
"Pah...." Brian mendekati meja kerja Papah Bayu. Dia melihat gurat kesedihan di balik wajah lelah Sang Papah. Perlahan Brian duduk di hadapan beliau. Rasanya Brian ragu untuk untuk berbicara serius, mungkin waktunya belum tepat.
"Ada apa?" tanya Papah Bayu singkat. Brian terdiam tak menjawab, ia yakin Papahnya sudah tau tentang Lily. "Kamu datang pasti ada tujuan, katakan saja!" ucap Papah lagi.
"Aku minta maaf telah membuat Papah kecewa, tapi aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku. Lily dan kedua anakku butuh aku Pah." Brian menundukkan kepala. Rasanya ia tidak tega membuat beban Papahnya bertambah banyak. Dan pasti membuat Mamahnya di rumah kepikiran. Bahkan Brian belum berani bertemu dengan Mamahnya. Karena belum siap melihat wajah kekecewaan sang Mamah.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya beliau lagi.
"Daddy telah merestui hubunganku dengan Lily dan kami akan menikah setelah aku menceraikan Aara."
Bayu menatap intens putranya, kemudian beranjak dari duduknya dan dengan cepat mencengkram baju Brian. Hal itu jelas membuat Brian terkejut, Papahnya tidak pernah kasar. Tapi kali ini kedua matanya menyiratkan kemarahan dan emosi yang tertahan.
"Papah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pria pecundang. Apa kamu tidak berpikir bagaimana dengan kondisi Aara setelah kamu ceraikan? Dia membutuhkan kamu, tapi kamu justru memutuskan untuk menggugat cerai dia. Sedangkan Papah di sini sedang berjuang untuk mendapatkan dokter yang bisa menangani penyakit Aara. Dan kamu justru ingin merusak usaha Papah."
"Aara butuh dukungan dari orang-orang sekitar, bukan justru kamu tinggalkan. Bersabarlah sedikit! Apa kamu tidak memikirkan nasib Aara? Meskipun Papah tau Lily pun membutuhkan kamu, tapi saat ini Aara yang sedang kritis. Dahulukan apa yang perlu kamu selamatkan lebih dulu, sebelum kamu menyesal nantinya!"
Bayu melepaskan cengkeraman tangannya hingga membuat tubuh Brian terhuyung ke belakang. Bayu membuka kaca matanya kemudian beralih duduk di sofa. Rasa bersalah akan sikap putranya dan dirinya yang ikut andil dengan perjodohan itu membuat Bayu sangat ingin menolong Aara. Dan ia berharap ada jalan meski harapan hanya setipis kertas.
Brian ikut duduk di sofa, ia bingung harus bagaimana dalam bersikap. Di sisi lain hatinya sedang berbunga-bunga karena hubungannya dengan Lily yang kembali membaik. Tapi rencana tak semulus perkiraan. Setelah mertuanya merestui, kini Papah kandungnya justru menolak rencananya dan tidak memberi restu akan keputusannya menceraikan Aara.
__ADS_1
"Tapi bagaiman dengan Lily Pah? Aku tidak ingin lagi kehilangan Lily, sudah cukup aku membuatnya sakit hati dengan pernikahanku dengan Aara. Dan membuatnya berjuang sendirian. Lalu sekarang di saat hubungan kami sudah membaik dan Lily mau aku nikahi, Papah menghalangi hubungan kami."
Bayu menghela nafas berat, ia menatap putranya dengan rasa bersalah. Andai sejak awal tidak ikut campur dengan masalah anak, semua tidak akan runyam seperti sekarang. Bahkan emosi yang tadi ia luapkan bukan semata-mata karena kesalahan Brian, tapi karena ia menyesali keputusannya hingga kininrumah tangga putranya berantakan.
"Bicaralah pada Lily dan berdoalah semoga ada dokter yang bisa menangani penyakit Aara! Semoga Lily bisa mengerti dan mengalah sedikit lagi pada Aara. Karena keadaan yang membuat kalian sulit untuk bersama. Semoga ada mukjizat untuk Aara agar ada titik terang untuk masalah kalian."
