
Setelah mencuri jadwal di sela kesibukan dokter kandungan yang sedang memeriksa puluhan antrian pasien. Brian segera berlari menuju pintu masuk rumah sakit untuk menunggu datangnya mobil yang membawa Lily. Tapi baru saja langkahnya ingin berhenti, ia melihat mobil Om Andika datang dan pintu terbuka dengan tubuh Lily yang di angkat oleh Daddy Raihan.
Kepanikan semakin menjadi, Brian melihat jelas dengan netranya gaun yang ia belikan berubah warna kemerahan. Itu bukan noda tinta atau cat, melainkan bercak darah yang masih segar. Jantungnya serasa ingin berhenti berdetak bahkan tubuhnya mendadak gemetar. Brian takut terjadi sesuatu pada keduanya, Lily dan juga anak yang tengah di tunggu kelahirannya.
Dengan langkah berat Brian berusaha mendekat, membantu Daddy yang cukup kerepotan dengan meminta Lily agar dia yang membawa masuk.
"Biar Brian saja Daddy!"
Raihan menatap Brian dengan perasaan yang tak karuan, ingin egois dan menolak permintaan Brian. Karena Daddy menghargai jika Brian adalah suami dari Aara. Namun ia teringat akan bayi yang Lily kandung adalah tanggung jawab Brian. Dan saat ini sedang sangat membutuhkan pertolongan.
"Hati-hati!" ucap Daddy dengan menyerahkan Lily kepada Brian. Tanpa menunggu lama Brian segera melangkah panjang menuju ruangan yang tadi dokter kandungan janjikan.
"Dokter tolong...... Selamatkan keduanya saya mohon!" Brian memohon dengan netra yang basah, langit cerah namun hatinya mendadak mendung setelah melihat wajah wanita yang ia cinta memucat dengan banyak darah. Bahkan kini tubuhnya telah meluruh ke lantai dengan tatapan berkabut air mata.
"Kuat sayang...." Lirih Brian hampir tak terdengar. Tangan dan pakaiannya kini berubah menjadi merah. Ketakutan menyelimuti kalbu hingga ia merutuki dirinya yang tak mampu melindungi keduanya karena tanggung jawab yang harus terbagi.
__ADS_1
Melihat betapa terpukulnya Brian membuat Raihan yakin jika Brian memang betul mencintai Lily setulus hati. Wajah Brian berbeda saat tau Aara yang sakit. Sadar jika ia tidak peka dengan perasaan putra putrinya dan kembali melakukan kesalahan dengan ikut campur masa depan mereka.
Menyesal sudah pasti, tapi bukan saatnya meratapi Semua harus di perbaiki agar langkah kedepannya tak lagi membuat patah hati. Putra putri nya sudah menjadi korban atas perjodohan. Tapi apa mungkin kini ia memisahkan Aara dan Brian di saat Aara sedang butuh perhatian khusus.
Raut wajah panik sangat kental terlihat di wajah mereka. Terlebih Mommy, sebagai Ibu dia tau perjuangan Lily tidaklah mudah. Dan ini kesekian kalinya ia gagal. Karenanya Lily tau dan membuat kondisi Lily menurun. Padahal baru pagi tadi Mommy bisa melihat aura terang di wajah Lily. Tapi kembali pudar setelah pembahasan yang membuat hati putrinya kembali berantakan.
"Lily....Putriku, Maafkan Mommy nak..hiks....hiks..." Raihan segera meraih tubuh istrinya dan mencoba menenangkan. Meski ia merasakan perasaan yang sama tapi sebagai suami, ia harus kuat. Dan tak ingin istrinya pun ikut sakit karena memikirkan kedua putrinya yang masuk rumah sakit.
Sejak tadi Andika diam melihat Brian dan kedua adiknya, merasa iba dengan masalah yang ada. Apalagi setelah ia mengetahui duduk permasalahan semuanya, yang ternyata mereka terlibat cinta segitiga. Tapi Andika menyayangkan akan keterlibatan orang tua. Dan tak membenarkan apa yang putranya lakukan hingga Lily dan Brian terjerat hubungan yang menimbulkan pertentangan.
Brian semakin menundukkan kepalanya, hatinya sedang kalut. Otaknya seakan buntu, dia tau jika setelah ini ia harus tegas. Namun yang menjadi pertimbangan adalah nyawa Aara. Sulit untuknya meninggalkan dan jika terjadi sesuatu dengan Aara, sudah pasti ia menjadi orang pertama yang disalahkan.
"Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku cepat kembali, walaupun aku tau akan ada hati yang merasa dizhalimi."
Pintu ruangan terbuka membuat Brian beranjak dengan cepat, sampai tak sengaja menyenggol tubuh Andika yang memang lelah karena sejak semalam membantu Rafkha. Hingga akhirnya terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Auwh.....Bokong gue!" lirih Andika merasakan bokongnya yang sakit. Dia melihat Brian tidak sengaja bahkan tidak tau jika membuat dirinya harus merasakan hantaman lantai rumah sakit. Ingin mengamuk dan mengumpat kesal pun suasananya tidak tepat. Karena semua tampak penasaran dengan keadaan Lily. Sampai istrinya pun tidak peduli dan malah melengos buru-buru mendekati dokter.
"Bagaimana dengan Lily Dok?" tanya Brian tidak sabar. Melihat Dokter keluar dengan senyuman tipis seperti mendapatkan angin segar di tengah ruangan hampa udara.
"Pasien mengalami pendarahan dan membutuhkan banyak darah!"
deg
Kabar macam apa yang selalu berujung buruk, Brian membenci itu, sangat membenci karena takdir yang selalu mengkhianati.
...****************...
Jangan lupa follow Ig aku ya kakak-kakak...
Ig: weni0192
__ADS_1