
Lily membuka pintu kamar dengan perlahan. Dia melihat kedua putranya tertidur dengan nyenyak bersama mommy di ranjang. Mungkin beliau ketiduran karena lelah menjaga kedua cucunya. Lily meletakkan semua belanjaan dan bersih-bersih sebelum membangunkan mommy.
"Mom... Bangunlah! Daddy sudah menunggu di kamar." Lily membangunkan Mommy setelah tubuhnya sudah segar. Kini dia siap menyusui kedua putranya yang seharian ia tinggal shoping.
"Kamu sudah pulang... Mommy pindah ya," ucap Mommy kemudian beranjak dan melangkah keluar kamar.
"Makasih ya Mom..." Lily mengantarkan Mommynya sampai pintu kamar.
"Iya Sayang... Kamu cepat istirahat! Mereka sudah kenyang, mungkin tengah malam baru bangun minta ASI."
"Iya Mom." Lily menutup pintu kamar dan kembali mendekati tempat tidur. Dia memindahkan kedua putranya ke dalam boks mereka masing-masing agar mereka lebih nyaman. Setelah itu barulah Lily merebahkan tubuhnya di ranjang.
Lily lega akhirnya bisa merasakan tempat tidur setelah seharian berjalan di Mall hingga tak menunggu lama dia pun terlelap menjemput mimpi.
Pagi ini Lily sudah memboyong kedua anaknya ke teras rumah. Seperti biasa, dia menjemur kedua putranya agar keduanya sehat. Mulai hari ini Lily sudah ada jadwal perawatan tubuh, mungkin siang nanti ada petugas dari salon yang telah dipesan oleh Mommynya datang ker rumah. Persiapan pun harus benar-benar matang sebelum hari H.
Setelah menjemur, memandikan dan memberi ASI untuk keduanya, kini Lily sudah menduduki kursi meja makan bersama Daddy dan Mommy.
" Hari ini Mommy mau pergi megecek persiapan gedung yang akan di jadikan acara pernikahan kamu nanti. Hanya sebentar sebelum pihak salon datang Mommy sudah pulang."
" Jadi di hotel Weda?" tanya Daddy.
" Jadi donk Mas, di sana mewah. Pelayanan bagus dan makanannya pun katanya enak. Itu sich baru katanya, makanya Mommy mau tau pastinya. Mas mau ikut?"
"Hari ini ada meeteng penting Sayang, kamu sendiri saja tidak apa-apa ya? Oh iya kabari Aara juga, usahakan bisa pulang untuk menghadiri acara pernikahan adiknya."
"Nanti biar Lily telepon Kak Aara Dad," sahut Lily, sudah seminggu dia tidak bertukar kabar dengan Aara. Lily begitu merindukan Kakaknya dan berharap bisa pulang di hari pernikahannya nanti.
__ADS_1
Selesai sarapan mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Mommy berangkat bersama Daddy sedangkan Lily menjaga kedua buah hatinya. Lily meraih ponselnya saat terdengar notifikasi pesan masuk. Dia melihat siapa yang mengirim pesan tersebut.
..."Ly sorry ya gue ngak bisa pulang saat hari pernikahan Loe. Gue sibuk banget dan kuliah nggak bisa ditinggal karena baru banget daftar. Jangan ngambek! Semoga kalian langgeng terus dan berbahagia selamanya. Gue pulang setelah liburan kampus. Salam buat Mommy dan Daddy. Bye..."...
Dengan cepat Lily berusaha menghubungi Aara namun tidak diangkat padahal masih online.
"Ikh nyebelin banget sich kenapa nggak di angkat. Sengaja banget dech," ucap Lily kesal.
Tidak lama ponselnya berdering, Lily pikir itu Aara tetapi ternyata calon suami yang mengubungi.
"Halo Kak."
"Eh kok suaranya lemes gitu, belum juga di apa-apain. Kenapa Sayang?"
"Lagi kesel."
"Kak Aara, dia bilang nggak bisa pulang menghadiri pernikahan kita. Sok sibuk sekali, Lily kesal jadinya."
"Calon pengantin nggak boleh kesel-kesel begitu, mungkin memang Aara benar-benar sibuk. Coba nanti Kakak tanya sama Rafkha. Sudah ya jangan ngambek lagi!"
