LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 65


__ADS_3

Pagi harinya


"Sudah?" tanya Brian, setelah hampir 20 menit Brian menunggu Lily di depan pintu kamar mandi. Dia tidak sama sekali beranjak dari sana. Brian takut jika tidak mendengar saat Lily butuh sesuatu, tetapi Brian pun tidak menguping seperti kemarin karena Brian takut Lily kembali merajuk.


"Sudah kak, terimakasih sudah menunggu." Lily mengukir senyum, dia melangkah dengan perlahan menuju ranjang, tentu saja di bantu oleh Brian.


"Kembali kasih Sayang....."


"Manis sekali, rasanya pagi ini Lily ingin minum teh pahit agar tidak terkena diabetes."


Brian mengulum senyum, dia senang melihat wajah Lily sudah tidak sesedih kemarin dan Lily juga sudah mulai mengajak becanda. Brian tidak menjawab, dia hanya mengusap lembut kepala Lily dengan menatap lekat matanya. Brian bersyukur sekali pagi ini Lily nampak lebih baik.


"Mommy tadi kirim pesan sama Kakak, katanya baru siang ini akan berkunjung karena harus belanja dulu, stok kulkas habis jadi Mommy tidak bisa memasak sarapan buat kamu. Kira-kira kamu mau makan apa? biar Kakak belikan di luar atau mau Kakak pesankan lewat aplikasi saja makanannya? Jadi kamu tinggal pilih mau apa."


Lily berpikir keras, sudah lama dia tidak makan makanan luar. Selama hamil dia tidak sebebas dulu dan selalu makan masakan Mommy setiap hari.


"Aku mau makan steak boleh?"


"Sepagi ini?" tanya Brian dengan lembut. Brian pun membantu Lily untuk kembali naik ke ranjang.


"Iya."


"Oke, Kakak pesan saja lewat aplikasi ya, siapa tau sudah ada resto yang buka jam segini." Brian segera mencarikan menu yang Lily inginkan di aplikasi hijau, meskipun Brian yakin pasti akan sulit mencari steak pagi-pagi. Tetapi Brian terus mencari, hitung-hitung dia sedang belajar menjadi suami siaga yang ingin memenuhi semua keinginan sang istri yang sedang mengidam.


"Kak sudah ada belum? Lily lapar Kak....." Mungkin kedua putranya sudah demo di dalam sana karena belum ada makanan yang datang.


"Sebentar sayang, kalo pagi gini kebanyakan nasi uduk, nasi kuning, gorengan, bakmi, terus..."

__ADS_1


"Kak, aku mau steak titik!" kekeh Lily dengan ngeyelnya membuat Brian mendadak pusing.


"Sayang, ini masih jam tujuh loh, belum ada restoran steak yang buka. Ganti dulu bisa nggak? steak nya nanti siang, Kakak janji akan membelikan yang banyak buat kalian."


Lily merengut begitu kesal, baru kali ini menginginkan sesuatu tapi tidak keturutan. Rasanya Lily ingin mencakar Ayah dari kedua putranya, namun Lily hanya menatap sengit wajah Brian yang kini menampilkan wajah bersalah.


"Sayang..." Rayu Brian dengan wajah memelas, "ada batagor di depan pager rumah sakit, lengkap lagi ada tahu dan otak-otaknya. Nanti Kakak minta sambelnya di pisah biar seperti makan steak, nanti Kakak bilangin abangnya. Cocol Bang cocol!" Brian memperagakan dengan sikap konyolnya membuat Lily geregetan.


"Sakit sayang!" keluh Brian saat merasakan cubitan pedas yang mendarat di perutnya. "Pedes banget cubitannya neng, Abang sampe mules."


"Memangnya makan cabe!" sewot Lily.


Perdebatan keduanya terhenti saat ketukan pintu terdengar. Tiara dan Rafkha datang dengan membawa kantong keresek yang berisikan makanan.


"Lily...."


"Kak Aara Ra...Hiks..Hiks..."


"Iya, gue udah tau semuanya. Sabar ya, gue juga sedih lihatnya tetapi ini sudah takdir Ly. Loe harus kuat dan teruskan hidup loe agar Kak Aara juga bahagia melihat adiknya kembali ceria. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan! Kasihan dedek bayinya. Oh iya katanya ada dua ya?" tanya Tiara dengan mengembangkan senyum.


