LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 108


__ADS_3

Setelah memakai pakaiannya, Brian segera melangkah menuju pintu kamar. Sepertinya orang di luar sudah sangat tidak sabar karena sudah hampir 15 menit berdiri dengan terus mengetuk namun, tidak kunjung ada yang membuka pintu. Nampaknya penghuni kamar tersebut sedang sibuk atau memang belum bangun karena kelelahan.


"Mom..." Brian menggaruk tengkuknya merasa tidak enak dengan sang mertua. Terlebih wajah sang Mommy sudah terlihat begitu bete.


"Haish... Kalian ini, nanggung banget apa sampaj Mommy harus menunggu lama?" tanya Mommy kemudian menggelengkan kepala. "Apa kalian lupa dengan kedua putra kalian? Stok ASI habis dan mereka mulai rewel. Lily kemana?" Mommy melirik ke dalam kamar, tidak beliau temukan putrinya tetapi dapat beliau lihat kamar pengantin itu begitu berantakan. Bantal turun ke lantai dan sprei acak-acakan. Belum lagi Bungan mawar berhamburan tak beraturan. Mommy pun melihat wajah Brian begitu berseri. Sudah dapat dipastikan keduanya lembur sampai pagi dan Lily disedot habis.


"Lily sedang mandi Mom, maaf membuat Mommy menunggu lama. Biar nanti Brian dan Lily yang mengurus mereka. Lily juga pasti merindukan kedua putranya." Brian mengambil alih stroller yang di pegang oleh Mommy. Benar kata Mommy, dia hampir lupa jika Brilly dan Lian pun membutuhkan Lily.


"Rindu pasti tetapi, untuk saat ini Lily sedang sibuk dengan mainan barunya. Bukan begitu Brian?" tanya Mommy dengan mengulum senyum. Brian pun dibuat mati gaya, beruntung tak lama Lily mendekati mereka. Wanita itu dengan cepat mandi karena begitu penasaran dengan siapa yang sejak tadi mengetuk pintu kamar. Masih dengan penampilan seperti semalam, hanya berbalut bathrobe saja. Tanpa sadar penampilan Lily membuat gagal fokus. Mommy hampir menganga dibuatnya tetapi dengan cepat Brian segera menarik tubuh Lily agar bersembunyi di balik badan pria itu.


"Kenapa Kak?" Lily bingung mengapa Brian menjauhkan dia dengan anak dan Mommynya. Brian menyembunyikannya seperti tidak boleh mendekati dia orang penting selain sang suami.


"Apa kamu tidak sadar dengan penampilanmu Sayang?" lirih Brian dengan menatap keluar kamar dan juga Mommy. Begitu banyak tanda merah di tubuh Lily. Belum lagi penampilannya yang begitu sexy. Rasanya Brian tak ikhlas jika ada yang yang melintas dan melihat sang istri yang sangat menggoda.


Spontan Lily menelisik penampilannya, matanya membola saat sadar dirinya begitu mengerikan. Brian tak hanya meninggalkan jejak di lehernya saja tetapi di paha sampai lutut pun banyak tercetak bercak merah kepemilikan pria itu.


"Kakak..." geram Lily dengan mengepalkan tangan. Mandi yang terburu-buru membuat Lily tidak sadar jika tubuhnya seperti macan tutul.


"CK...CK... Kalian ini..." Andini menggelengkan kepala dan segera berlalu kembali ke kamar. Kelakuan pengantin baru itu membuat beliau pusing.


Melihat Mommy yang sudah melangkah menjauh, dengan terburu-buru Brian segera memasukkan kedua putranya dan menutup kembali pintu kamar.


Brian menoleh ke arah Lily yang kini memasang wajah masam dengan mencebikkan bibirnya. Tatapan mata berubah tajam dengan mendengus kesal. Lily seakan tengah protes dengan apa yang dilakukan oleh Brian.

__ADS_1


"Jangan marah Sayang! Bukannya semalam kamu begitu menikmati? Jadi tidak perlu disesali. Nanti kita buat lagi," ucap Brian asal dengan menyematkan senyuman kemudian melangkah menuju ranjang. Dia merebahkan kedua putranya di ranjang yang masih berantakan.


"Maafkan Ayah ya Nak, semoga kalian tetap nyaman meskipun kasurnya berantakan. Maklum semalam habis ada perang." Brian mengusap lembut pipi kedua putranya kemudian mempersilahkan sang istri untuk menyusui.


"Ayo sini Yank! Kasihan mereka juga butuh ASI. Masih ada stok kan buat mereka? Setelah ini aku akan memesan makanan, kamu pasti lapar kan?" tanya Brian dengan penuh perhatian tetapi tak lepas dari sikapnya yang terkadang membuat Lily geregetan.


