LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 44


__ADS_3

Pukulan demi pukulan Raihan berikan, sebagai ayah tentunya Raihan tidak terima. Bahkan dia sangatlah marah dengan apa yang Brian perbuat pada Lily. Meskipun dari cerita Lily, Brian telah menolong nya keluar dari jerat obat luknut. Tapi tetap saja, diam nya Brian membuat Raihan kecewa. Hingga putrinya kini harus menderita sendiri. Bukan cuma Lily, tapi Aara pun juga sakit hati.


Brian masih berusaha berdiri meski pukulan di perutnya bertubi-tubi ia rasakan hingga membuat kesadarannya mulai berkurang. Brian berusaha kuat menerima konsekuensi dan apa yang harusnya sejak awal ia terima. Bahkan Andika dan Gibran kesulitan menghentikan aksi Raihan hingga Andika pun hampir saja terkena pukulan jika Gibran tidak menarik baju Papahnya.


Sedangkan Bayu yang tidak tega pada Brian dan ingin menolong putranya dari amukan Raihan, mengurungkan niatnya saat melihat Brian mengangkat tangan. Brian menolak untuk di tolong. Dia tidak mau siapapun menolongnya dan membiarkan mertuanya melampiaskan semua kekesalan dan kekecewaan. Alhasil Bayu hanya bisa terduduk lemas di lantai dengan menyaksikan anaknya yang kini babak belur dipukuli oleh sahabatnya sendiri.


"Hentikan Daddy!" lirih Aara yang masih bisa di dengar oleh Daddy nya.


Melihat Raihan menghentikan pukulan dan mengarahkan pandangannya pada seseorang yang keluar dari kamar rawat dengan berpakaian seragam pasien membuat yang lainnya pun mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.


"Aara...." Lirih Raihan dengan air mata yang sudah menggenang. Raihan begitu terkejut melihat kondisi Aara saat ini. Terlebih melihat rambut Aara yang hampir habis dan wajahnya yang sangat pucat. Senyum Aara pun begitu memilukan, jauh dari Aara yang kemarin dia lihat.


Andini tak dapat mengucapkan apapun, melihat kondisi Aara membuatnya merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia sebagai ibu tidak tau keadaan Aara yang sebenarnya. Sungguh Andini merasa gagal menjadi Ibu.

__ADS_1


"Hentikan pukulan Daddy, bukan Brian yang salah. Tapi Aara....Aara yang memaksakan diri untuk tetap menikah dengan Brian. Dan Aara yang membuat Lily seperti saat ini. Aara yang salah Mom....Dad....Mereka hanya korban dari keegoisan Aara. Karena Aara juga ingin bahagia, merasakan menikah dan menjadi Ibu..."


"Aara!"


"Aara!"


Setelah berusaha menjelaskan dengan susah payah, Aara yang kondisinya sudah sangat lemah. Bahkan ia berusaha keras untuk bisa berjalan menghentikan pukulan Daddy Nya kini tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Sebuah uluran tangan tepat di depan wajahnya, Brian mendongakkan kepala dan melihat Gibran lah yang sedang berdiri untuk membantu. Brian pun menerima uluran tangan tersebut, dengan susah payah ia berjalan dengan di bantu Gibran pergi keruang pemeriksaan agar lukanya bisa segera mendapatkan pengobatan.


Dokter tampak sibuk memeriksa kondisi Aara, Bayu sendiri sudah menetes kan air mata karena merasa bersalah dan tak berguna. Kondisi Aara sangat lemah dan pihak dokter seperti sudah angkat tangan. Karena setelah di cek lagi, ternyata penyakit Aara dengan cepat menyebar hingga ke paru dan jantungnya. Kemungkinan sembuh pun sangat kecil.


"Aara sakit apa?" desak Raihan yang melihat Bayu dan beberapa dokter keluar dari ruangan setelah tadi sempat menunggu di luar karena Bayu dan beberapa dokter yang lain ingin fokus memeriksa.

__ADS_1


Andini kini hanya bisa menangis di pelukan sang Kakak karena Raihan yang sejak tadi hanya diam di depan pintu dengan mengeratkan rahang dan kedua tangannya. Sedangkan Erna hanya bisa terduduk lemas, menangis terisak membayangkan nasib kedua ponakannya yang sangat menyedihkan.


"Aara sakit kanker, awalnya kanker rahim tapi dia terlambat menyadari hingga penyakit itu sudah menjalar sampai ke organ penting lainnya. Dan semua rumah sakit sudah angkat tangan, hanya disini yang masih mampu melakukan kemo untuk mematikan sel kanker tersebut namun dengan harapan yang tak banyak. Apa lagi kini kondisi Aara sudah sangat lemah, di kemoterapi yang terakhir kondisi Aara mengalami banyak penurunan. Sampai ia tidak kuat menahan efeknya."


Raihan tak sanggup mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. Langkah nya mundur perlahan dan hampir ambruk ke lantai jika tidak dengan cepat Bayu meraih tubuh Raihan. Kini Raihan paham apa yang terjadi, apa yang membuat Aara melakukan itu semua. Dan maksud dari penjelasan Aara. Sedangkan Andika dan Erna kini tengah membawa Andini ke kamar rawat karena tak sadarkan diri. Setelah mendengar penjelasan dari Bayu.


"Loe harus kuat! Gue mewakili Brian minta maaf sebesar-besarnya sama loe dan juga keluarga. Maaf....Dan semampu gue akan mengusahakan yang terbaik untuk Aara." Bayu berusaha menguatkan Raihan.


"Gue tau waktunya nggak lama lagi kan?" lirih Raihan.


"Kita nggak boleh mendahului kehendak Allah, kita usaha lagi. Jika perlu kita bawa Aara keluar negeri untuk menjalani pengobatan di sana."


Raihan menoleh menatap Bayu, sebelum nya Raihan masih bersikap datar namun dengan cepat Raihan memeluk Bayu dan menangis karena sudah tak bisa lagi menahan sesak di dada. Dua putrinya mengalami nasib yang sangat menyedihkan. Dan sebagai orang tua hati Raihan sangatkah hancur.

__ADS_1


__ADS_2