi tulang di dalam rumah tangga kakaknya sendiri. Tidak akan Lily lakukan, apa lagi akan menjadi madu untuk Aara.
Setelah Lily mati-matian menahan rasa ingin di sayang, di manja, dan di perhatikan dengan rasa cinta yang lebih dari pria yang menjadi ayah dari anaknya. Tidak mungkin dia menghancurkan usahanya sendiri dan menambah keruh suasana.
"Lily....." panggil om Andika yang melihat Lily justru melamun setelah di minta untuk memberitahu siapa pria yang menghamilinya. "Ehemmmm kita tidak akan memaksa jika kamu belum siap. Ya sudah Om pulang ya, jangan lupa lusa kamu hadir di acara tujuh bulan Tiara. Harus datang biar sekalian kamu juga merayakan empat bulanan di sana."
Lily tak langsung menjawab, dia melirik kedua orangtuanya yang tersenyum menganggukkan kepala.
"Nggak usah pake nanya bonyok loe! Om yang akan tanggung jawab kalo sampe mereka marah. Mau di pecat kali jadi adik!"
"Kita ngijinin kak, loe ngegas aja kayak bajaj!" kesal Andini akan ucapan Andika yang main sewot aja.
Dia yang sejak tadi tidak di hiraukan oleh Aara merasa jengah dan memutuskan untuk keluar kamar. Padahal niatnya baik untuk menanyakan apa yang terjadi tapi Aara sepertinya tidak ingin di ganggu. Tapi belum sampai kakinya melangkah turun ia melihat Lily dan Om andika yang saling berpelukan. Akhirnya Brian mendengar semua pembicaraan tersebut.
"Tante...." Lily menatap Tante Erna yang sejak tadi diam tapi begitu sedih saat keputusan itu di setujui oleh Andini dan Raihan. Ternyata Tante Erna begitu lega sama halnya dengan dia.
"Sini sayang....Tante mau peluk!"
"Tante...
__ADS_1
"Ponakan Tante akhirnya mau jadi ibu ya....selamat ya sayang sehat-sehat!" Erna sengaja tidak menyinggung apapun yang akan menyakiti hati Lily.
"Makasih Tante.... Tante jangan nangis!"
"Nggak, ini air mata bahagia karena Tante akan mendapat cucu dua. Dari kamu dan juga Tiara, ya kan mas?" tanya Erna dengan menyurut air mata. Lily pun berusaha untuk tersenyum meski ia tau jika tantenya hanya menutupi rasa sedih.
"Tentu donk.....Ya sudah kita pulang ya, sudah malam. Kamu baik-baik!"
"Iya Om..." Lily menganggukkan kepala kemudian kembali memeluk Tante Erna.
"Salam buat Aara, mudah-mudahan gue juga bakal dapet ponakan dari dia. Biar tambah rame dech keluarga kita nantinya!"
"Aamiin....Iya nanti gue sampein! paling lagi manja-manjaan sama lakinya. Maklum lagi ngidam biasanya rusuh sama laki kayak gue!" jawab Andini.
"Loe mah ngidam nggak ngidam emang rusuh!" celetuk Andika yang segera menarik tangan Erna untuk segera pulang. Dan Gibran melangkah di belakang mereka dengan tersenyum menatap Lily.
Lily membalas senyuman Gibran dan segera memutuskan untuk masuk kedalam kamar. Dia tidak ikut mengantar sampai depan karena mendadak hatinya tersentuh dengan ucapan sang Mommy.
Sampai di kamar Lily segera masuk dan menutup pintu. Dia ingin segera mengistirahatkan diri dan membuang rasa pernah dan gelisah di hati.
"Kak! ngapain disini?" tanya Lily yang terkejut saat ia berbalik badan dan melihat Brian sudah duduk di ranjangnya.
__ADS_1
"Mau manjain Ibu dari anak gue!" jawabnya kemudian segera melangkah mendekat dan mengunci pintu kamar Lily.
"Kak tapi.... eeemmmmm" Lily tak lagi dapat protes saat bibir Brian tiba-tiba membungkam mulutnya."