
Brian sudah rapi dengan pakaian pengantin yang selaras dengan Lily. Di bantu oleh team rias pengantin yang kini sudah beralih ke kamar Lily. Dia berdiri di depan cermin dengan mata berkaca-kaca. Jika semalam dia begitu tidak sabar ingin bertemu Lily, namun pagi ini Brian sedikit nervous meski ini bukan pengalaman yang pertama baginya.
Sang Papah datang di saat acara ingin di mulai, Brian menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dia melihat senyum di wajah sang Papah dengan tatapan hangat. Brian pun mendekat dan mengecup tangan Papah lalu memeluk hangat beliau. Suasana yang sangat berbeda dengan pernikahan pertamanya bahkan kali ini Brian meminta restu sebelum ijab kabul dilangsungkan.
"Maafkan kesalahan Brian selama ini Pah. Brian banyak merepotkan dan membuat Papah pikiran. Brian pun minta restu pada Papah, doakan pernikahan Brian kali ini langgeng hingga maut yang memisahkan. Terimakasih telah mendukung Brian sampai saat ini," lirih Brian saat memeluk sang Papah.
Brian masih ingat betul bagaimana kacaunya sang Papah saat mengetahui tentang penyakit Aara dan usahanya ingin menyembuhkan namun sudah terlambat.
Bayu menepuk pundak Brian dengan mengukir senyum. Matanya pun mulai basah, dia justru lega telah mengembalikan cinta Brian. Kesalahan yang sebelumnya terjadi tidak dapat dipungkiri jika dia pun ikut andil di dalamnya.
"Semoga pernikahan ini membuatmu selalu bahagia Nak! Papah yang seharusnya minta maaf karena membuat hidupmu sulit karena mengikuti permintaan orang tua, kamu harus melepas impian. Maafkan Papah ya..."
Brian melepaskan pelukannya, dia menatap sang Papah dengan menyurut air mata yang hampir lolos jatuh dari pelupuk mata.
"Sama-sama Pah, Brian pun salah..."
"Hhmm... Sudah siap? Jangan ada air mata setelah ini selain air mata kebahagiaan! Kamu akan menjadi kepala rumah tangga yang sesungguhnya. Jadilah pria yang bertanggung jawab! Bukan hanya dengan istri, kamu juga harus bertanggung jawab pada anak-anakmu dengan menjadi Ayah yang baik!"
"InsyaAllah Pah." Brian mengulum senyum, sepintas ia teringat akan Lily. Betapa bahagia karena tinggal selangkah lagi dia mewujudkan impian.
Brian dan sang Papah melangkah menuju tempat acara di gelar. Ballroom hotel Weda telah diramaikan oleh para tamu undangan sekaligus saksi pada acara ijab yang akan di gelar.
__ADS_1
"Kak," seru Zea melangkah mendekati sang Kakak yang sudah akan masuk ke dalam lift. Brian dan sang Papah pun menghentikan langkahnya untuk menunggu Zea.
"Gantengnya Kakak gue, pantes aja dari dulu nggak dukung gue sama Kak Rafkha. Orang loe ngincer si Lily eh malah dinikahkan sama Aara. Makanya kalo cinta tuh jujur kayak gue, usaha! Gagal lagi kan gue nikah karena keduluan sama loe. Harusnya udah punya anak empat dan gantian gue menuju pelaminan. Malah nikah lagi dan gue harus nunggu tahun depan," oceh Zea.
"Emang loe udah ada pasangannya? Ngomong aja, punya pacar aja nggak. Jangan-jangan belum move on loe ya dari Rafkha! Sekolah jauh-jauh masih aja kepentok cinta masa lalu," sahut Brian, kemudian mereka masuk ke dalam lift.
"Mau nikah jangan julid! Nggak usah urusin gue! Loe urusin aja Kakak ipar."
Bayu menggelengkan kepala mendengar perdebatan kedua anaknya. Beruntung sang istri sedang menemui calon mantu, jika ada di antara mereka sudah pasti akan pusing kepala.
