
"Kak bisa menghadap sana dulu nggak Kak? Ini anaknya keburu nangis." Lily begitu ragu ingin menyusui buah hatinya saat Brian tak kunjung membalikkan tubuhnya. Malu bercampur kesal dirasakan oleh Lily saat ini. Brian begitu sengaja menatap bagian dadanya dengan senyum miring menggoda. Rasanya Lily ingin sekali memukul kepala pria itu dengan vas bunga. Mesumnya membuat Lily pusing kepala.
"Ini bukan hal yang pertama juga, bahkan sebelum mereka aku duluan yang sudah menyicipinya," ucap Brian dengan mata terus memandang sesuatu yang nampaknya banyak sekali perubahannya.
"Kak, please jangan membuat aku mengusirmu!" rengek Lily degan wajah yang sudah merona.
"Iya Sayang iya, nanti jika tidak bisa keluar bilang sama Kakak ya," pinta Brian kemudian dia melangkah menuju sofa dan duduk dengan memunggungi Lily.
Lily mengerutkan dahinya, dia bingung dengan ucapan Brian. "Kenapa harus bilang sama Kakak? Memang ada hubungannya gitu?"
Brian ingin kembali menoleh namun dengan cepat Lily melarangnya. "Stop Kak! Jika diteruskan bantal ini akan melayang." Lily merengut melihat tingkah Brian. Setelah kedua orang tuanya pamit untuk membeli makanan, Brian menjadi sangat meresahkan.
Pria itu tertawa kecil dengan menggelengkan kepala. Brian begitu gemas melihat Lily yang masih saja canggung padahal dua kali Brian mencobanya. "Pelitnya, apa kamu lupa jika sebelumnya begitu suka hingga tidak ta_auwh." Akhirnya bantal singgah di kepalanya begitu kencang, hingga dia meringis merasakan kepalanya yang sedikit keliyengan.
Lily kembali memfokuskan diri untuk menyusui bayi yang belum bernama ini karena, Brian masih enggan untuk menyampaikannya. Mungkin masih ingin di rahasiakan. Dia melirik Brian diam saja dengan bersandar sofa. Ada rasa kasihan namun kepalang malu akhirnya Lily pun enggan bicara.
"Tunggu Sayang, kenapa seperti tidak sabar begini? Ugh sakit sekali lagi," keluh Lily yang kerepotan karena bayinya begitu tidak sabar ingin meminum tetapi, ASI yang keluar masih nanggung. Lily yang baru bisa memiringkan tubuhnya merasa sangat tidak nyaman. Dia merasa perut dan pucuk miliknya begitu perih.
"Kenapa Sayang? Apa keluarnya belum lancar?" tanya Brian tanpa menoleh. Dia tidak lagi ingin terkena lemparan bantal yang begitu keras padahal ingin rasanya Brian mendekati Lily saat ini. Tidak tega juga mendengar keluhan dengan suara Lily yang mendesis kesakitan.
"Sakit sekali, lidahnya begitu kasar dan dia juga tidak sabar. Aku juga sulit gerak, duuuhh.... Mommy mana?Kenapa lama sekali sich?" Lily takut bayinya menangis karena tidak sabar dan merasa belum kenyang, terlebih hanya ada Brian di sana. Tidak mungkin dia meminta bantuan pria itu. Akan sangat senang sekali nanti jika melihat pemandangan yang sejak tadi menjadi pembahasan.
"Sepertinya memang perlu bantuanku Sayang. Lihat saja kamu begitu kesakitan karena putra kita tetapi, begitu kenikmatan saat Kakak berada di posisi yang sama!" saran Brian tanpa peduli Lily akan kembali marah.
__ADS_1
"Kakak!" sentak Lily.
Brian tiada henti membuat Lili kesal. Sepertinya memang pria itu sudah tidak sabaran. Melihat putranya yang kini tengah menyusu saja Brian begitu ingin merusuh. Hingga sejak tadi Lily di buat canggung dan sedikit gaduh karena, lagi-lagi Brian membuatnya harus menekan sabar.
"Apa Sayang?" jawab Brian santai. Pria itu benar-benar membuat gelisah. "Ini lah yang Kakak maksudkan tadi, jika masih sulit keluar biar Ayahnya dulu yang maju agar sumber makanan keluar dengan lancar dan kamu tidak terganggu," lanjut Brian.
