
Sampai di rumah, Lily dan Brian nampak lega karena urusan kedua anaknya sudah aman. Aara dan Wahyu setuju begitupun dengan Mommy dan Daddy yang juga sangat mendukung mereka untuk berangkat honeymoon.
Brian tersenyum menoleh ke arah sang istri ketika keduanya sudah merebahkan tubuh mereka di ranjang. Perlahan Brian memiringkan tubuhnya dan menatap sang istri dengan tatapan penuh damba.
"Cantik," panggil Brian. Pria itu mengusap lembut pipi Lily dengan menyunggingkan senyum.
"Jangan melihatku seperti itu Mas! Kan jadi malu." Wajah Lily merona dengan menoleh ke sembarang arah menghindari tatapan Brian yang begitu dalam.
"Aku senang akhirnya bisa kemana-mana sama kamu, bisa satu atap sama kamu, bisa bersenang-senang sama kamu." Brian menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara. " Besok aku sudah kembali kerja, kamu baik-baik di rumah sama anak-anak ya!"
"Hhmm... Mas tenang saja aja, aku dan anak-anak sudah mulai betah di sini. Jadi, bukan hanya kedua bayi kembar kita yang anteng. Bundanya pun anteng." Lily menyunggingkan senyum dan kembali menatap Brian.
"Baguslah, setidaknya aku di kantor tidak kepikiran dengan kalian di rumah. Oh iya, tapi besok ada yang mambantu kamu mengurus rumah. Jadi, kalian tidak hanya bertiga, ada Bibi dan suaminya yang akan mengurus halaman serta menjaga keamanan rumah ini."
Sesuai rencana Brian, dia akan mendatangkan asisten rumah tangga agar Lily tidak kerepotan.
"Iya Mas, ya sudah kita istirahat yuk! Besok kan kamu mulai bekerja," ajak Lily yang kemudian menarik selimutnya tetapi dengan cepat Brian mencegah. "Kenapa?" tanya Lily dengan tatapan waspada. Dia tau sekali jika Brian akan kembali mengajaknya bermain-main dengan si Joni.
"Joni tidak boleh berkunjung lagi?"
Benar saja, Lily hampir hafal raut wajah Brian yang menunjukkan tatapan penuh permohonan. Apa lagi jika tidak meminta jatah harian. Lily menggelengkan kepala, tubuhnya masih sangat lelah walaupun Brian memberikan kenikmatan disetiap penyatuan.
"Tadi sudah Mas, aku lelah sekali. Kakak juga kan harus bangun pagi besok."
Brian mengangguk pasrah, tak mengapa tidak mendapat jatah malam ini. Besok pagi dia akan tagih kembali hitung-hitung untuk penyemangat pagi sebelum berangkat ngantor.
Brian menarik tubuh Lily dan memeluknya. Tidak lupa keduanya memberikan kecupan manis pengantar tidur. Hingga pagi menyapa dengan kesibukan Lily yang membuat Brian tak kuasa meminta jatah.
"Ayo Mas, cepat mandi! Aku ke kamar anak-anak dulu ya, aku ingin memandikan mereka." Lily melangkah menuju kamar sebelah dengan handuk yang masih membungkus kepalanya.
__ADS_1
Brian menghela nafas berat menatap punggung Lily yang menghilang di balik pintu. Dia serasa enggan untuk beranjak dari ranjang. Niat meminta jatah malah kalah dengan si kembar yang juga butuh perhatian.
"Kurang pagi bangunnya, besok lagi jam empat gue sudah harus bangun agar bisa ajak Lily nganu."
Brian mendengus kesal kemudian memaksakan diri untuk bersiap. Pakaian kerja sudah tersedia untuknya sebelum tadi sang istri beralih ke kamar anak-anak.
"Sarapan dulu Kak!" Setelah mengurus kembar, Lily segera beralih ke dapur dan menyiapkan sarapan. Pagi ini hanya bisa memasak menu simpel. Sarden dan omlet menjadi pilihan.
Brian melirik ke arah meja makan dan menatap wajah sang istri yang berkeringat.
"Repot sekali ya pagi ini?" Brian mengusap keringat Lily yang membasahi keningnya dengan tisu kemudian duduk di samping sang istri.
