LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 121


__ADS_3

"Sudah siap semua Sayang?" tanya Brian yang kini tengah menggeret dua koper besar yang berisi oleh-oleh.


"Sudah Mas, ayo!"


"Banyak sekali bawaannya Sayang, berangkat hanya satu koper kok pulang bisa beranak jadi empat koper begini," keluh Brian. Dia tidak habis pikir dengan sang istri yang sekalinya belanja, begitu banyak sampai memikirkan semua orang. Bibi dan Mamang tukang kebun pun ikut kebagian oleh-oleh darinya.


"Nggak apa-apa Mas, biar ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan saat ini."


Brian menganggukkan kepala dan melangkah menuju lift untuk segera ke bandara. Dia menoleh ke arah sang istri yang kini menatap dengan mata berbinar.


"Kamu bahagia?


"Sangat, campur kenyang karena setiap pagi, siang, malam aku dipompa. Lihat badanku! Makin gemoy kan?" oceh Lily. Padahal dia sedikit kesal karena Brian lebih banyak mengurungnya di kamar dari pada keluar jalan-jalan. Alhasil sekalinya keluar belanja Lily seperti khilaf karena mumpung dia di beri kebebasan.


"Kamu pun suka dan momen ini tidak boleh dilalui begitu saja karena akan jarang terjadi. Kapan-kapan kita kesini lagi dengan anak-anak. Tunggu mereka mampu berjalan jadi bisa di ajak main pasir pantai."


"Sungguh?" tanya Lily dengan aura kebahagiaan.


"Hhmm..." Brian pun tidak bisa menahan senyum menatap wajah sang istri yang begitu berseri. Sepasang pengantin baru ini memang sangat berbahagia. Mereka melalui honeymoon yang menurut Brian tidak sia-sia. Bahkan rasanya malas untuk pulang, jika tidak teringat dengan kedua anak kembar dan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Terlebih asistennya sudah mulai menghubungi terus karena banyak klien yang mulai mengajak kerjasama.


Berkah berumah tangga Brian rasakan, terlebih bisa melihat sang istri bahagia. Suatu kesenangan tersendiri dalam hidupnya yang ia harap akan selamanya.


Kini keduanya sudah berada di dalam pesawat. Lily begitu lelap karena semalam wanita itu baru bisa tidur jam tiga. Apa lagi jika bukan karena sang suami yang terus merusuh membuatnya tak bisa tidur dan harus menuruti terlebih dahulu.


"Sudah sampai Sayang, ayo bangun!" Brian mengecup pipi Lily hingga wanita itu terbangun.

__ADS_1


"Hhmm, ayo Mas! Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kembar."


Keduanya sampai di ibukota tepat pukul 11 siang, mereka menyempatkan makan terlebih dahulu baru melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua orangtuanya untuk menjemput buah hati.


"Rindunya Mas dengan mereka, kira-kira masih ingat aku nggak ya Mas?"


"Pasti donk Sayang, kan kamu Ibunya."


"Iya, mereka pun pasti rindu menyusu dengan Bundanya ya Mas," sahut Lily. "Oh iya Mas, tempat ASI mereka nggak ketinggalan kan?"


"Nggak Sayang, tenang saja! Ada di belakang," jawab Brian, pria itu mengacak gemas rambut sang istri.


Meski seminggu tidak menyusui, Lily tetap memompa ASI nya dan menyetok hingga terkumpul hampir satu tas besar tempat khusus ASI yang sengaja ia bawa dari rumah. Lily memang niat sekali, karena tidak ingin kedua anaknya terputus meminum ASI sebelum waktunya.


Sampai di halaman rumah, Lily segera berlari masuk tanpa menunggu suaminya membukakan pintu. Wanita itu begitu sangat merindukan kedua putranya hingga tak sabar ingin segera memeluk mereka.


Langkah Lily terhenti saat ia membuka pintu kamar Aara. Pemandangan di depan mata begitu mengharukan. Aara dan Wahyu tertidur di ranjang yang sama dengan kedua putranya terlelap di antara mereka.


