
Brian menghela nafas berat, dia segera menarik tangan Lily dengan lembut dan melangkah menuju ruang pemeriksaan kandungan. Keduanya meninggalkan Wahyu yang menatapnya dengan senyum samar. Wahyu pun tidak menyangka akan bertemu Lily di sini dan cukup terhibur dengan kekesalan yang Brian tunjukkan.
"Semoga loe selalu bahagia Ly!"
Brian tak banyak bicara namun tak ada niat melepaskan genggaman tangan Lily. Sampai di kursi tunggu, keduanya duduk dengan sama-sama diam.
Lily melirik ke arah pria yang berada di sampingnya, nampak jutek sekali dengan mulut rapat dan helaan kasar yang berulang kali terdengar. Bagi Lily sangatlah menyeramkan di saat Brian terlihat cemburu, ingin rasanya dia tertawa namun takut Brian semakin marah.
Lily pun memilih untuk diam sampai Brian menegurnya. Lily membiarkan Brian puas akan sikapnya, cinta memang terkadang membuat manusia tidak ada logika. Nampaknya memang Brian bucin akut dengan Lily.
"Ibu Lily Putri Baratajaya," seru petugas kesehatan yang memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan. Lily pun segera beranjak dari duduknya untuk melangkah masuk, namun dengan cepat Brian pun ikut beranjak dan meraih tangan Lily. Meski jutek tapi masih perhatian, Brian membukakan pintu dan membantu Lily untuk duduk. Semua Brian lakukan dengan rasa sayang walaupun masih enggan mengajak bicara.
"Selamat siang Bu Lily dan Bapak..."
"Selamat siang Dok," jawab Lily dan Brian berbarengan.
"Ada keluhan di kehamilan ke lima bulan ini Bu?" tanya Dokter seraya membaca buku kandungan yang berisi tentang data perkembangan kandungan Lily.
"Tidak ada Dok, mereka semakin pintar. Oh iya Dok, panggil Mbak aja." Lily begitu antusias menjawab, hari ini dia ingin melihat kedua anaknya memalui USG. Kabar jika anaknya kembar membuat Lily yang awalnya tidak ingin melihat dulu karena ingin menunggu sampai 7 bulan dan menghindari Brian kini menjadi berubah pikiran.
Terlebih hubungan keduanya sudah akur, membuat Lily tak lagi ada niat merahasiakan, toh Brian justru lebih dulu tahu setelah kejadian tempo lalu. Setelah menjelaskan jika tak ada keluhan sama sekali. Kini Lily berbaring di ranjang dengan di bantu oleh Brian.
Pria itu masih mendiami Lily, namun sikapnya yang terus memberi perhatian-perhatian kecil membuat hati Lily merasa tergelitik.
__ADS_1
Brian pun terus menggenggam tangan Lily saat layar USG mulai di nyalakan, kemudian Dokter mengarahkan alat USG ke perut Lily.
"Jangan lihatin perutnya Kak! Lihat layar monitornya saja!" celetuk Lily yang melirik Brian dengan mata memicing. Dasar pria, tidak boleh lihat bagian dalam yang terbuka. Meski bungkam tapi mata tidak bisa dikendalikan.
Brian pun nampak gelagapan dengan menggaruk tengkuknya. Berasa tertangkap basah membuatnya jadi malu. Dokterpun ikut tersenyum mendengar ocehan Lily.
"Nah ini dia jagoannya, ada dua ya... Alhamdulillah sehat ya Mbak Lily."
Lily dan Brian mengukir senyum melihat kedua bayi yang masih kecil dengan gerakan keduanya yang aktif. Brian dan Lily sama-sama meneteskan air mata. Haru dan bahagia menyelimuti Lily dan Brian, calon orang tua yang masih terhalang status. Masih ada ganjalan hati di diri masing-masing karena belum bisa bersatu di saat kandungan sudah semakin membesar.
"Alhamdulillah..." Hanya itu yang dapat Lily ucapkan karena memang dia sangat bersyukur. Sama halnya dengan Brian yang mengucap syukur di dalam hati dengan terus tersenyum fokus ke arah monitor.
"Wah.....Di kasih dua jagoan, semoga sehat terus sampai waktunya tiba mereka melihat dunia."
"Aamiin....." Brian dan Lily mengaminkan ucapan Dokter tersebut.
