
Pagi ini Brian datang sendiri ke rumah sakit setelah mendapatkan panggilan dari Daddy Raihan. Entah ada apa gerangan pagi-pagi menghubungi, dan memintanya datang ke ruang kerja Papahnya.
Brian masuk ke ruangan tersebut setelah menyempatkan diri untuk mengetuk pintu. Dapat di lihat di sana telah ada Papah, Daddy dan Mommy dengan raut wajah yang berbeda. Brian pun segera duduk di sofa bergabung dengan ketiganya.
Brian terhenyak saat Daddy Raihan tiba-tiba memberikan sebuah map coklat yang Brian tidak tau isinya. Dia melirik ke arah sang Papah yang kemudian menganggukkan kepala.
Tanpa banyak bertanya, Brian yang penasaran segera membuka map tersebut. Ada surat dengan kop bertuliskan pengadilan agama yang membuat Brian mengerti tujuan dirinya di panggil ke sini.
"Tanda tangani Brian!" titah Daddy Raihan.
Sontak Brian menoleh ke arah Daddy, tidak heran sebenarnya jika keluarga Baratajaya mampu memproses semua menjadi cepat. Bahkan kemarin belum ada pembahasan apapun dan Aara masih menganggap ada hubungan pernikahan.
Brian pun tidak menyangka jika Aara yang menggugat, berarti wanita itu telah mengingat semuanya. Dia yang berbulan-bulan menunggu di buat termangu. Brian menoleh ke arah Daddy, dia butuh penjelasan karena takut ini semua mengandung paksaan bukan atas kesadaran.
"Apa ini atas permintaan Aara sendiri Dad?" tanya Brian dengan hati-hati. Dia takut pertanyaannya akan menyinggung perasaan Daddy dan Mommy. Namun, memastikan akan menjadi sangat penting bagi Brian, agar kedepannya tidak lagi menimbulkan masalah baru. Itu pun juga karena Brian ingin lebih berhati-hati lagi dalam persoalan perasaan karena, buntutnya bukan hanya dia yang terkena imbasnya, tentunya Lily pun ikut merasakan.
"Aara sudah mengingatnya dan dia menyesali semua yang pernah dia lakukan. Aara meminta Daddy untuk mengurus perceraian kalian. Membebaskan kamu agar cepat menikahi adiknya."
Brian lega mendengarnya, gugatan diajukan oleh Aara dalam keadaan sadar. Akhirnya suatu yang di tunggu-tunggu datang juga. Bagai angin segar di siang yang gersang. Suatu kebebasan akan status yang selama ini menjadi benalu dalam hidupnya. Bukan Brian bahagia di saat Aara sadar untuk melepaskan tetapi, ini suatu kebahagiaan yang tertunda untuknya menjemput cinta pertamanya.
Dengan perlahan Brian meraih bolpoin yang telah di sediakan. Dia menarik nafas dalam sebelum akhirnya coretan tinta darinya menandakan persetujuan perpisahan. Namanya dengan jelas tersemat di bawah tanda tangan.
"Maafkan Brian Daddy," lirih Brian dengan ekor mata yang basah. Hatinya lega namun merasa bersalah karena belum bisa menjaga amanah saat Daddy menyerahkan Aara padanya saat ijab.
"Justru Daddy yang seharusnya meminta maaf, dan Daddy harap kamu dan Lily bisa bahagia setelah ini."
__ADS_1
"Aamiin..." Semua mengaminkan ucapan Raihan. Kesedihan tentu ada tetapi, mengingat inilah cara untuk menyelesaikan permasalahan yang selama ini membelit keluarga, membuat mereka pun bernafas lega.
"Setelah pulang dari kantor, Daddy minta tolong sama kamu untuk datang ke rumah menjemput Lily. Aara ingin sekali bertemu dengan adiknya." Raihan dan Andini akan tetap di rumah sakit menemani Aara. Keduanya takut keputusan Aara mempengaruhi mentalnya dan sekaligus memantau kondisi Aara yang masih terus mendapatkan pemeriksaan.
"Baik Dad," jawab Brian.
Sebelum berangkat ke kantor, Brian memutuskan untuk singgah sebentar ke kamar Aara. Brian ingin menjenguk Aara dan mengucapkan terimakasih padanya. Brian juga tidak lupa meminta maaf karena, selama ini belum bisa menjadi seperti yang Aara inginkan, belum bisa menjadi suami yang baik dan tidak mampu membuka hati meski keduanya sudah terjerat pernikahan.
"Kalo kesini ajak Lily!" celetuk Aara saat tau Brian memasuki kamarnya.
"Gue mau berangkat ngantor, makanya nggak bisa ajak Lily ke sini. Gimana keadaan loe? Udah enakan?" Brian duduk di samping ranjang Aara dengan terus memperhatikan Aara yang enggan melihatnya.