Tak ada jawaban dari wanita itu, tampaknya ia mendadak bad mood dan ingin segera menyusui sebelum kedua putranya mengamuk seperti Ayahnya semalam.


.


.


.


"Mereka tidak ikut makan siang lagi? Padahal kita harus pamit pulang, tetapi pengantin baru itu begitu betah di kamar," ucap Andika. Kini para keluarga sudah berkumpul di meja makan, begitu pun dengan Wahyu yang semalam ternyata ikut memesan kamar di sebelah kamar Aara. Sudah terbiasa bersama membuat Wahyu tidak ingin meninggalkan Aara begitu saja. Padahal Aara kini telah bersama keluarganya.


"Loe nggak tau aja, sama Erna tuh setiap hari berasa jadi pengantin." Andika menoleh ke arah istrinya kemudian menaik turunkan alisnya. Namun, sang istri hanya menggelengkan kepala menatapnya dengan jengah.


"Eh gue hampir lupa, Gibran kemana Kak? Kok nggak datang?" tanya Andini yang baru sadar jika dari seluruh keluarga hanya Gibran yang tidak ada. Keponakannya satu ini sekarang jarang sekali berkumpul dengan keluarga. Ntah sibuk atau apa tetapi Andini salut dengan pencapaian Gibran.


"Lagi ada tugas keluar kota, katanya nanti aja nemuin Lily kalo sudah pulang. Besok mungkin dia sudah pulang," sahut Erna. Putranya memang akhir-akhir ini menjadi sok sibuk. Jarang pulang ke rumah dan lebih sering tidur di apartemen.


Mereka melanjutkan makan dengan khusyuk, sedangkan Wahyu mulai iseng dengan menyenggol kaki Aara membuat wanita itu terkejut.

__ADS_1


"Pulang sama aku," bisik Wahyu.


"Aku belum bicara sama Mommy, nggak enak sama keluarga yang lain. Kamu pulang sendiri saja ya," jawab Aara.


Wahyu menghela nafas kasar, dia seakan tidak ingin berpisah dengan Aara. Jika perlu dia ingin membawa pulang wanita itu.


Melihat perubahan di wajah Wahyu, Aara menjadi tidak nyaman. Ingin ijin tetapi ragu jika nanti banyak pertanyaan. Terlebih mereka sedang kumpul keluarga.


"Wahyu, terimakasih sudah menjaga anak Om," ucap Raihan, membuat Aara menoleh ke arah sang Daddy. Pria itu seakan tau kegelisahan putrinya.


"Iya Om sama-sama, saya senang dan mungkin akan terus menjaga Aara meskipun sudah menetap kembali di Indonesia," jawab Wahyu sopan.


Raihan menoleh ke arah putrinya, wajah Aara tiba-tiba merona dengan menundukkan kepala. Raihan kembali menoleh ke arah Wahyu, beliau memicingkan mata sedikit curiga dengan gerak gerik serta jawaban Wahyu yang terkesan ada hubungan lebih yang terjadi antara keduanya.


"Sudah sampai mana?" tanya Daddy Raihan lagi. Dengan cepat Aara mengangkat kepalanya menoleh ke arah Daddy dan Wahyu bergantian. Keluarga yang lain pun menyimak dengan seksama. Mereka menoleh ke arah Aara dan Wahyu yang berbeda ekspresi menanggapi pertanyaan dari Raihan.


"Belum lama tetapi saya serius Om," jawab Wahyu dengan lantang. Dia paham apa yang dimaksud dengan Raihan.


Rafkha menyimak dengan bersidekap dada melihat sikap dan keseriusan Wahyu. Banyak penilaian dari Rafkha untuk mempertimbangkan Wahyu. Kegagalan sebelumnya membuat dia begitu selektif menerima orang yang akan menjadi pendamping adiknya.


"Buktikan keseriusan kamu!" ucap Raihan datar.


Wahyu menghela nafas berat, dia pikir akan mudah menghadapi orang tua Aara. Ternyata tidak, Daddy pun dengan tegas meminta bukti. Sepertinya memang luka lama membuat Rafkha dan Raihan tak ingin mengulang kesalahan dan kelalaian hingga menimbulkan luka yang sama.

__ADS_1


"Baik Om," jawab Wahyu dengan tegas. Dia menoleh ke arah Aara dan tersenyum melihat wajah Aara yang mendadak panik.


"Jangan khawatir! Aku serius, doakan saja aku berhasil meyakinkan semua keluargamu dan keluargaku!" lirih Wahyu tak menyurutkan senyum. Dia tidak ingin Aara banyak pikiran, Wahyu hanya ingin Aara mendoakan bukan justru mengkhawatirkan. Pria itu yakin sesulit apapun jalannya, dia pasti bisa melewati dengan baik.


__ADS_2