Tiara ikut bahagia setelah tau kabar dari Mommy nya tadi pagi jika dia akan mendapatkan dua ponakan sekaligus.


Lily menganggukkan kepala dengan menghapus air mata, dia tersenyum mengusap perutnya yang makin hari semakin membesar.


"Cewek apa cowok?"


"Kata Mommy cowok dua-duanya, tapi belum di USG lagi. Mungkin nanti setelah tujuh bulan," jawab Lily. Dia mulai tersenyum membayangkan kedua anaknya yang lucu-lucu, kemudian mengusap perut Tiara yang besarnya hampir sama dengannya. Mungkin karena hanya ada satu nyawa di dalam sana.

__ADS_1


"Kak Rafkha payah, bikin berulang kali jadinya cuma satu, beda sama Kak Brian yang baru sekali langsung dapet bonus. Kak Rafkha harus berguru dulu nich kayaknya sama Kak Brian."


"Sayang....." Rafkha yang sedang mengobrol dengan Brian ikut keseret dalam perbincangan adik dan istrinya. Rafkha serasa tidak terima saat dia di banding-bandingkan. Apa lagi yang di jadikan perbandingan adalah bibit unggulnya yang tiap malam dia keluarkan untuk menyirami kembang yang sedang mekar-mekarnya.


Brian pun mendengar ucapan Tiara, berbeda dengan kemarin sore saat bersama para orang tua, saat ini Brian hanya diam dengan melirik Lily yang juga tak berkomentar.


"Nggak usah bangga, loe belum dapet restu dari gue!" ucap Rafkha mengultimatum Brian. Ternyata ucapannya membuat Brian nampak gelagapan, terlebih dia tau betul jika Rafkha saat ini sedang serius.


Begitupun dengan Lily yang langsung menyenggol lengan Tiara setelah mendengar ucapan Rafkha untuk menghentikan pembicaraan serius antara Rafkha dan Brian.


"Ck, loe nggak kasihan sama kedua calon ponakan loe?" tanya Brian. Brian tiba-tiba khawatir jika Rafkha menjadi batu sandungan untuk hubungannya dengan Lily.


"Gue lebih kasian lagi sama adik gue yang mendapatkan duda abal-abal. Jangan lupa kalo urusan loe belum beres! Dan Aara masih belum menandatangani surat perceraian. Lagian loe ngajuin juga belum kan? Kalian baru talak satu yang kapan saja bisa kembali rujuk. Jadi jangan maruk! Gue nggak akan merestui kalian berdua kalo masalah loe belum tuntas!"


Brian menghela nafas kasar, yang di ucapkan Rafkha ada benarnya, lalu yang menjadi masalah sekarang adalah statusnya masih menggantung. Sedangkan Aara masih koma dan belum tau perkembangan ke selanjutnya.


Brian kembali menoleh ke arah Lily yang melihatnya dengan tatapan sendu. Lily pun tidak bisa berucap apapun jika Rafkha sudah berbicara serius seperti itu. Lily mengerti, apa yang Rafkha ucapkan itu semata-mata demi kebaikan dirinya.


"Gue harap loe nggak mengecewakan gue lagi!" ucap Rafkha, dia menepuk pundak Brian kemudian melangkah menuju ranjang adiknya. Rafkha tersenyum melihat Lily, dia memeluk Lily dengan wajah penuh penyesalan.


"Maafin Kakak, Kakak belum bisa jaga Lily dengan baik. Gue gagal jaga kalian, sehat terus Ly! Gue harap setelah ini loe juga bakal bahagia dan untuk Aara, kita harus lebih ikhlas!" ucap Rafkha dengan lembut.


"Kakak nggak gagal, Kak Rafkha dan Kak Aara adalah Kakak terbaik yang gue punya. Apa lagi Kakak, Lily bangga punya Kakak sehebat Kak Rafkha."


Rafkha mengurai pelukannya, dia menghapus air mata Lily kemudian mengacak rambut sang adik. " Sudah mau jadi Ibu, malu kalo nangis terus!"


...****************...

__ADS_1


Man teman jangan lupa dukung aku ya, like, coment, dan vote. Makasih 🤗


__ADS_2