LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 60


__ADS_3

Brian dan Lily tampak sangat panik saat melihat tubuh Aara yang tiba-tiba kejang, bahkan berulang kali Brian memencet tombol emergency dengan tangan yang bergetar.


Setelah kata talak itu terlontar, kondisi Aara semakin memburuk. Brian dan Lily sudah banjir air mata, bahkan Lily sangat merasa bersalah. Dia mengepalkan tangan dengan memukul dadanya.


Brian yang mendengar begitu kencang pukulan itu segera menoleh ke arah Lily dengan perasaan yang kacau. Dia menghentikan pergerakan tangan Lily dengan mencekal kedua tangannya.


"Lily hentikan! Kamu kenapa? Jangan menyakiti diri kamu sendiri sayang!" sentak Brian dengan emosi yang tak bisa ia tahan.


"Aku salah Kak! Aku yang salah! Aku ada di antara kalian, Aku bodoh kak! Hiks.....Hiks....Hiks...." Hancur hatinya dengan rasa bersalah. Terlebih tiba-tiba pergerakan Aara terhenti dan tubuhnya mendadak kaku.


"Kak Aara!" seru Lily. "Kak Aara Kakak kenapa? Hiks...Hiks.....Kak! Nggak.....loe nggak boleh tinggalin gue Kak! Kak Aara!" Lily menggoyangkan tubuh Aara, ntah bagaimana hatinya kini.


Brian pun kembali melihat ke arah Aara, dapat ia lihat tubuh Aara semakin pucat dengan mata terbuka. Brian segara mengecek nadi dan detak jantung Aara, masih berdenyut meskipun terkesan lemah, nafas Aara pun masih ada tapi tubuhnya seperti kaku dengan mata terbuka.


"Kak, Kak Aara!" Tangis Lily semakin kencang, namun tiba-tiba suara itu menghilang dan Lily pingsan.


"Lily!"


Brian tampak semakin panik, dia merutuki Dokter yang lama sekali sampai. Tapi setelah itu ia mendengar suara sepatu bersahutan mendekat dan tak lama pintu terbuka.


Ada beberapa Dokter serta Papahnya datang dengan wajah tegang, mungkin karena tombol itu terdengar berulang-ulang. Mereka yang sedang briefing pagi segera menghentikan kegiatan tersebut dan berlari menuju kamar Aara.


"Ada apa Brian?"


"Aara Pah!"

__ADS_1


Papah Bayu segera melihat kondisi Aara, dia nampak syok namun tangannya terus memeriksa. Melihat Dokter yang nampak sibuk, Brian segera keluar ruangan dengan mendorong kursi roda Lily untuk di bawa kembali ke kamarnya.


Brian meminta Dokter kandungan untuk memeriksa kondisi Lily saat ini. Brian tak tau lagi bagaimana jika kedua bayinya terkena dampak karena kejadian tadi hingga membuat pikiran Lily tak bisa tenang.


Brian menunggu di luar ruangan, sementara Lily sedang di tangani oleh Dokter kandungan. Dia bingung siapa yang akan ia tunggu, Aara yang sedang kritis atau tetap disini menunggu kabar Lily dan kedua bayinya yang sama-sama membutuhkannya.


Brian teringat akan Mommy dan Daddy yang mungkin masih ada di rumah. Dia segera menghubungi ponsel Daddy dan mengabarkan kondisi kedua putri beliau.


Syok pasti, tapi nampaknya kali ini tidak sepanik sebelumya. Mungkin Mommy dan Daddy sudah lebih ikhlas dengan apa yang terjadi kedepannya. Berbeda dengan Lily yang baru tau keadaan Aara dan hari itu juga dia tau fakta jika apa yang terjadi dengannya adalah rencana dari Aara.


Sedih, hancur, menyesal, dan panik serta takut akan kondisi terburuk yang akan terjadi dengan Aara. Maka dari itu Brian mewanti-wanti sejak awal agar Lily kuat. Namun ternyata kekhawatirannya benar terjadi hari ini dan ia hanya berharap Lily dan kedua anaknya sehat tanpa ada kendala apapun.


