
Lily tertegun saat melihat Aara tertawa dengan lepas. Semenjak hubungan mereka renggang, keduanya tidak pernah lagi terlibat dalam satu tawa tetapi, hari ini kali pertama dia melihat wajah sang kakak begitu bahagia. Perlahan Lily mengukir senyum, hatinya menghangat melihat pemandangan yang sangat menyentuh kalbu. Tanpa terasa air matanya menetes seiring dengan langkah Lily yang mendekati.
Tawa Aara memudar berganti dengan senyum yang mengembang. Dia menyambut langkah Lily dengan merentangkan kedua tangannya. Penyesalan dan kerinduan menjadi satu kesatuan, dan kini Aara ingin kembali bisa memeluk Lily tanpa ada ganjalan hati.
"Kak Aara..."Lily memeluk tubuh Aara dengan lembut, rasanya sudah banyak hari yang mereka lewati sia-sia. Hanya karena masalah cinta dan keegoisan hubungan keduanya merenggang. Namun, setelah penyesalan dari Aara dan dia memilih berdamai dengan keadaan. Lily bisa kembali merasakan pelukan yang telah lama hilang.
Suasana di kamar itu mendadak sendu, kedua orang tua mereka ikut hanyut dalam haru. Mommy dan Daddy pun saling berpelukan melihat kedua putrinya melepas rindu, dan saling berbisik mengucapkan kata maaf.
Brian tersenyum melihat Lily dan Aara kembali berangkulan. Rasa syukur tiada tara, ingin ikut memeluk keduanya namun, takut kena pasal. Alhasil Brian hanya bisa melihat tanpa mendekat.
"Maafin gue ya Ly," lirih Aara kemudian mendapat anggukan kepala dari Lily. Sebenarnya dengan Aara yang kembali mengingatnya dan kembali bersikap baik seperti dulu lagi, itu sudah sangat melegakan bagi Lily. Meskipun dia harus lebih bersabar dengan hubungannya dengan Brian.
"Gue tau, kemarin malam loe pasti nggak bisa tidur kan gara-gara gue? Karena gue lupa kalo Brian sudah menjatuhkan talak. Maaf ya Ly..." Aara benar-benar tidak enak hati pada Lily, harusnya dia tidak bersikap demikian dan kembali membuat lily kepikiran. Terlebih setelah dia baru menyadari akan perut Lily yang sudah sangat besar. Betapa kasihan adiknya masih harus menanggung banyak beban.
Lily tertegun mendengar ucapan Aara, dia menoleh ke arah Brian yang tersenyum melihatnya lalu kembali menatap wajah sang Kakak. Lily menarik kursi yang berada di samping Aara dan perlahan duduk di sana tanpa memutus pandangan.
"Kakak sudah mengingat semuanya?" tanya Lily memastikan.
"Sudah, sebentar lagi juga keputusan sidang akan keluar karena, tadi pagi Brian sudah menandatangani surat gugatan cerai itu," ucap Aara menjelaskan dan itu membuat Lily terperangah. Lily menoleh ke arah Brian yang meringis dengan menggaruk tengkuknya.
Brian berencana akan memberi kejutan pada Lily setelah surat berada di tangan tetapi, ternyata harus gagal karena Aara yang sudah memberitahukannya lebih dulu. Sekarang pasti Lily salah paham dan mengira dirinya menutupi apa yang terjadi.
"Maaf Sayang, lupa," ucap Brian beralasan agar Lily tidak marah.
__ADS_1
Lily menatap sengit pria yang kini mendekat dan memasang wajah memelas. Sebenarnya tidak ingin marah juga dengan pria itu tetapi, Lily begitu gemas karena Brian tidak cepat memberitahunya.
"Gue harap kalian cepat menikah, agar rasa bersalah gue mengikis dan bisa tenang meninggalkan negeri ini."
Lily terhenyak, dia tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Aara. Tangannya meraih tangan Aara lalu menggenggamnya dengan erat. Lily butuh penjelasan, belum ada hitungan jam dia mulai merajut bahagia tetapi, kata-kata Aara kembali membuat hatinya tak karuan.
