
Brian sampai di ruangan tempat Aara di rawat, namun ia tidak menemukan Aara di sana. Brian menyapu pandang seluruh sisi ruangan, tapi tidak mungkin jika Aara di kamar mandi atau berjalan sendiri sedangkan kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk banyak bergerak.
Brian keluar kamar itu, dia tampak seperti orang linglung. Cepat sekali kamar Aara sepi dan sudah rapi. Brian melihat ada perawat yang melintas dengan cepat dia mendekati perawat tersebut dan mencoba untuk menanyakan keberadaan Aara.
"Sus, kemana pasien yang di rawat di sini? Apakah sudah di pindah keruangan lain atau di bawa pihak keluarga?"
"Oh Pasien yang di sini sudah di pindahkan Pak, tapi saya kurang tau di pindahkan keruangan mana. Bapak bisa tanyakan pada pihak Dokter yang tadi menangani Pasien tersebut Pak!"
"Baik, makasih ya Sus!"
Brian memilih untuk segera pergi ke ruang kerja Papahnya untuk menanyakan keberadaan Aara saat ini dan menanyakan kondisi Aara pada beliau. Tetapi sampai di sana Brian tidak menemukan siapapun. Dia mengusap kasar wajahnya kemudian melangkah keluar ruangan dengan langkah lunglai.
"Dibawa kemana Aara....." Brian duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruang kerja sang Papah. Dia menyugar rambutnya dan menundukkan kepala. Jujur tenaga Brian serasa terkuras habis, mungkin karena kurang istirahat, ditambah lagi banyak pikiran karena masalah yang selama berbulan-bulan ini tidak kunjung selesai.
Rasanya hampir menyerah namun tanggung jawabnya di perlukan. Dia pun harus menjelaskan jika dia telah menjatuhkan talak pada Aara dan entah mereka mau menerima atau malah menyalahkan. Brian pun sudah pasrah akan itu.
"Brian."
Brian mendongakkan kepala saat mendengar namanya di panggil oleh sang Papah. Beliau tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Brian kemudian duduk di sampingnya.
"Papah...."
"Kamu mencari Aara?"
"Iya Pah, di mana Aara? Ruangannya sudah kosong," lirih Brian.
Sang Papah menghela nafas berat, beliau menoleh ke arah putranya yang nampak kusut dan lelah. Bayu tau, masalah ini tidaklah mudah untuk Brian. Beliau menepuk pundak sang putra untuk menenangkan dan memberi dukungan padanya.
"Aara masuk ruang ICU, dia koma dan kami tim dokter sudah tidak bisa berbuat banyak."
__ADS_1
Brian kembali menundukkan kepala memikirkan nasib Aara yang sangat mengenaskan. Nasib Aara seperti di gantung dan tidak tau bagaimana selanjutnya. Terlebih semua Dokter sudah angkat tangan, hanya menunggu mukjizat datang atau takdir ingin berkata lain.
"Sebelum kondisi Aara kembali memburuk, Aara meminta maaf pada Lily dan mengakui semua kesalahannya. Mungkin itulah alasan Aara ingin sekali bertemu dengan Lily, kemudian Aara meminta Brian untuk men jatuhkan talak padanya. Saat itu Brian bingung Pah, Lily melarang tapi Aara terus mendesak hingga Brian melihat kondisi Aara semakin memburuk. Sampai dimana kata talak itu keluar dari mulut Brian dan Aara mengalami kejang-kejang hingga hilang kesadaran."
Brian menghela nafas panjang, rasanya dada Brian begitu sesak saat menceritakan itu dan kembali teringat akan kejadian tadi.
Bayu pun mendengarkan dengan ekor mata yang basah, dia meratapi pernikahan putranya yang berakhir tragis. Meski tidak saling mencintai, namun jalan hidup mereka tidaklah mudah di lalui.
"Apa aku salah Pah? Apa kondisi Aara memburuk karena aku?" Mata Brian berkaca-kaca menatap sang Papah.
Dengan cepat Bayu memeluk putranya, dia tau Brian sedang butuh sandaran. Dan kini Bayu membiarkan Brian menumpahkan kesedihan serta beban dengan menangis di pelukannya.
"Menangislah! Laki-laki menangis bukan berarti dia lemah, tapi itu caranya menumpahkan emosi agar setelah ini pikirannya lebih jernih untuk menyelesaikan masalah yang ada dan bisa berpikir lebih terbuka."