Brian memijit pelipisnya, kepalanya serasa ingin pecah. Banyaknya masalah, kurangnya istirahat dan hati yang tak karuan membuatnya butuh menepi sejenak. Perlahan ia bangkit dan melangkah keluar, ternyata masalah ini belum ada ujungnya. Dan masih sangat rumit untuk di selesaikan.
Brian melangkah menuju taman, ia butuh angin segar. Meninggal Aara dan Lily sebentar untuk menyehatkan akal dan pikirannya. "Beri jalan Tuhan.... Maaf jika aku mengeluh, aku lelah...." lirih Brian dengan menundukkan kepala dan meneteskan air mata. Dia pun bingung harus bagaimana menjelaskan pada Lily atau ia nekat saja mengikuti saran mertuanya.
...****************...
"Aara sayang....Ada yang sakit nak?" tanya Mommy yang terjaga karena mendengar rintihan Aara.
"Dada Aara sakit Mom, rasanya sesak sekali," keluh Aara, dengan cepat Andini membangunkan suaminya yang tertidur di sofa. Andini menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang tertidur begitu lelap.
"Mas, Aara dadanya sakit Mas. Tolong panggilkan dokter Mas!" Raihan nampak gelagapan, dia segera bangun dan keluar ruangan untuk memanggil dokter. Padahal di dekat ranjang Aara ada tombol yang langsung terhubung dengan Dokter. Namun melihat Aara dengan kondisi yang merintih kesakitan membuat Andini panik dan Raihan pun yang baru bangun jadi melupakan hal itu.
Andini kembali mendekati Aara, ia mengusap keringat Aara dan dadanya yang sakit. Rasanya Andini tidak tega, ingin rasanya ia menggantikan sakit yang putrinya derita. Atau mungkin menukar posisi dan membiarkan putrinya menjalani hidup dengan sehat dan tenang.
__ADS_1
"Sabar ya Sayang! Sebentar lagi Dokter datang." Di sela kepanikan Andini berusaha untuk tegar. Dia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Beberapa Dokter datang dengan suaminya yang berlari lebih dulu.
"Aara....Kuat ya nak! Aara di periksa dulu sama Dokter ya!" Raihan mengusap kepala rambut yang sudah habis tak tersisa. Kondisi Aara semakin memburuk setiap harinya. Ada di saat Raihan pesimis, tapi sekuat hati ia melawan pikiran itu.
Raihan mengajak istrinya untuk keluar agar dokter leluasa untuk memeriksa Aara. Andini sudah menangis di pelukan sang suami. Rasanya ia tak sanggup melihat Aara terus merintih kesakitan.
Hampir satu jam dokter tak kunjung keluar, Andini dan Raihan semakin panik di buatnya. Segenap doa terus di panjatkan untuk putrinya yang sedang berjuang melawan rasa sakit.
"Mas, kenapa lama sekali? Aku takut Mas..."
"Sabar sayang, Dokter sedang berusaha. Doakan yang terbaik untuk Aara!" Bohong jika Raihan pun tidak takut, bahkan jantungnya berpacu sangat cepat. Dia hanya bisa berdoa dengan memeluk erat sang istri untuk saling menguatkan.
Tak lama dokterpun keluar dengan peluh yang membasahi kening. Wajah mereka terlihat kepayahan. Kemudian menatap kedua orang tua pasien yang sudah melangkah panjang menghampiri.
"Bagaimana Dok?"
"Bersyukur masih bisa bertahan, penyakitnya sudah tidak bisa di sembuhkan. Hanya doa yang bisa kita lakukan. Sel kanker sudah menyebar atau yang di sebut dengan istilah metastasis. Dan kami sebagai dokter hanya bisa mengupayakan, semua kembali lagi pada yang menciptakan."
Tangis Andini pecah, dia kembali memeluk suaminya dengan erat. Dokter saja sudah angkat tangan dan hanya bisa membantu semampu mereka. Karena penanganan yang terlambat membuat penyakit semakin menjalar kemana-mana.
__ADS_1