
Kabar pernikahan Lily yang di gelar dua Minggu lagi membuat Aara bingung. Dia tidak tau akankah bisa pulang atau tidak, sedangkan dia sudah mendaftarkan diri di fakultas yang akan menjadi tempatnya melanjutkan pendidikan. Jika sudah masuk begini sudah dapat dipastikan dia akan sibuk dan tidak banyak waktu.
Aara melamun di taman dengan menatap bangunan tinggi yang selama beberapa bulan ini menjadi tempatnya tinggal. Belum ingin masuk dan memilih untuk menikmati waktu senja di temani dengan hembusan angin yang menyegarkan.
"Minum dulu!" ucap Wahyu yang tiba-tiba datang dengan membawa satu cup coklat hangat. Pria itu duduk setalah Aara menerimanya.
Hubungan keduanya sudah membaik, Aara pun sudah mulai menerima Wahyu. Meski terkadang terlibat perseteruan namun, Aara sudah tidak sekesal dulu lagi.
"Ngapain duduk di sini sendirian?"
"Nyari yang adem aja," jawab Aara kemudian menyeruput minuman dari Wahyu.
"Di dalem lebih adem." Wahyu menghela nafas dan menoleh ke arah Aara. "Ada yang dipikirkan?" tanyanya lagi.
Aara tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Wahyu. Dia menoleh ke arah Wahyu dan menggeser tubuhnya hingga kini berhadapan dengan pria tampan di sampingnya.
"Loe nggak bosen dengan semua masalah gue?"
Wahyu tertawa kecil, dengan gemas dia mengacak rambut Aara dan membalas tatapan wanita itu.
"Masih nanya? Bukannya itu udah jadi tugas gue?"
Aara bersidekap dada dengan memicingkan mata, "gue heran, sampai sekarang gue belum nemuin jawabannya. Dibayar berapa sich loe sama Rafkha? Pasti loe masih dapet bonus juga kan dari Daddy?"
Pertanyaan Aara membuat Wahyu mendekat dan mengikis jarak. Pria itu terus menatap Aara dengan senyum miring meremehkan. Seharusnya dia yang yang merasa diremehkan oleh Aara tetapi justru Wahyu seperti bangga dengan dirinya sendiri.
"Gue nggak butuh bayaran, duit gue udah banyak. Tapi kalo Rafkha dan bokap loe niat ngasih kenapa harus gue tolak? Dan loe tanya berapa nominalnya kan?" tanya Wahyu dan menjeda ucapannya. Dia semakin mengikis jarak hingga wajahnya kini tepat di samping wajah Aara. "Cukup buat gue melamar loe, Aara Jhen Putri Baratajaya," bisik Wahyu membuat Aara membuang muka.
__ADS_1
Jantung Aara tiba-tiba berdetak begitu cepat, ntah mengapa ada getaran yang berbeda tetapi, hatinya seakan menolak. Entah serius atau hanya main-main, yang jelas Aara tidak ingin melangkah lebih jauh dengan kembali membuat komitmen dengan pria manapun. Meskipun di hati yang paling dalam, dia ingin memiliki keluarga kecil seperti kakak dan adiknya. Namun, melihat kondisinya yang sekarang membuat Aara terpaksa membuang jauh-jauh impian tersebut.
"Bercanda loe lucu banget Yu, sampe pengen ketawa gue dengernya." Aara kembali menatap Wahyu dengan senyum yang dipaksakan.
"Bagaimana kalo gue serius?" tanya Wahyu tanpa memutuskan pandangan.
Dapat Aara lihat pancaran dari mata Wahyu terlihat begitu serius. Tidak ada kebohongan atau terlihat sedang bercanda.
"Gue nggak minat," jawab Aara dengan ketus. Dia segera beranjak dari duduknya dan melangkah panjang masuk ke dalam gedung apartemen.
Wahyu menghela nafas berat melihat Aara yang sudah pergi menjauh. Dia pun ikut beranjak dan mengejar Aara hingga mampu menarik tangan Aara dan mendorong wanita itu masuk ke dalam lift yang kosong.
Aara tersentak merasakan tubuhnya yang kini di kukung oleh kedua tangan Wahyu. Tatpan mata yang menajam membuat Aara mendadak sesak nafas. Bukan karena takut tetapi, karena tatapan itu begitu mempengaruhi hatinya. Getaran yang begitu kuat semakin Aara rasakan.
Aara menepis perasaan yang mungkin telah tumbuh karena terbiasa bersama. Tidak mungkin dalam waktu yang begitu cepat dia sudah move on dari mantan suami yang kini akan menjadi iparnya. Padahal sejak remaja dirinya hanya tertarik dengan satu pria tetapi dalam hitungan bulan Wahyu mampu membuatnya melupakan Brian.