"Kenapa Sayang?" tanya Brian heran karena sang istri tak kunjung masuk ke dalam.


"Sst... Mereka sedang tidur Mas," lirih Lily tak ingin mengganggu sepasang kekasih dan kedua anaknya. Lily terus menatap wajah mereka, posisi yang sangat diidamkan. Namun, Lily tau itu akan sulit untuk sang kakak.


"Kasihan Kak Aara, Mas. Aku tidak tega membayangkannya andai Wahyu harus memiliki anak dari rahim wanita lain. Akan seperti apa hati Kak Aara nanti? Melihat mereka berempat itu sangat menyesakkan dada, Mas. Andai Kak Aara sadar, jika posisi mereka saat ini adalah posisi idaman. Posisi yang sangat Kak Aara impikan. Keluarga yang utuh, bersama anak dan suami tercinta."


Lily menyurut air mata kemudian memilih untuk mundur dan menunggu mereka terbangun di kamarnya. Brian pun hanya bisa menghela nafas berat melihat Aara dan Wahyu. Dia berharap apapun cobaan rumah tangga mereka kelak, keduanya bisa saling mendukung satu sama lain.

__ADS_1


"Istirahat dulu Sayang!" ucap Brian saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Iya Kak, maaf ya aku jadi mellow begini melihat mereka tadi." Lily masuk ke dalam pelukan Brian dan bersandar di dada suaminya.


"Tidak apa-apa Sayang, aku tau sebagai adik pasti kamu sangat sedih melihat nasib mereka. Kita hanya bisa berdoa semoga mereka kuat menghadapi apapun cobaan yang Tuhan berikan." Brian mengusap lembut kepala Lily dan mengecup kening sang istri.


Sore harinya, Aara terbangun lebih dulu saat mendengar rengekan dari Brilly. Wanita itu mengulas senyum dan segera meraih tubuh Brilly untuk dia timang.


"Kenapa Sayang? Mau minum susu ya?" Sebentar ya Tante panaskan dulu." Aara segera turun ke bawah, tetapi sampai di ujung tangga dahinya mengernyit heran melihat ada empat koper di sana. Aara pun segera menghampiri dan menelisik satu persatu koper tersebut.


"Koper siapa? Apa iya Lily sudah pulang, tapi kok nggak bangunin gue," gumam Aara heran. Dia segera ke dapur menyiapkan ASI untuk kembar.


"Eh, kok jadi ada banyak. Fiks ini si Lily udah pulang." Aara kembali ke kamarnya dan membangunkan Wahyu untuk membantu memberikan susu pada Brilly.


"Sayang, bangun dulu!"


"Oh iya Sayang, udah sore ya?" tanya Wahyu dengan mata menyipit menatap Aara yang mengulurkan botol susu padanya.


"Iya, dan sepertinya Lily dan Brian sudah pulang. Setelah ini aku akan memastikannya ke kamar mereka."


Setelah keduanya kenyang, Aara segera memandikan mereka dibantu oleh Wahyu kemudian, kedua bayi gembul itu dibawa olehnya dan Wahyu menuju kamar Lily untuk membangunkan adiknya dan Adik ipar.


"Bunda... Ayah..." Aara memanggil Lily dan Brian dengan suara khas anak kecil. Aara dan Wahyu erebahkan kedua bayi itu di antara Lily dan Brian agar mereka terjaga.


"Eh anak Bunda sudah bangun ya, ugh Bunda rindu kalian." Lily segera bangun setelah merasakan ada pergerakan di kasurnya dan setelah sadar akan keberadaan kedua putranya, dia segera memeluk keduanya satu persatu begitu juga dengan Brian.

__ADS_1


"Kalian sampai rumah nggak bilang-bilang, tau-tau sudah tidur saja," sindir Aara.


"Bagaimana mau bilang kalau kalian saja pules," celetuk Lily membuat Aara menghela nafas kasar lalu menoleh ke arah Wahyu yang meringis membenarkan.


__ADS_2