Brian memijat pelipisnya dengan menundukkan kepala, terlihat sekali ia nampak frustrasi. Brian tak mengira pernikahannya berakhir dengan sangat mudah, padahal sejak awal ia berusaha untuk mengakhiri namun begitu sulit. Terlebih kondisi Aara yang membuatnya sempat pesimis akan bisa lepas dari ikatan pernikahan.


Brian beranjak dari duduknya dengan cepat, ia melihat ke arah pintu kamar Lily yang terbuka. Buru-buru Brian menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana dengan Lily Dok?"


"Pasien mengalami syok dan kepanikan yang berlebihan. Hal itu jelas sangat mempengaruhi kedua bayinya. Beruntung tidak kembali mengalami pendarahan. Padahal tadi pagi dia sudah meminta pada saya untuk bisa pulang sore ini dan kondisi pagi tadi kedua bayinya pun baik-baik saja. Semoga setelah sadar nanti pasien bisa mengendalikan diri. Dan jangan sampai stress, itu sangat tidak baik bagi Ibu dan bayi yang di kandungnya."


"Baik Dok, terimakasih. Saya sudah boleh masuk Dok?" tanya Brian lagi, ia ingin sekali bertemu dengan Lily dan juga berbicara pada kedua bayinya.


"Silahkan Pak, tapi tolong di jaga emosi pasien!"


"Baik Dok."

__ADS_1


Brian segera masuk setelah Dokter kembali ke ruangannya, beruntung masih di kawasan rumah sakit jadi bisa dengan cepat di tangani.


Brian duduk di samping ranjang Lily, gurat kesedihan masih nampak jelas. Di ujung matanya pun masih terlihat basah. Brian mengecup kening Lily kemudian turun ke perutnya. Dia mengusap lembut perut Lily dengan air mata yang kembali tak bisa ia tahan.


"Anak Ayah...... Baik-baik di dalam ya Nak! Kalian anak kuat, kalian anak Ayah yang hebat. Tetap bertahan apapun yang terjadi sayang ...Kita akan berjumpa beberapa bulan lagi. Sehat terus anak-anakku."


Brian menyurut air mata, ia kembali mengecup perut Lily dengan mengurai rasa khawatir. Dapat Brian rasakan tendangan kecil terasa dua kali, mungkin ini respon dari kedua bayinya. Dan itu membuat Brian kembali menitikkan air mata.


"Kalian sayang Ayah? Kalian merespon ucapan Ayah...Janji sama Ayah, kelak kita akan menjaga Bunda bersama-sama!" Brian tersenyum dengan pipi yang basah, ia kembali merasakan tendangan dari dalam perut Lily. Bahkan sangat kencang hingga Brian rasanya begitu gemas. Haru menyelimuti hatinya, setidaknya ia tenang meninggalkan Lily untuk melihat bagaimana kondisi Aara saat ini.


"Ayah ke ruangan Tante Aara dulu ya sayang, jangan lupa kerja samanya...Ayah sayang kalian!"


Cup


Brian beralih menatap Lily yang belum sadarkan diri, dia berharap setelah Lily sadar nanti keadaannya berangsur membaik.


"Aku ke ruangan Aara dulu ya Sayang ...Sebentar....Setelah ini aku akan kembali jagain kamu dan bayi kita."


Rasanya lega saat status duda telah ia sandang, meski surat pengadilan belum ia urus namun setidaknya sekarang dia tidak terlihat seperti suami yang berselingkuh.


Brian mengecup kening Lily, kedua mata, turun ke pipi dan bibir Lily yang pucat. Tak ada respon apapun dari Lily, setelah itu Brian segara meninggalkan Lily untuk melihat keadaan Aara.


Lily membuka mata setelah pintu ruangannya tertutup rapat. Air matanya kembali terurai dengan isak tangis yang ia tahan.


"Maaf Kak Aara....Maaf....Karena gue keadaan loe tambah parah." Lily masih berpikir dengan Brian yang mengabulkan permohonan Aara membuat kondisi Kakaknya semakin parah. Dia pun menyayangkan tindakan Brian yang malah menuruti perintah Aara.

__ADS_1


__ADS_2