"Gue serius!" lirih Wahyu dengan penuh penegasan.
"Gue lebih serius, jangan mengharap apapun sama gue! Di luar sana banyak wanita yang layak mendapatkan loe.."
"Bagaimana kalo gue cuma mau sama loe?" Tatapan Wahyu makin menajam, ntah mengapa kali ini Wahyu tidak suka ditolak. Padahal dia bukan tipe yang keras. Saat mencintai Tiara pun, Wahyu ikhlas mendapat penolakan. Sangat berbeda saat Aara menolak telak perasannya.
Kini posisi keduanya begitu rapat. Aara tak bisa lagi memberontak. Dia pun bingung kenapa Wahyu begitu menginginkannya. Padahal jelas-jelas Wahyu tau bagaimana nasibnya kelak jika memperistri wanita tak berahim. Sungguh Aara tidak mengerti isi kepala pria yang kini menatapnya dengan lekat.
"Loe akan kecewa kalo bersikeras menginginkan gue. Gue bukan wanita yang sempurna dan gue nggak mau berkomitmen lagi dengan pria mana pun. Anggap aja gue belum bisa move on dari cinta pertama gue dan gue harap, loe berhenti main-main sama perasaan. Gue tau loe juga nggak serius kan?"
"Bagaimana jika nyatanya loe udah move on tetapi loe nggak mau jujur dengan hati loe. Gue tau Ra, loe udah mulai suka kan sama gue? Jangan pernah bohongin hati loe kalo loe mau sembuh dari segala luka! Karena itu hanya menambah luka baru dan membuat luka lama semakin menganga. Sedangkan gue serius dengan apa yang gue bicarakan. Gue suka sama loe!"
__ADS_1
Deg
Wahyu melepaskan tubuh Aara dan segera keluar dari lift yang telah berhenti di lantai kamar mereka. Dia tidak lagi menoleh ke belakang seakan tidak peduli dengan wanita yang kini masih diam memaku di dalam lift.
Aara mendadak tak bisa berucap, dia masih menganga tak menyangka jika Wahyu mengatakan suka padanya. Langkah Aara begitu berat keluar dari lift setelah sadar Wahyu telah meninggalkan nya. Aara menoleh ke arah unit Wahyu yang sepi, pintu sudah tertutup menandakan Wahyu telah masuk ke dalam.
"Gue nggak lagi mimpi kan?" lirih Aara kemudian segera masuk ke dalam.
Sampai malam keduanya tak lagi bertemu, Wahyu pun tidak mampir ke tempat Aara untuk makan malam. Sedangkan Aara nampak mager dan terus memikirkan ucapan Wahyu yang membuatnya masih belum percaya sepenuhnya.
Sampai keesokan harinya keduanya bertemu saat sama-sama ingin keluar. Aara menoleh ke arah Wahyu begitupun sebaliknya tetapi, dengan cepat Aara mengalihkan pandangannya. Aara berusaha bersikap biasa meskipun terasa canggung. Sedangkan Wahyu terus saja menatapnya hingga langkahnya kini tepat berada di samping Aara.
"Gue antar!"
"Gue bisa berangkat sendiri Yu, loe bukan sopir gue!"
Aara segera melangkah menuju lift dengan terburu-buru, tanpa dia sadar Wahyu mengejarnya dengan begitu gemas.
"Bisa nggak sekali-kali tuh jawab ngenakin! Loe bikin gue nggak tahan pengen gigit bibir loe tau nggak!" ucap Wahyu dengan begitu geregetan dengan wanita yang kini merengut menatapnya.
"Nggak usah loe jelasin, gue tau kalo gue bukan sopir loe. Tapi gue mau mastiin kalo loe sampai kampus dengan selamat," lanjut Wahyu kemudian menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Wahyu tau pagi ini Aara akan berangkat ke kampus untuk daftar ulang. Dia pun memang berniat untuk mengantar meskipun Aara tidak meminta.
Aara berdecak kesal, dia pun pasrah menerima. Aara sedikit heran dengan Wahyu yang bersikap biasa saja seakan melupakan kejadian kemarin. Padahal Aara tengah tidak nyaman dengan posisi mereka kini yang hanya berdua saja di dalam lift.
"Gue masih nunggu jawaban loe dan ini alasan gue nggak nerusin sekolah lagi. Loe tinggal pilih, pulang dan gue lamar. Atau tetap di sini tetapi nggak ada gue lagi," ucap Wahyu sebelum dia melangkah keluar dari pintu lift.
__ADS_1