
Sebelum hari menginjak malam Lily sudah di perbolehkan untuk pulang, Rafkha kembali lagi ke rumah sakit setelah tadi menjelaskan semuanya pada Daddy. Bukan ia jahat tetapi masalah harus segera di selesaikan agar tak semakin merugikan. Apa lagi jika ia menyembunyikan dan orang tua tau setelah melihat perut Lily membesar, sudah tentu tak hanya Lily saja yang kena amuk tapi dirinyapun tak lepas dari amarah Daddy.
Lily berjalan di antara Rafkha dan Brian, diam-diam Brian mengaitkan tangannya secara paksa pada Lily karena wanita itu terus memberontak. Sedangkan Brian takut Lily terjatuh karena tubuhnya masih lemah dan Rafkha sejak tadi hanya diam dengan wajah datar, tak membantu adiknya berjalan. Bukan karena Rafkha tega, tapi rasa hati yang masih kecewa membuatnya tak ingin banyak bicara dan tidak peka.
Kini Rafkha yang menyetir dan Brian duduk di samping kemudi setelah membantu Lily untuk masuk ke dalam mobil. Rafkha mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Lily sudah aman dan duduk dengan nyaman.
"Pelan-pelan Raf!" ucap Brian mengingatkan, Rafkha membawa mobil dengan kecepatan agak tinggi. Ntah karena sudah ada yang menunggu atau memang Rafkha sengaja karena emosinya masih begitu besar. Tapi yang jadi fokus Brian adalah keselamatan Lily dan bayinya.
Rafkha tak menjawab, tapi pergerakan mobilnya sudah tak secepat tadi. Dia pun masih memasang wajah dingin tanpa mau menoleh sedikitpun ke arah Brian dan Lily.
Lily menghela nafas berat melihat Rafkha membawanya ke rumah utama, bukan pulang ke rumah sang kakak. Dia memang tidak boleh lagi menghindar. Menyiapkan hati dengan apapun yang terjadi. Tangan Lily tak lepas dari perutnya, dia tak menyalahkan anak yang ada didalam kandungannya. Justru anak itu yang menjadikan dirinya kuat.
__ADS_1
Bagi Lily, bayi yang ia kandung adalah harta berharga setelah Ayah dari bayi itu telah menjadi milik Kakak kandungnya. Meski ada penyesalan mengapa malam itu harus terjadi namun anak yang tengah ia kandung adalah anugerah yang tak ternilai.
Lily gugup saat kakinya melangkah masuk, di ruang keluarga sudah berkumpul Daddy, Mommy, dan Aara yang menatap dengan tatapan tak biasa. Masih dengan formasi yang sama, kedua pria yang merupakan kakak kandung dan kakak ipar melangkah mengapit dirinya.
Dengan langkah perlahan Lily menghampiri kedua orangtuanya dan bersimpuh di hadapan beliau. Tindakan Lily membuat Brian reflek ingin mendekat namun dengan cepat Aara mencegah. Brian tak tega melihat Lily menghadapi sendiri, tapi janjinya dengan wanita itu membuat dirinya menjadi pria bodoh yang hanya bisa melihat tanpa bisa bertindak.
"Maafin Lily Daddy.....Maafin Lily Mommy...." Lirih Lily dengan air mata yang sudah luruh menetes ke lantai. Lily menundukkan kepala di hadapan kedua orangtuanya yang sejak tadi begitu berat berucap. Bahkan Mommy Andini hanya menangis, beliau masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada putrinya. Dan Mommy menyayangkan kenapa Lily tidak jujur sejak awal, agar beliau dan suami bisa mencari tau siapa yang berani-berani menjebak putri mereka.
Begitu pula dengan Daddy, beliau begitu marah dan ingin sekali memaki Lily tapi setelah melihat wajah polos penuh beban yang terlihat jelas di wajah putrinya. Rasa ingin berucap kasar secepatnya sirna walaupun kekecewaan begitu mendalam. Apa lagi saat ia tau putrinya hamil di luar nikah dengan pria beristri. Daddy seperti di timpa batu besar tapi harus tetap kuat dan tegas menyikapi masalah putrinya.
Dengan perlahan Lily mendongakkan kepalanya, dia memberanikan diri menatap wajah penuh luka yang terlihat jelas dari kedua orang tuanya. Ini lebih menyakitkan dari pada melihat pria yang ia cinta bersanding dengan wanita lain. Air mata kekecewaan kedua orangtuanya begitu menghujam jantung Lily.
__ADS_1
"Tidak Daddy, aku tidak mau merusak hubungan dia dengan istrinya. Karena aku tidak ingin menjadi wanita perebut suami orang. Dan tidak ada hak untukku meminta pertanggung jawaban karena aku yang memaksanya membantuku melepaskan diri dari efek obat yang membuatku tak bisa menahan diri."
Keputusan Lily sudah bulat, dia akan menanggung semuanya sendiri sekalipun nanti ia akan di buang oleh keluarga. Dia benar-benar membuat Brian hanya bisa bungkam. Terlebih sejak tadi Aara mengalungkan tangannya di lengan Brian.
"Lily, sayang....Mommy mohon pikirkan lagi Nak! Kamu tidak mungkin bisa menjalani semuanya sendiri. Apa lagi perut kamu akan semakin membesar dan tidak ada kabar berita tentang pernikahan kamu!" Andini jelas tidak setuju, sama seperti suaminya yang sejak kepergian Rafkha menjemput Lily ke rumah sakit, Raihan di buat pusing dengan kabar jika Lily begitu keras kepala.
Brian menatap penuh harap, semoga ucapan mertuanya mampu mengubah pikiran Lily agar menarik keputusan yang begitu sulit di gagalkan. Terlebih mommy kini dengan lembut membantu Lily untuk duduk di sampingnya. Harapan Brian hati Lily bisa luluh dan mau menurut.
"Tidak Mah, ini yang terbaik dan Lily tetap dalam pendirian. Lily tidak akan mengusik rumah tangga orang lain." Kekeh Lily membuat yang lain hanya bisa menghela nafas berat.
"Jika itu keputusan mu, maka gugurkan anak itu karena Daddy juga tidak ingin keluarga ini menanggung malu!" Tegas Raihan.
__ADS_1
deg
Tidak hanya Lily yang tertegun mendengar ucapan Daddy, tapi semua yang ada di sana nampak tercengang dan tak percaya jika sang Daddy begitu tega.