Brian terisak di pelukan sang Papah tanpa mengingat rasa malu hingga beberapa orang yang melintas menoleh kearah keduanya.
Brian melepas pelukannya, dia teringat akan Lily yang terus saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri. Brian takut Lily tidak bisa berdamai dengan keadaan yang nantinya segala pikiran itu justru akan membuat kondisi tidak kunjung membaik dan itu akan mempengaruhi kandungannya.
"Pah, aku akan melihat Aara dulu, karena aku tidak bisa meninggalkan Lily lama-lama. Kasihan dia tidak ada yang menemani Pah," ucap Brian yang kemudian beranjak dari duduknya.
"Papah akan meminta Mamamu datang ke sini untuk menemani Lily."
"Apa Mamah sudah tau?"
"Sudah Papah ceritakan semuanya dengan Mamah. Awalnya Mamah sangat terkejut, menangis dan tidak menyangka dengan hubungan kalian. Tapi setelah itu Mamamu begitu senang jika sebentar lagi dia akan mendapatkan cucu. Papah juga baru menceritakannya semalam, itupun karena Mamah begitu terkejut melihat perut Lily yang sudah membesar saat di acara tujuh bulan Tiara."
Brian menganggukkan kepalanya, ada rasa bersalah pada Mamah karena sejak menikah belum berani menemui. Terlalu banyak persoalan membuatnya enggan bertemu keluarganya dulu, karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya kepikiran.
"Terimakasih Pah, tolong kabari aku jika Mamah sudah datang!"
__ADS_1
"Iya."
Brian segera ke ruang ICU dimana Aara berada, dia melangkah panjang agar cepat sampai karena kepikiran akan Lily. Brian pun berharap Mommy dan Daddy sudah datang karena dia ingin menceritakan apa yang terjadi sebelum Aara koma.
Dari jauh Brian bisa melihat Mommy yang baru keluar dari ruangan, sedangkan Daddy menunggu di luar. Brian berlari dan buru-buru mendekati, semakin dekat dia melihat kedua mertuanya hanya diam pasrah dan saling berpelukan. Menangis sudah pasti, tapi sepertinya keduanya sudah ikhlas dengan apa pun yang terjadi.
"Dad, Mom...."
"Brian." Keduanya menoleh ke arah Brian yang baru saja datang.
Brian mengatur nafas setelah berlari lumayan jauh. Dia bersimpuh di hadapan kedua mertuanya dengan menundukkan kepala. Dan itu membuat Daddy dan Mommy tertegun melihatnya.
Dengan cepat Daddy mencegah namun Brian nampak enggan untuk bangun.
"Brian apa yang kamu lakukan nak?" tanya Mommy yang bingung melihat sikap Brian.
"Maafkan aku Daddy, maafkan aku Mommy......Aku telah menceraikan Aara sebelum dia koma."
Andini dan Raihan saling berhadapan, keduanya nampak terkejut mendengar pengakuan Brian.
"Brian melakukan itu atas permintaan Aara, Aara yang memaksa Brian setelah tadi bertemu dan meminta maaf pada Lily. Maaf aku Dad Mom......"
Daddy memaksa Brian untuk bangun, beliau menepuk pundak Brian dengan senyuman tipis yang terukir. "Daddy bangga sama kamu, kamu pria bertanggung jawab. Kamu anak baik, maaf jika selama ini Daddy membuat hidup kamu rumit. Daddy tidak marah, ini sudah takdir dari Nya. Daddy dan Mommy pun sudah ikhlas apapun yang akan terjadi pada Aara. Kami sayang dengan Aara dan kami tidak ingin Aara terus merasa kesakitan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk putri-putri Daddy."
Brian memeluk Daddy Raihan, lega hati Brian mendengar ucapan Daddy. Dia pun sama telah mengikhlaskan semuanya, hanya saja ragu akan Lily yang masih belum bisa menerima.
"Makasih sudah menjadi menantu Mommy, tapi Brian masih mau tidak menjadi menantu Mommy? Atau sudah kapok menjadi anak Mommy?" tanya Andini dengan wajah sendu. Dia sangat menyayangkan jika harus kehilangan menantu sebaik Brian. Meskipun dia sudah meminta Brian untuk menikahi Lily, tapi semua ia serahkan pada anak-anak dan tak ingin ikut campur lagi.
"Tentu Mom, Brian akan tetap menjadi menantu Mommy. Karena Brian cinta dengan Lily."
__ADS_1