LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 26


__ADS_3

Lily tersenyum tulus menatap Brian yang kini melihatnya dengan penuh cinta. Mendengar ucapan Aara seakan menjadi pecutan bagi Lily. Bagai di beri jantung tetapi menggerogoti hati. Aara benar-benar tidak mengerti di sayang dan di hormati. Lily yang selama ini diam malah seperti tak punya harga diri sama sekali.


"Wow.......Aku tersanjung banget lho kak....Tapi apa kah istri Kakak tidak marah jika suaminya memanjakan wanita lain?" tanya Lily dengan melakukan penekanan setiap katanya. Semua yang ada di sana segera memperhatikan, Lily yang belakangan ini diam dan tak banyak bicara kini kembali ke setelan semula. Dan hanya Tiara yang tersenyum puas melihat sikap Lily sekarang.


Brian mengerjap, bukan karena takut pada Aara. Tapi melihat gaya Lily saat ini membuat getaran di hatinya kembali bergejolak. Tapi cukup waras untuk mengimbangi Lily karena ada kedua mertuanya yang juga menyimak.


"Tentu nggak donk, iya kan sayang? Bahkan memang kita mau membelikan semua kebutuhan ibu hamil agar lebih nyaman dan bayi kita tumbuh dengan sehat." Aara menyahut dengan tersenyum pada Brian. Ucapan Aara membuat kedua orangtuanya nampak lega karena melihat Aara yang legawa menerima kehamilan Lily dan mengijinkan Brian bersikap perhatian pada Lily.


"Kalian baik sekali, jarang-jarang loh kakak sendiri mengijinkan suaminya menyayangi adik iparnya. Kompak ya kalian!" celetuk Lily.


"Sayang....." tegur Mommy yang tak setuju dengan kata-kata Lily. "Brian kan kakak nya Lylu juga sekarang, jadi wajar kalo dia sayang juga sama Lily. Apa lagi kalian kan memang sudah dekat sejak sekolah. Jadi sudah hal biasa dan tidak canggung lagi bukan?" Ucap Mommy meluruskan dengan tujuan agar Aara tidak salah paham.


"Bener banget Mom, dengan ini Kak Aara jadi ikhlas buat berbagi." Ucapan Lily semakin membuat suasana pagi ini nampak mencekam. "Ups.....sorry Kak maksud gue berbagi perhatian karena kan gue adiknya. Sah aja donk? Ya kan kak Brian?" tanya Lily dengan senyum menunggu jawaban dari Brian.


Brian yang sejak tadi diam, kini tampak kurang nyaman karena semua mata tertuju padanya. Dia begitu gemas dengan mulut Lily yang membuat dirinya kelimpungan sendiri. Brian menggaruk tengkuknya kemudian menoleh ke arah Lily. Dia mengusap kepala Lily dan menatap dengan tatapan yang berbeda.


"Sah donk.....Kan Abang!" jawabnya singkat.


"Cosplay Upin ya Kak?" Lily tertawa kecil mendengar jawaban Brian. Begitupun dengan Brian yang ikut tertawa tanpa beban. Sikap Lily berhasil membuat Aara terdiam, bahkan terlihat begitu cepat menghabiskan makanannya tanpa menoleh ke arah keduanya. Bukan Lily ingin bersikap keterlaluan. Namun hatinya begitu jengah dengan sikap Aara yang terlampau membuatnya seperti di rendahkan.


Lily tersenyum manis pada Brian, melambungkan hati pria itu semakin tinggi ke angkasa. Ingin rasanya pria itu mengusap pipi Lily yang chubby namun ia cukup sadar diri dimana kini ia berada. "Loe kembali Ly, ini Lily gue!"


Lily menghela nafas berat di balik pintu kamar, setelah semua berangkat ke kantor. Kini tinggallah Lily dan Mommy di rumah. Tapi Lily memilih masuk ke dalam kamar menghindari pertanyaan yang Mommynya berikan.

__ADS_1


"Sorry Kak, gue begini karna loe! Dan loe juga yang buat gue nggak peduli sama apapun!"