"Lumayan, ternyata menjadi ibu rumah tangga nggak mudah tetapi sangat menyenangkan. Maaf ya Mas aku hanya bisa masak ini saja karena di sambi mengurus kembar. Mungkin karena belum terbiasa juga. Nanti malam akan aku siapkan menu yang berbeda. Setidaknya empat sehat lima sempurna tersedia di atas meja."
"Tidak masalah, aku akan makan apapun yang kamu masak," jawab Brian melegakan hati Lily.
Setelah sarapan Brian bergegas berangkat. Tak lupa meninggalkan tanda cinta di kening sang istri dan kedua bayi kembarnya.
"Iya Ayah," jawab Lily dengan menirukan suara bayi membuat Brian gemas dan mengacak rambutnya.
Lily melambaikan tangan melihat mobil Brian yang keluar gerbang. "Lindungi suamiku Tuhan..."
Hari ini full waktu Lily tercurah untuk kedua buah hatinya. Dia pun ikut beristirahat ketika kedua anaknya tidur siang. Beruntung asisten rumah tangga yang Brian janjikan sudah mulai bekerja. Sehingga Lily bisa meluangkan waktu untuk tidur dan merawat diri dengan nge-gym di ruangan yang telah Brian siapkan.
"Ayah..." Lily menyambut Brian pulang dengan kedua anaknya dalam gendongan.
Brian tersenyum melihat ketiga orang yang dicintai, sambutan mereka mampu mengurai penat setelah seharian berkutat dalam pekerjaan.
"Halo anak-anak Ayah, wah sudah tampan ya kalian berdua. Wangi lagi, seperti bundanya yang juga sudah sangat wangi." Brian melirik ke arah Lily dengan mengulum senyum kemudian mengecup kening Lily. Berhubung Lily menggendong kedua bayinya sekaligus, dia tidak bisa mengecup tangan Brian.
__ADS_1
Brian mengambil alih salah satu anaknya dan segera melangkah menuju kamar.
"Bi, tolong buatkan kopi untuk suami saya ya!"
Brian menoleh ke arah Lily yang sedang berbicara dengan Bibi. Seakan tak terima jika minuman kesukaannya dibuatkan dengan orang lain, Brian pun segera angkat bicara.
"Biar istri saya saja Bi yang membuatkan kopinya. Lidah saya sudah candu dengan buatin istri Bi," ucap Brian dengan menyunggingkan senyum.
"Baik Tuan, memang seperti itu jika sudah memiliki istri. Kopi buatan istri nomor satu, paling juara."
"Betul banget, Bi. Sayang, sini Brilly sama Mas! Jadi kamu bisa membuatkan kopi untuk aku." Brian segera mengambil alih Brilly dan segera naik tangga menuju kamar.
Sejak tadi Lily hanya diam menyimak dengan wajah merona. Dia pun segera membuatkan kopi untuk Brian. Kopi yang dibuat tanpa hal istimewa, hanya diseduh siap dihidangkan tetapi sang suami tidak mau dibuatkan oleh orang lain dan mengatakan jika kopi buatannya membuat candu.
"Aneh."
Lily segera menyusul ke dalam kamar dan meletakkan kopi tersebut di atas nakas. Dia melirik ke arah ranjang dan pintu kamar mandi yang tertutup, kemudian melangkah mendekati kedua putranya yang anteng rebahan di atas ranjang.
"Ditinggal Ayah mandi ya Sayang." Lily segera duduk di samping keduanya, ikut menunggu Brian yang sedang membersihkan diri.
Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Brian yang keluar hanya dengan handuk sebatas pinggang.
"Baju ganti di tempat biasa ya, Mas!"
"Iya Sayang, nggak sekalian dipakaikan?" goda Brian.
"Nanti aku kasih minyak telon dan bedak seperti kembar, mau?" tanya Lily yang ikut menggoda.
"Nanti si Joni berubah jadi pisang tepung dong Sayang!"
__ADS_1
"Bukan, tapi pisang goreng gula!" celetuk Lily.
"Dan kamu donat gulanya!" Brian tertawa menanggapi ledekan Lily.