LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 32


__ADS_3

Malam ini Andika dan keluarganya datang kerumah Raihan. Setelah tadi siang mendengar kabar akan kehamilan Lily, Andika penasaran dan mengajak sang istri untuk datang. Gibran pun ikut serta karena sudah lama tidak berkunjung kerumah tantenya dan menjadi sopir untuk kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum....."


"Wa'allaikumsalam.....Kak, kok datang nggak ngabarin dulu?" sewot Andini yang kini mendekati dan menyalami tangan Andika dan Erna.


"Emang ngapa kalo gue nggak ngabarin loe? Mau bikin rendang sewajan loe kalo gue datang?" celetuk Andika yang sedikit sensi karena kecewa Adiknya tidak mengabari kabar penting tentang Lily.


"Ya nggak gitu juga, paling nggak gue bisa minta Brian tadi buat beliin salak biar loe nggak berani ngoceh dan marah-marah sama gue kak!" Andini sudah mengira kedatangan kakaknya yang tiba-tiba pasti ada kaitannya dengan kabar akan kehamilan Lily.


Andika mendengus kesal, kemudian melangkah masuk ke dalam dengan merangkul pundak sang istri. "Mana ponakan imut gue? Loe kebangetan Ndin, kabar begini loe umpetin dari gue!" Kesal Andika dengan menyapu pandang mencari keberadaan Lily.


"Dia masih di kamar, bukan gue nggak mau ngomong sama loe kak. Gue belum sempet kemana-mana, si Lily kalo siang mabok. Dia bisa makan kalo cuma ada Brian di dekat dia," Andini segera mengajak Erna ke dapur untuk membuatkan minum sedangkan Andika dan Gibran duduk di kursi meja makan.


Mendengar ucapan Andini tentang Lily membuat Andika mengernyitkan dahi. Sempat menoleh ke arah Gibran yang fokus ke layar ponselnya kemudian kembali melihat adiknya.


"Kenapa Brian, emang itu orok anaknya Brian?" seru Andika yang membuat Gibran menoleh ke arah papahnya dengan menghela nafas panjang dan kembali fokus dengan ponselnya.


"Mungkin karena nanti setelah Lily lahiran anak itu akan di angkat oleh Brian dan Aara. Jadi pengen deket sama Papahnya."


Andika tak menjawab, tatapannya tajam dengan wajah penuh selidik. Dia berpikir jika alasan Andini tidak masuk akal kemudian Andika meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.

__ADS_1


Raihan keluar dari kamar dan segera mendekati Andika. Kebetulan sekali mereka datang di jam makan malam kemudian Raihan mengajak Kaka iparnya untuk makan sekalian.


"Sayang sudah siap semua makan malamnya?" tanya Raihan yang telah duduk di samping Andika.


"Sudah, di mulai saja Mas. Aku ingin memanggil anak-anak dulu," ucap Andini yang kemudian menaiki tangga untuk memanggil Aara, Brian dan Lily.


Langkah Andini terhenti saat melihat Aara yang sudah lebih dulu keluar dari kamar. Beliau tersenyum dan segera menghampiri putrinya yang terlihat sedikit pucat.


"Sayang, mana suami kamu? Ayo ajak makan sekalian!"


"Lagi mandi Mom, sebentar lagi juga turun." Aara tersenyum dengan memeluk Mommynya dari samping.


"Kenapa? Apa lagi nggak enak badan? Atau sudah mulai ada tanda-tanda?" tanya Mommy yang terus memperhatikan wajah Aara.


"Iya, adik kamu belum keluar dari tadi sore. Takutnya kelaparan soalnya siang tadi nggak bisa makan, dia muntah-muntah sampe mommy bingung mau gimana. Soalnya hamil kalian nggak gini banget." Keluh sang mommy yang tadi siang di buat kewalahan menghadapi Lily.


"Obatnya kan udah ada di rumah, nanti juga lahap lagi," celetuk Aara yang kini telah melangkah menjauh dan turun menuju ruang makan.


Andini hanya bisa menghela nafas berat melihat sikap Aara yang terlihat cuek pada Lily. Tapi tanpa orang tau, Aara yang selama ini mengatur semua agar Lily tetap bisa makan dengan membiarkan Brian selalu menemani. Dan Aara pun tak pernah telat mengisi makanan bergizi untuk ibu hamil di dalam kulkas, susu, dan selalu bertanya tentang vitamin yang Lily minum.


"Kamu kenapa nak, kenapa jadi jauh dengan adikmu...Ada apa dengan kalian.."

__ADS_1


"Mom.."


"Eh Brian, sudah selesai mandi? lanjut makan ya!" ucap Andini yang sempat terjingkat karena Brian yang datang tiba-tiba.


"Iya Mom.....Mommy mau apa? Aara sudah keluar dari tadi." Brian mengamati wajah ibu mertuanya yang terlihat sendu dengan wajah bingung.


"Oh iya tadi Mommy sudah bertemu, kamu segara menyusul saja. Di bawah ada Om Andika juga. Mommy mau memanggil Lily di kamar untuk makan malam sekalian."


"Baik Mom!" Brian sempat melirik pintu kamar Lily yang masih tertutup rapat, kemudian dia segera melangkah menuju ruang makan.


Di meja makan Aara begitu senang melihat Om nya datang, akan seru jika sudah kedatangan Om Andika. Dia segera berlari mendekati Andika dan memeluk beliau dari belakang.


"Om...Aara kangen, tumben baru main! Biasanya juga bolak balik mulu kayak ingus!"


"Heh....ini mulut, udah punya laki makin julid. Om tuh sibuk, tau sendiri sekarang om itu dobel job." Jelas Andika dengan bangga dan menarik tangan Aara untuk duduk di dekatnya.


"Widiiiiihhhhhh kalah donk Daddy."


"Jelas! Doble job sampe Tante Erna uangnya juga doble-doble dia sekarang. Lihat aja tuh senyumnya, ayem bener udah kayak air terjun perawan!" ledek Andika yang mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Percaya dech, itu kulit Tante makin mulus udah kayak orang Korea. Perawatan terus ya Tante, kalah donk Aara yang tiap hari ke rumah sakit tapi nggak putih-putih!" celetuk Aara dengan santai namun mengundang banyak pertanyaan bagi yang mendengar.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Andika dan Raihan berbarengan. "Diem Rai udah kayak kembar aja loe barengan ma gue!" celetuk Andika. "Maksudnya ke rumah sakit terus apa Ra?" tanya Andika yang kembali fokus dengan Aara.


Aara tampak gelagapan, apa lagi ia melihat Brian yang datang dan ikut menyimak. "Iya donk, Aara kan juga pengen punya anak kayak Lily, program Om...Biar cepet jadi!" jawab Aara membuat semua bernafas lega namun tidak dengan Brian dan Gibran yang menatapnya dengan pikiran berbeda.


__ADS_2