LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 88


__ADS_3

Setelah Brian pamit berangkat kerja, tidak lama Mommy datang di antar oleh Daddy yang segera berangkat ke kantor. Kini keduanya sedang berbincang masalah semalam. Lily menceritakan pada Mommy keriwehan yang terjadi, hal itu sangat menggelikan hingga Mommy tertawa renyah.


Dering ponsel menghentikan obrolan keduanya. Mommy segera mengambil benda pipih yang sejak tadi mendiami tas miliknya. Senyum mengembang saat melihat siapa gerangan yang menghubungi. Beliau menoleh ke arah Lily yang sejak tadi memperhatikan.


"Kak Aara," lirih Mommy memperlihatkan layar ponselnya pada Lily.


"Angkat Mom!" seru Lily dengan senyum tak tertahan.


Mommy pun menganggukkan kepala dan segera mengangkat panggilan tersebut. Beliau kembali duduk di samping ranjang Lily agar Lily pun bisa ikut berbicara pada kakaknya.


"Hello Sayang..."


"Hello Mom..."


"Kak Aara," seru Lily dengan hati begitu senang.


" Hay Ly, Mommy kemarin telpon katanya loe masuk ruang operasi? Tapi kalo mendengar suaranya sepertinya sedang bahagia sekali. Selamat ya atas kelahiran dua jagoannya. Maaf Kakak belum bisa pulang. Nanti mungkin setelah ada acara besar di rumah Daddy hehehe..."


"Nggak apa-apa Kak yang terpenting Kakak sehat. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, Lily dan anak-anak sehat."


"Sekarang masih di rumah sakit atau sudah pulang?"


"Masih di rumah sakit Sayang, tadi Mommy datang di antar Daddy tetapi, sekarang Daddy sudah berangkat ngantor. Kalau mau bicara sama Daddy nanti kamu hubungi saja beliau ya Sayang."


"Iya Mom, ya sudah yang terpenting Lily sudah sehat dan anak-anaknya pun lahir dengan lancar. Aara mau istirahat dulu ya Mom, Ly, di sini sudah malam."


"Iya Sayang, kamu baik-baik di sana ya..."


"Dach Kak, pulang ke sini bawa calon suami ya Kak!" seru Lily yang hanya di tanggapi oleh kekehan kecil dari Aara.

__ADS_1


Aara segera mematikan ponselnya, seharian ini dia terus mengurung diri di dalam kamar. Berulang kali Wahyu mengetuk pintu kamarnya namun tidak kunjung di buka oleh Aara. Dia pun batal mengunjungi kampus untuk mendaftarkan diri. Mood Aara hancur sejak kemarin malam. Dia pun malas untuk bertemu dengan Wahyu, yang tanpa dia tau jika Wahyu sejak pagi menunggunya di sofa dengan perasaan bersalah.


Wahyu sadar jika dia salah telah berkata sesuatu tanpa berpikir akan menyinggung perasaan Aara. Niat bercanda malah membuat Aara seharian tidak keluar dari kamar. Wahyu menoleh ke arah pintu yang tak kunjung terbuka. Ada rasa khawatir mengingat sejak pagi Aara belum makan. Mengetuk puluhan kali pun tidak kunjung di buka.


"Loe ngapain sich Ra di dalam sana, kalo sampai ada apa-apa kan gue nanti yang kena. Secara loe udah kayak bini gue. Semua keluarga nitipin loe ke gue, sampai gue aja enggan buat keluar apartemen gara-gara kepikiran sama loe."


Wahyu kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Jika sampai larut Aara tidak kunjung keluar dari kamar, mungkin dia memilih untuk menginap di sana. Tak masalah toh tidak tidur satu kamar.


ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat Wahyu reflek terjingkat dari alam bawah sadar yang baru akan dia raih. Wahyu tadi hampir saja terlelap, beruntung belum nyenyak. Dia segera menoleh ke arah Aara yang keluar dari kamar. Terlihat jelas Aara yang keluar dengan wajah masam dengan balutan kaos over size dan short pant.


"Ra, akhirnya loe keluar juga. Loe bikin gue pikiran tau nggak."


Aara tidak menggubris ucapan Wahyu, dia melenggang ke dapur tanpa memperdulikan Wahyu yang ternyata masih anteng di apartemennya.


"Masih marah? Gue kan bilang nggak sengaja, lagian kalo lagi marah gini cantiknya luntur tau Ra!" goda Wahyu.


Aara mengambil minum dan berusaha tidak memperdulikan Wahyu. Namun, tidak berapa lama tubuhnya tersentak saat dia merasakan tangan kekar Wahyu menarik lengannya hingga tubuh keduanya saling bersinggungan. Tidak hanya berhenti di situ, perlahan Wahyu mendorongnya hingga tubuh Aara terbentur dinding.