"Lebih baik dari sebelumnya, hati pun lebih lega setelah mampu ikhlas." Aara tersenyum kemudian menoleh ke arah Brian. "Brian, janji sama gue kalo loe nggak akan nyakitin Lily dan akan mencintainya sampai kapanpun!" Aara yang sebelumnya tidak sekhawatir ini mendadak kepikiran. Padahal dia sebelumnya saja sudah yakin jika Brian sangat mencintai Lily dan tidak akan menyakitinya. Namun, tiba-tiba dia ingin Brian berjanji padanya akan terus menjaga Lily sampai kapanpun.
" Loe ragu sama cinta gue ke Lily?" tanya Brian dengan tangan bersedekap dada. Padahal, mencintai Lily dan menjaganya sudah menjadi kebutuhan pokok baginya. Ibarat hidup butuh makan dan Brian butuh Lily setiap saat.
...****************...
Sore harinya Brian sudah berada di teras rumah Baratajaya. Dia sedang menunggu Lily bersiap untuk ikut ke rumah sakit. Brian belum bicara pada Lily jika Aara menunggu kedatangannya, dan Brian pun belum mengatakan apapun pada Lily tentang surat gugatan cerai yang Aara layangkan tiba-tiba.
Brian menoleh ke arah Lily yang sudah rapi dengan dress selutut. Dress santai dengan tali belakang berwarna pink yang membuat kesan imut saat di kenakan. Lily pun menambah bando simple di kepalanya. Rambut terjuntai panjang di sisir tapi dengan riasan sederhana namun membuat Brian tersenyum melihatnya.
"Cantik banget calon istri, mau shoping atau mau kondangan?" ledek Brian.
"Kakak! Nggak lucu akh sore-sore ngeledekin, emang berlebihan ya penampilan Lily?" tanyanya mendadak tidak pede dengan penampilannya sendiri. Padahal dia berusaha sesederhana mungkin dalam berias.
__ADS_1
"Nggak kok, kamu cantik dan buat Kakak semakin jatuh cinta. Untuk perutnya gendut, kalo nggak Kakak udah ketar ketir bakal banyak saingan."
Wajah Lily merona, dia tidak menggubris lagi ucapan dari Brian dan memilih segera melangkah menuju mobil.
Brian tersenyum melihatnya, gemas sekali rasanya. Di hari yang kebebasannya dia di buat bahagia seharian. Semua pekerjaannya terasa mudah dan hari-harinya tak surut senyuman. Terlebih melihat si cantik yang semakin menarik. Ingin rasanya cepat meresmikan namun Brian masih menunggu surat pengadilan hasil ketuk palu.
Sampai di kamar Aara, kedatangan Lily di sambut oleh Mommy dan Daddy. Lily pun segera memberikan makanan yang tadi sengaja dia beli di jalan untuk kedua orangtuanya karena, untuk kakaknya Lily takut salah beli.
"Ini Mom."
"Makanan? Kenapa repot-repot beli makanan Sayang? Nanti Mommy bisa cari sendiri di luar. Kamu sudah makan? Maaf Mommy belum bisa pulang," ucap Mommy dengan wajah penuh penyesalan. Mommy tau Lily tidak pandai masak dan beliau pun tidak menyediakan Frozen food di kulkas.
"Lily sudah makan Mom, tadi Lily masak." Lily tersenyum dengan memamerkan deretan giginya. Namun, berbeda dengan Mommy yang malah mengerutkan dahi, dan yang lainnya pun ikut menyimak dengan serius.
"Masak apa sayang?" tanya Mommy penasaran karena putrinya yang memang jarang masuk dapur untuk membuat makanan sendiri.
"Masak telur mata panda," lirih ya dengan wajah merona sedangkan yang lain nampak menganga. Namun, tidak dengan Aara yang sudah mengerti maksud Lily. Dia menahan tawa, ingin rasanya Aara segera menarik Lily untuk dia acak-acak rambutnya.
"Kok panda? Kenapa bukan sapi?" tanya Daddy Raihan yang sejak tadi gatal ingin berkomentar. Mommy pun mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
"Karena matanya hitam seperti mata panda."
Lily meringis melihat mata Mommy yang membola, sudah pasti Mommy akan marah setelah ini. Bukan perkara telurnya tetapi, wajannya yang juga ikut gosong.
"Wajan dan dapur Mommy," lirih Mommy memasang wajah memelas ke arah Daddy. Sedangkan yang lain sudah tidak bisa lagi menahan tawa atas kecerobohan Lily.
__ADS_1
"Jadi tadi kedua akan kita kamu kasih makan telur gosong?" tanya Brian yang mendadak serius. Lily tidak menjawab apapun, dia hanya menggaruk tengkuknya dengan meringis dan memajukan dua jari tanda permintaan maaf.
Melihat itu Brian pun hanya bisa menghela nafas berat karena kelakuan Lily yang membuatnya geregetan. Sepertinya setelah ini dia akan membelikan Lily air kepala hijau agar kedua putranya tidak keracunan di beri makan telur mata panda.