"Hmm..."
"Kakak kangen kamu dan anak-anak, kirimin foto kalian ya. Ya sudah Kakak mau mulai meeting dulu. Jangan lupa fotonya! Dach Sayang..."
"Dach..."
Lily menghembuskan nafas panjang, dia berusaha mengerti jika memang Aara sedang sibuk di sana. Lily pun berdoa semoga Aara selalu sehat dan bisa segera pulang lagi ke Indonesia.
__ADS_1
Setelah mengirimkan foto-foto pelipur rindu, siang ini Lily mulai perawatan untuk beberapa hari ke depan. Dia pun mulai disibukkan dengan berbagai acara siraman dan pengajian. Rumah mulai dipenuhi dengan saudara, kerabat dan para tamu undangan untuk mendoakan lancarnya acara dan mendoakan calon pengantin agar pernikahan yang di gelar lusa di beri keberkahan.
Sudah beberapa hari ini ponsel Lily pun disita oleh Mommy agar tidak bisa menghubungi Brian. Kata Mommy biar ada geregetnya nanti saat keduanya bertemu, kangennya biar lebih dapet. Mau tidak mau kedua calon pengantin menahan rindu yang menggunung. Padahal lusa keduanya sudah akan disatukan di pelaminan namun begitu terasa lama sekali, terlebih Brian yang sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluk Lily.
Brian pun sudah mulai mengambil cuti, untuk pernikahnnya kali ini dia benar-benar mempersiapkan kesiapan dirinya dengan baik. Bahkan Brian pun melakukan serangkaian perawatan sama halnya dengan Lily. Dia tidak ingin mengecewakan Lily, terlebih urusan ranjang. Mungkin sebelumnya memang mereka sudah pernah melakukan itu, tetapi kali ini momentnya berbeda.
"Apa perlu Papah belikan obat kuat Brian?" ledek Bayu saat melihat anaknya meminum telur setengah matang buatan istrinya.
"Ck, aku nggak selemah itu Pah. Buktinya sudah ada dua jagoanku saat ini."
"Bedalah, kalo asal buang benih mah gampang. Ini kan urusan ranjang dan memuaskan, yakin Lily sudah puas?" Bayu benar-benar membuat putranya berpikir keras. Rasanya dia ingin tertawa melihat wajah bingung Brian. "Mau test drive dulu sebelum main di sirkuit aslinya?"
Brian menoleh ke arah sang Papah, dia menatap jengah wajah Papahnya yang sengaja menggoda iman. Tidak mungkin dia melakukan test drive dengan wanita lain. Jika sampai Daddy tau, bisa dibatalkan acara pernikahannya yang tinggal menghitung jam.
"Jangan menjadi setan yang mengoda imanku Pah, aku bukan Papah yang bisa asal masuk sarang buaya."
"Yee... Itukan dulu, Papah kan hanya meyarankan saja," jawab Bayu asal. Mentalnya anjlok jika masa lalu menjadi buaya kembali diungkit. "Auwh...." Bayu meringis merasakan sakit di telinganya.
"Ngajarin apa sama anaknya?" Cika menjewer telinga Bayu dengan gemas. Sejak tadi diam-diam dia mendengarkan obrolan suami dan putranya. Dia tidak menyangka jika suaminya memberi ide gila yang membuat Cika naik darah.
"Cuma bercanda Sayang," ucap Bayu beralasan.
"Bohong Mah, tadi Papah tuh serius bicaranya. Mamah mendengarnya sendiri kan Mah? Kelakuan Papah tuh Mah..." Ucapan Brian membuat Bayu geram karena jeweran sang istri menjadi tambah kencang sedangkan Brian menahan tawa dan beranjak dari duduknya menuju kamar.
"Awas kamu ya, durhaka sama Pa_ Auwh sakit Mah, stop! Ampun!" keluh Bayu dengan menahan panas di telinganya.
"Rasakan! Yang ada tuh kamu yang durhaka sama anak karena ngajarin nggak benar! Jangan sampai Brian dipecat dari daftar menantu di keluarga Barataya! Kalau sampai itu terjadi. Bisa bunuh diri anak kamu Mas."
__ADS_1