"Wahyu!" sentak Aara dengan mengerutkan dahi.


"Harus dengan cara ini gue buat loe buka suara?" tanya Wahyu dengan tatapan datar. "Gue nggak suka loe diem terus kayak gini. Kalo loe nggak suka bilang! Jangan diam aja! Mana Aara yang bar-bar? Loe kecewa? Loe marah sama gue? Ngomong! Jangan buat rasa sakit hati loe bikin sakit raga loe!" lanjut Wahyu dengan tegas. Sepertinya kesabaran Wahyu sudah mulai menipis.


Kedua pasang mata bertemu dalam satu titik temu. Mata Aara tampak mengeluarkan emosi yang Wahyu tau itu terarah padanya. Namun, Wahyu membiarkan Aara mengeluarkan segala emosi meski mulutnya enggan berucap. Sampai di mana pancaran mata yang begitu kuat itu melemah dengan ekor mata yang mulai basah.


Wahyu sadar, dia cukup keras dalam menyikapi sikap Aara yang keras tetapi Wahyu yakin, caranya sudah benar meski ada rasa tak tega di hatinya. Wahyu menghela nafas panjang dengan tangan berkacak pinggang.


Dengan sekali hentakan tubuh Aara masuk ke dalam dekapan Wahyu. Tubuh Aara bergetar dengan isak kecil yang mulai terdengar. Aara sudah tidak mampu menahan rasa sedihnya. Dia lupa jika pria yang kini mendekapnya adakah pria yang membuat hari-harinya selalu kesal. Aara pun tidak peduli terlihat lemah di depan Wahyu. Emosinya meluap menguar dari dada tanpa membalas dekapan Wahyu.

__ADS_1


"Lepaskan dan jangan di tahan! Kesedihan bukan untuk di pendam sendirian. Ada gue, ini gunanya gue, dan ini tujuan kakak loe menghadirkan gue di sini! Bukan untuk pajangan atau menjadikan loe beban. Gue ikhlas loe buat pelampiasan." Wahyu melepas pelukannya, dia merangkum kedua pipi Aara hingga dia bisa melihat wajah basah wanita itu.


Wahyu mengusap air mata yang masih tertinggal. Aara sudah mulai tenang dengan mata teduh dan wajah sendu.


"Selama luka masih ada, selama itu juga loe belum bisa keluar dari masa keterpurukan loe. Ikhlas nomor satu meskipun kenyataannya tak semudah yang di ucapkan. Berat, tetapi ada gue. Gue siap jadi teman buat loe berbagi. Gue nemenin loe meraih kebebasan hati loe, dan gue siap membantu loe menyembuhkan sakit yang masih belum mau pergi."


Aara tidak mampu menjawab apapun, dia memeluk Wahyu dan mendekapnya dengan erat. Entah mengapa serangkaian kata yang Wahyu ucapkan mampu menenangkan hati dan pikiran.


Wahyu tersenyum tipis menanggapi respon dari Aara. Dia membalas pelukan hingga keduanya tak berjarak dalam beberapa saat. Hening, tak ada lagi kata yang menggema hanya hembusan nafas yang terdengar. Sampai dimana Aara membuka mata dan tersadar akan posisinya. Dia melangkah mundur dengan melepas pelukan.


Aara nampak kikuk, bingung, malu, hingga dia memilih membuang muka. Aara yakin wajahnya sudah sangat merona. Tak ada kata yang tercipta tetapi Wahyu mampu membuatnya lega. Aara pun mengakui sosok Wahyu sangat berperan dalam hidupnya saat ini.


"Sudah lebih lega? Nggak usah malu! Gue suka loe peluk. Apa lagi gue bisa lihat harimau berubah menjadi kucing persia.


Bugh


Akibat ucapannya, pukulan melayang. Wahyu meringis merasakan panas di lengannya tetapi dia lebih suka Aara yang bar-bar dari pada hanya diam saja.


"Ini baru Aara," ucap Wahyu lagi.


Aara menoleh dengan tatapan penuh tanya. Mungkin dia masih malas untuk membuka suara. Beruntung lawannya paham akan maksud tatapan yang penuh makna.


"Bukan Aara kalo nggak galak." Wahyu menarik hidung Aara wanita itu meringis dengan kesal.


"Wahyu berani ya loe sama gue!" kesal Aara hingga keduanya terlibat perseteruan dan berujung kejar-kejaran.


...****************...


Jangan lupa like, coment dan vote cantik. Othor butuh imun lebih lagi. Terimakasih yang telah mendukung 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2