"Jangan sedih, cukup doakan yang terbaik untuk semuanya! Gue mau pergi ke luar negeri untuk memulai hidup baru, berobat dan jika memungkinkan akan melanjutkan sekolah. Meskipun dokter menyatakan jika penyakit ini sudah hilang tetapi, gue mau benar-benar memastikannya. Mungkin penanganan di luar akan lebih canggih." Aara tersenyum membalas genggaman tangan Lily.
"Kapan?" tanya Lily dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Lusa, Daddy sedang mengurus surat dan beberapa berkas yang akan di bawa."
"Secepat itu? Tidak kah Kakak mau menunggu anak-anak ini lahir dulu?" tanya Lily lagi yang sudah tidak bisa membendung air matanya. Sesak sekali dada Lily saat ini. Yang dia tau Aara sangat ingin menimang anaknya tetapi, justru memilih pergi jauh yang tidak memungkinkan untuk sepekan sekali pulang.
Aara tersenyum, perlahan tangannya terulur untuk mengusap perut Lily. "Kata Mommy kembar ya?" lirih Aara menahan tangisnya, dia tertawa kecil melihat Lily menganggukkan kepala dengan air mata dan tawa.
"Mau jadi Ibu jangan cengeng! Doakan gue sehat dan bisa pulang menjenguk kalian setelah baby twins ini lahir."
Keputusan sudah di ambil oleh Aara, semua harus menghargai dan menerima dengan lapang dada. Bukan hanya Lily tetapi, Mommy dan Daddy pun begitu berat hati. Namun, jika memang ini semua demi kebaikan Aara maka mereka harus memberi dukungan dan doa agar anak-anaknya bisa hidup bahagia.
"Kakak serius? Janji sama Lily!" Lily memberikan jemari kelingkingnya dan perlahan Aara meraihnya dengan jemari yang sama dan di lanjut saling memeluk.
Mendengar kabar Aara yang telah menggugat cerai Brian dan rencana akan kepergiannya ke luar negeri membuat Rafkha yang siang ini begitu sibuk, akhirnya menyempatkan diri untuk menjenguk. Dia pun mengajak serta Wahyu dan merundingkan semuanya dengan pria itu.
__ADS_1
"Apakah keputusan loe sudah bulat? Tidak ingin tetap di sini?" tabya Rafkha yang kini sudah duduk di samping Aara.
"Sudah," jawab Aara singkat dan mantap.
Rafkha menghela nafas berat, sama halnya dengan keluarga yang lain, Rafkha pun dengan berat hati menyetujui. Rafkha menoleh ke arah Mommy dan Daddynya yang kemudian menganggukkan kepala.
"Ada syaratnya!"
Aara mengerutkan dahinya saat mendengar Rafkha mengajukan persyaratan sedangkan kedua orang tuanya saja mengijinkan dengan cuma-cuma.
Mommy dan Daddy pun nampak terkejut dengan ucapan Rafkha. Keduanya saling memandang dengan pertanyaan yang sama.
"Syarat apa? Bisa nggak sich loe lepasin gue tanpa ada embel-embel?" sahut Aara dengan menatap jengah Kakaknya.
"Harus ada yang menemani selama loe di sana!"
Aara menggelengkan kepala, dia tidak mungkin meminta Mommy atau Daddy nya untuk menemani karena, kedua orang tuanya tidak bisa di pisahkan satu sama lain. Di umur mereka yang sudah tidak lagi muda justru membuat hubungan keduanya semakin harmonis. Mungkin itulah ciri khas keluarga Baratajaya, jika sudah cinta bucinnya tidak ada ukuran.
"Gue bisa sendiri Raf, loe jangan ada niat buat memisahkan Mommy dan Daddy, impossible!" Aara pun ingi tenang di sana, dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam hal dirinya karena, dia sadar telah banyak merepotkan.
"Bukan Mommy atau Daddy tetapi, Wahyu."
Dengan cepat Aara menoleh ke arah Rafkha kemudian melihat Wahyu yang tersenyum ke arahnya. Begitupun sebaliknya dengan kedua orang tuanya yang nampak terkejut dengan keputusan Rafkha yang seenaknya saja meminta orang lain menemani Aara. Daddy tidak habis pikir dengan isi kepala putranya. Mudah sekali memutuskan sedangkan Wahyu pun memiliki keluarga yang merupakan rekan bisnisnya juga.
__ADS_1
"Kita bisa melanjutkan sekolah bersama dan gue akan menemani loe berobat di sana."