"Awas jadi perawan tua loe!" Brian masih saja tidak bisa diam, seperti itulah jika sudah bertemu dengan adiknya.
"Sudah! Brian, kamu lupa jika akan menikah? Jangan sampai perdebatan mu membuat kamu lupa dengan nama Lily saat ijab!" Bayu berusaha mengingatkan Brian agar putranya tak lagi meneruskan perdebatan dengan putrinya. Jika tidak, bisa-bisa acara ijab di undur sampai keduanya kembali akur.
Brian menghela nafas berat, dia hampir melupakan acara yang sakral dalam hidupnya. Pria itu berdehem dengan merapikan jas serta peci yang memancing Zea untuk kembali mengejek.
"Ap_"
"Sudah, jangan dihiraukan lagi adikmu!" Bayu pun segera menoleh ke arah Zea yang sedang menahan tawa. "Kamu juga, jangan goda terus Kakakmu! Jangan memancing keributan, ini acara nggak akan di mulai jika Kakak kamu malah kamu ajak berdebat!" oceh Bayu.
Zea pun tak lagi menggoda Brian, dia mencoba menutup rapat mulutnya dan tak lagi mencari masalah. Kini ketiganya melangkah menuju tempat acara, sudah banyak yang datang dan memenuhi kursi tamu.
__ADS_1
Zea memutuskan untuk duduk mendekati Tiara dan Mamahnya yang ternyata sudah berada di sana dengan kedua ponakan barunya yang berada di dalam stroller. Tadi Mommy Andini menyerahkan kedua cucunya pada besan karena ingin menemui Lily dan melihat kesiapan putrinya. Beliau juga yang akan mendampingi Lily dan mengantar putrinya sampai bertemu dengan Brian menggantikan Aara yang sebelumnya Mommy tugaskan mendampingi Lily.
Papah Bayu mendampingi Brian menuju meja dilaksanakannya ijab kabul. Tampak di sana Pak penghulu telah hadir. Ada Daddy serta Om Andika dan juga Rafkha yang akan menjadi saksi.
Brian menduduki kursi tersebut, dia menyalami Daddy, Om, Pak penghulu dan tidak lupa Rafkha dengan tos khas mereka. Dapat di dengar beberapa tamu mulai membicarakan dirinya, bahkan ada yang mengira jika Aara tidak hadir dalam acara tersebut karena, masih sakit hati pada sepasang pengantin yang mereka tau mantan suami dan adik kandungnya sendiri.
"Tidak perlu di dengarkan! Fokus kamu pada acara dan mentalnya tidak boleh goyah hanya karena suara sumbang yang tidak tau menahu apa yang sebenarnya terjadi," bisik Bayu di telinga Brian. Dia tidak ingin putranya menjadi kepikiran dan membuyarkan konsentrasinya.
Pak penghulu mulai menanyakan kesiapan dari Brian. Beliau memberi wejangan tentang pernikahan lalu di lanjut dengan pembacaan ayat Alquran yang dibawakan oleh salah satu anak yatim yang Andini ambil dari salah satu panti yang biasa keluarganya datangi.
Brian melirik kursi di sampingnya yang masih kosong, hati Brian begitu bahagia karena sebentar lagi akan bersanding dengan wanita yang ia inginkan.
Brian berusaha untuk tenang menunggu Lily dengan sabar, yang kini sedang dalam perjalanan.
Setelah pembacaan ayat Alquran selesai dilantunkan. Suara desas-desus para tamu kembali terdengar semakin ramai di telinga. Awalnya Brian tidak perduli namun rasa ingin tau lebih tinggi tetapi Brian enggan untuk dirinya menoleh ke belakang.
"Kali ini mereka membicarakan hal baik, dan kamu tidak ingin tau apa yang membuat suara mereka begitu ribut?" bisik Papah Bayu.
Brian menoleh ke arah sang Papah dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Lihatlah ke arah pintu masuk! Ada siapa di sana?"
__ADS_1