Lily melangkah menuju balkon kamar, ia butuh udara segar. Tidak boleh keluar rumah bukan berarti ia akan menjadi burung dalam sangkar. Yang di larang untuk di lepas tanpa pantauan. Toh hanya di balkon, tak akan ada orang yang melihat dirinya.


"Perut gue belum besar, tapi hari ini penjara hidup gue akan di mulai. Gue nggak akan bebas kemana-mana demi aib yang gue tanam." Lily menatap perutnya yang mulai sedikit berisi, ntah mengapa setelah semua tau kehamilannya perutnya mulai ketara. "Baik-baik ya, Maaf jika Bunda tidak bisa bergerak sebebas dulu. Maaf jika semua menganggap kamu aib. Tapi bagi Bunda, kamu adalah anugerah yang tak ternilai. Anak Bunda...."


Seketika Lily teringat akan sesuatu, pagi ini ia tidak merasa mual. Padahal sebelum sampai di meja makan perutnya begitu tidak nyaman karena sudah mencium aroma makanan yang begitu menyengat.


"Apa karena kamu makan di dekat Ayah nak?" Dada Lily begitu sesak, sepertinya anak yang ia kandung begitu ingin dekat dengan Ayahnya. "Tapi kita harus tau batasan sayang, Ayah bukan milik Bunda...."


Seharian Lily hanya menghabiskan waktunya di kamar dengan membaca buku, bermain game dan menonton Drakor. Ia berusaha untuk menyenangkan hatinya dan tak ingin terlalu banyak pikiran. Lily pun tak lupa meminum vitamin meski harus menahan mual.


Rasanya ia selalu ingin muntah setiap kali ingin memasukkan apapun ke mulutnya. Tapi berusaha untuk memaksakan diri agar anaknya tetap sehat dan tidak kekurangan asupan.


"Loe kenapa sich kak? Ada dendam apa sama gue?" Pertanyaan Lily menghentikan langkah Aara yang sudah ingin meninggalkan kamarnya. Aara menghela nafas panjang sebelum akhirnya membalikan badan. Dia menatap Lily dengan senyum miring dan melangkah mendekati adiknya hingga keduanya saling berhadapan.


"Salah loe? Iya? Salah loe, loe bodoh!" ketus Aara dengan mendorong sebelah pundak Lily dengan jari telunjuknya. Kemudian segera berbalik badan dan dengan cepat melangkah keluar kamar Lily dengan hati yang tidak karuan.


Lily berusaha mengejar namun dengan cepat terhalang dengan Mommy nya yang datang membawakan buah-buahan untuknya.


"Loh kamu mau kemana? Mommy bawakan buah segar untuk kamu, di makan ya sayang!" Mommy segara masuk kedalam sedangkan Lily masih celingukan menatap punggung Aara yang kini telah masuk ke dalam kamarnya.


"Loh...ini susu buatan Kakak kamu kan sayang? Kenapa nggak buru di minum? Kalo sudah dingin tidak enak lagi!" Mommy meletakkan piring yang ia bawa dan meraih segelas susu untuk menyerahkannya ke Lily.

__ADS_1


"Di minum biar sehat!"


Lily menganggukkan kepala dan segera meraih gelas susu dari tangan Mommy nya. Namun tetiba perutnya kembali di aduk dan rasa mual kembali mendera. "Eeemmmmm......" Lily mengembalikan kembali gelas susu itu dengan buru-buru tapi belum sempat Mommy meraih nya sudah terlepas dari tangan Lily.


Prang


"Lily!"


Uwek


uwek


Uwek


Mommy pun segera menyusul Lily ke kamar mandi dan mengabaikan pecahan gelas yang kini berhamburan di lantai. Suara pecahan gelas mengundang kedua pasutri yang sedang berdebat di kamar. Mereka segera berlari menuju kamar Lily dan tampak terkejut dengan lantai kamar yang kotor.


"Susu...." lirih Aara kemudian ia melihat Mommy membantu Lily menuju ranjang.


Tanpa pikir panjang Brian segera masuk kamar Lily dan segera mengangkat tubuh Lily yang begitu payah.


"Biar Brian saja Mom!"


"Brian tapi...." Mommy serba salah sendiri, beliau segera menoleh ke arah Aara yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2