Lily tidak lagi menggubris, dia terus berusaha tetapi di buat tambah kewalahan saat kedua putranya meminta ASI berbarengan.
"Duuhh... Gimana sich kok malah nangis dua-duanya begini," keluh Lily yang kini sudah begitu panik, bahkan Lily malah ikut menangis membuat Brian mau tidak mau beranjak dengan meraih bayi yang menangis di dalam boks.
"Hiks...Hiks... Gimana ini Kak, dua-duanya menangis, terus aku harus apa? Duduk aja masih sangat sakit, lalu caranya menyusui keduanya bagaimana?"
Lily mengeluh dengan melupakan bagian dada yang masih terbuka, hingga Brian yang sedang menimang putranya ,tanpa sengaja melihat sesuatu menyembul yang kini sedang di hisap putranya.
Akhirnya Lily pun mencoba lebih tenang. Dia pikir setelah melahirkan akan sangat happy dan bisa bermain dengan putranya tanpa kendala, tetapi ternyata tidak. Justru Lily malah tambah kerepotan, di tambah lagi dirinya yang belum sembuh benar.
Sedikit melupakan keributan yang tadi mereka perdebatan. Saling kerja sama dan membantu hingga kedua putranya tertidur.
Lily nampak tenang, akhirnya dia bisa beristirahat setelah ketegangan mengurus keduanya. Begitu pun dengan Brian yang bernafas lega melihat keadaan kembali aman. Namun, tidak dengan si Joni yang masih panggah tegang.
Membantu Lily menyusui dengan mengarahkan kedua putranya menemukan pucuk kecil serbaguna. Yang kelak tak hanya dia namun, kedua putranya akan ketagihan.
"Kakak kenapa?" tanya Lily dengan mengerutkan kening. Dia heran melihat Brian yang nampak gelisah. "Kak.."
__ADS_1
Brian menoleh dengan senyum kaku, dia segera duduk mendekati Lily yang terus memperhatikan. Rasanya Brian frustasi setelah tadi menantang sang kekasih sekarang malah kerepotan sendiri.
"Kakak kok diam saja? Anak-anak sudah tidur semua, kanapa Kakak masih terlihat tegang?" tanya Lily lagi, dia begitu penasaran. Takut-takut ada yang salah dan membuat sikap Brian berubah.
Brian menatap Lily dengan tatapan penuh tanda tanya, dia bingung dari mana Lily tau. "Tegang? Memangnya kelihatan ya kalo si Joni lagi tengang?" Pertanyaan yang membuat Lily tercengang dengan wajah berubah merona.
Lily tidak mengira sikap Brian berubah karena milik pria itu bereaksi. Dengan cepat Lily menutup rapat seragam pasiennya dengan kedua tangan. Lily teringat jika sejak tadi Brian melihat tanpa penghalang. Bahkan membantu putranya dengan tanpa sengaja menyentuh dadanya.
"Dasar mesum!" geram Lily dengan emosi yang bercampur malu.
"Nggak mesum Sayang, ini normal. Jika tidak begini kedua putra kita tidak akan lahir." Brian mendadak ngeyel. Dia membuat Lily pusing kepala dan memintanya untuk keluar dari ruangan.
"Lily capek, nggak mau bahas itu terus! Sekarang Kakak keluar!" tegas Lily.
"Mana bisa?" tanya Brian mengudang pertanyaan dari Lily.
"Apanya yang tidak bisa? Tinggal keluar apa susahnya Kak?" tanya Lily dengan gemas. Lily begitu lelah menghadapi Brian. Pria itu kembali menguji kesabarannya.
"Jika tidak di sentuh bagaimana bisa keluar Sayang? Kamu menyuruh aku berfantasi sendiri hingga dia keluar tanpa sentuhan? Atau menghabiskan sabun rumah sakit yang wanginya seperti antiseptik?"
Lily menganga di buatnya, dengan cepat Lily meraih buah yang ada di atas nakas tepat samping ranjangnya.
"Dasar otak mesum! Keluar atau jeruk ini melayang ke kepala Kakak!" sentak Lily dengan suara tertahan.
__ADS_1
Dengan cepat Brian keluar dari ruangan Lily dari pada kepalanya memar.