"Mau kemana kak?" tanya Lily saat mobil berbelok ke lain arah.
"Makan dulu!" jawab Brian singkat membuat Lily mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Brian.
"Masih marah?"
"Nggak!"
__ADS_1
"Oh, ya sudah turun di depan saja kalo gitu, Lily mau ke rumah Tiara nyusul Mommy. Sepertinya lebih nyaman dengan mereka, dari pada terus di diamkan seperti ini." Lama-lama Lily kesal juga dengan Brian yang sejak tadi hanya diam dan tidak mau mengajaknya bicara. Mungkin sama halnya dengan Brian yang masih memendam rasa cemburu.
Sampai Lily enggan bertanya kenapa tidak jadi menjenguk Kak Aara, karena Lily tau jika Brian sedang merajuk. Dan berusaha mengerti, tapi kok bukannya berhenti malah terus-terusan ngambek.
Lily tercengang saat mobil Brian benar-benar menepi, sontak Lily menoleh ke arah Brian yang diam dengan pandangan lurus ke depan. Pria itu tidak mematikan mobilnya, seperti akan pergi dengan secepatnya setelah dia keluar dari mobil itu.
"Keterlaluan, udah kayak ketauan main kuda-kudaan aja. Cuma ngobrol doank ngambeknya seharian. Apa kabar dengan dia yang sudah pastinya setiap hari mengobrol dengan beragam klien wanita."
Lily menelan salivanya saat kunci telah Brian buka, nampaknya pria itu ingin memulai peperangan dingin. Lily mulai berpikir, mungkin ini caranya mengusir secara halus. Tapi apa pria itu lupa dengan keadaannya yang sedang hamil anak dua. Sedangkan tadi dokter telah menyarankan kepadanya untuk banyak-banyak beristirahat. Lily menarik nafas banyak-banyak dan menghembuskan dengan perlahan, dia sedang di tuntut untuk sabar. Tapi rasanya meladeni kemarahan pria di sampingnya sangat diperlukan sekali, karena dalam masalah tadi dia tidak ada niat apapun untuk menggoda Wahyu. Dan sikap Brian membuatnya tidak tahan.
Tanpa mengeluarkan kata Lily pun segera meraih tas di sampingnya dan segera membuka pintu, namun dengan cepat pintu terkunci kembali hingga membuat Lily merasa sedang di permainkan.
"Siapa yang nyuruh keluar?" tanya Brian dengan sikap datar.
Lily tak menjawab, dia masih menunduk melihat ke arah handle pintu mobil dengan mengatur nafas agar bisa mengendalikan emosi.
"Aku hanya ingin beli minuman dingin karena, sejak tadi hati ku panas dan malas bicara. Tetap di mobil dan jangan keluar!" ucap Brian, kemudian dengan cepat pria itu keluar dari mobil.
Bruk
Suara pintu tertutup membuat Lily memejamkan mata dengan helaan nafas berat. Lily menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan memperhatikan Brian yang masuk ke dalam supermarket.
"Hhuuff... Rasanya ingin mencakar wajahnya dan menarik bibir Kak Brian agar tidak terus manyun." Bagi Lily lebih baik Brian marah-marah dari pada diam seribu bahasa. Bagus sich, Brian bisa meredam emosinya tanpa meluapkan dengan ucapan kasar dan tindakan yang akan membuat Lily memikir ulang untuk meneruskan hubungan dengan pria itu. Tapi lagi-lagi Lily tidak suka didiamkan saja seperti itu.
__ADS_1
"Minum!" Brian menyodorkan minuman dengan sari jeruk yang sangat menyegarkan. Lily dengan cepat mengambil dan meminumnya karena dia merasa haus sekali karena sejak tadi tidak berani meminta minum pada Brian yang sedang merajuk.
"Lain kali jangan seperti tadi, kamu milikku dan apapun yang ada di kamu hanya milikku!" tegas Brian yang kemudian menoleh ke arah Lily. "Termasuk senyuman kamu, jadi jangan menebar senyum pada pria lain lagi hingga membuat aku marah! Jika sampai itu terulang lagi, jangan salahkan aku jika aku memaksa menengok kembar saat itu juga!" Suaranya lirih namun bisa membuat Lily mendadak merinding mendengar serangkaian ancaman dari Brian.