
Lily menatap Brian dengan mata berkaca-kaca, dengan perlahan ia merentangkan kedua tangannya. Rasanya ia lelah, bukan karena lelah mengalah. Tapi lelah berjuang, mungkin saat ini Lily butuh sandaran. Banyaknya masalah membuat jiwa nya semakin kuat namun tidak dengan hati dan raganya. Meski bagaimanapun dia wanita yang juga butuh pelukan dari seorang pria.
"Kak......" Rengeknya dengan pipi yang kembali basah. Brian pun dengan cepat mendekat dan mendekap. Brian tidak menyiakan itu, begitu sulit mendekati Lily. Tapi kali ini wanita itu sendiri yang memintanya untuk memeluk hingga kini saling mengeratkan.
"Sehat terus sayang.....Maafkan aku yang belum bisa menjaga kalian. Jangan banyak pikiran, mereka membutuhkan Bunda yang kuat," bisik Brian dan di angguki oleh Lily. Ntah kenapa Lily tak banyak berontak bahkan terkesan ingin di manja. Meski terdengar isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Tapi wajahnya terus menelusup ke dada Brian mencari ketenangan di sana.
Brian pun tak ingin melepasnya begitu saja, tangannya mulai mengusap kepala Lily dengan lembut. Brian pikir Lily akan marah atas keputusan kedua orang tuanya. Atau meminta dia untuk membatalkan rencana perceraian. Tapi ternyata tidak atau belum karena Lily masih begitu menikmati pelukannya.
"Ly, kita nikah ya!"
Lagi-lagi anggukan yang Brian terima, dia seakan tak percaya. Lily yang begitu keras saat ini lagi-lagi tak membantah. Brian sempat berpikir apa mungkin efek obat atau dokter salah memberi resep hingga membuat Lily berubah 180 derajat. Padahal baru saja dia melihat Lily melakukan penolakan pada kedua orang tuanya. Tapi belum ada waktu satu jam sikapnya berubah lembut.
"Magic of my twins...."
Brian mencoba kembali menanyakan untuk meyakinkan dirinya apa benar Lily berubah pikiran atau hanya dirinya yang kepedean.
"Beneran mau nikah sama aku?" tanya Brian lagi, bahkan Brian sudah meninggalkan panggilan loe gue yang biasa dia pakai. Mengingat sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Kakak mau aku berubah pikiran?" tanya Lily yang sudah merenggangkan pelukan mereka namun belum terlepas karena Brian menahannya.
__ADS_1
"Eh ya nggak donk, enak aja. Batu aku udah berubah jadi bubur sekarang, jangan sampe balik lagi ke asal," celetuk Brian yang mendapat hadiah sebuah cubitan dari Lily.
"Auwh....sakit sayang!" keluh Brian, kemudian mengusap perutnya yang terasa panas. "Pedes banget, berapa kilo sich?" Brian mencolek hidung Lily membuat Lily merengut dengan bibir mengerucut.
"Jangan buat aku khilaf disini," bisik Brian.
Sebuah pukulan mendarat di lengannya, Lily lupa jika pria yang saat ini memeluknya begitu mesum. Dan bahaya jika terpancing sedikit saja.
"Kenapa bisa berubah pikiran?" tanya Brian dengan mode serius. Dia harus menanyakan itu agar tau kenapa Lily dengan tiba-tiba mau ia nikahi. Tanpa ia memaksa dan tanpa ada permohonan atau perdebatan seperti sebelumya.
"Karena......" Lily melepaskan pelukan Brian. Dia mengusap lembut perutnya dan kembali melihat ke arah Brian. "Pengennya nolak, tadi Kakak dengarkan aku masih menolak apa yang Daddy rencanakan? Tapi setelah itu rasanya perut aku kembali sakit. Makanya aku tadi sedikit tegang dan meminta semua untuk keluar ruangan."
"Jadi karena mereka?" tanya Brian dengan mengusap perut Lily.
Lily menganggukkan kepalanya dengan senyum yang sudah lama Brian rindukan. Senyum ceria khas Lily yang membuatnya selalu terpanah.
"Makasih anak-anak Ayah....." Brian mencium perut Lily berulangkali hingga Lily terasa kegelian. Pantas saja berulang-kali ia merasakan tendangan dari dalam perutnya begitu kencang dan gaduh. Ternyata ada dua bayi yang tumbuh. Lily tidak mau sikapnya menyakiti kedua anaknya. Meski ia tidak tau akan bagaimana menyikapi masalah yang belum selesai. Terlebih Kakaknya sedang berjuang melawan penyakit.
"Tapi Kak Aara, bagaimana dengan Kak Aara?"
__ADS_1
"Jangan terlalu di pikirkan, biar nanti kakak yang bicara dengan Aara. Kamu fokus dengan kesehatan kamu dan kedua bayi kita. Kakak sayang sama kalian, jangan buat Kakak khawatir lagi." Brian benar-benar tidak ingin kejadian tadi kembali menimpa Lily. Setelah ini ia akan memastikan Lily baik-baik saja. Dan berbicara kepada Papahnya dengan apa yang sudah terjadi selama ini.
"Kakak masih cinta sama Lily?"
"Bahkan si Joni aja maunya sama kamu!" jawabnya santai.
"Kak, Lily serius!" Rasanya kesal sekali jika selalu di kaitkan dengan si Joni.
"Kurang ya buktinya? Mau ditambahin lagi biar jadi kembar tiga?" tanya Brian dengan gemas. Lily masih saja mempertanyakan hal yang jelas-jelas dia tau jawabannya. Bahkan rasa cintanya tidak berkurang sedikitpun meski ia sempat menikahi Aara dan tidur sekamar dengan Aara berbulan-bulan.
"Kak Brian!"
"Mau apa?" tanya Brian yang tau arah kemana pikiran Lily saat ini. Dia yakin ada yang Lily inginkan saat ini.
"Lily ingin mengurus Kak Aara sampai Kak Aara sembuh."
Brian menghela nafas berat, baru saja ia merasakan bahagia tapi permintaan Lily membuatnya kembali pusing kepala. Bukan Brian tidak mau, tapi kondisi Lily yang sedang hamil kembar yang membuatnya khawatir. Jika perlu ia ingin Lily terus bed rest sampai waktunya melahirkan. Bukan malah ingin mengurus Aara yang jelas akan membuatnya kelelahan.
Brian mengikis jarak hingga hidung keduanya hampir bersentuhan. Dia menatap lekat wajah wanita yang membuat hatinya jungkir balik tak karuan. Rasanya tidak tahan melihat tatapan penuh permohonan. Dan ingin rasanya menghujani dengan kecupan.
__ADS_1
"Bagaimana kalo Kakak tidak mengijinkan?"