LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 94


__ADS_3

Setelah fitting Brian lanjut mengajak Lily untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membelikan Lily cincin pernikahan dan satu set perhiasan sebagai tambahan mahar saat acara ijab kabul nanti. Keduanya kini sudah tiba di mall terbesar yang berada di pusat kota dengan melangkah bergandengan tangan.


Jika dilihat mungkin tidak ada yang menyangka jika keduanya adalah sepasang kekasih yang telah memiliki dua orang putra. Terlebih penampilan Lily yang begitu girly dan imut, tidak menampakkan seperti ibu-ibu. Keduanya melangkah memasuki toko dengan Lily yang begitu bahagia dan masih tidak menyangka akan bersama. Dia seperti mimpi bisa akan menikah dengan pria yang sangat ia cinta.


Terlepas dengan kejadian yang ada sebelumnya, Lily merasa sangat beruntung. Dia bahkan sudah melupakan luka yang pernah menggores hati hingga berpengaruh besar pada kehidupannya. Yang terus Lily ingat hanya satu, Tuhan begitu sayang dan mengembalikan yang sudah tercipta untuknya meskipun dengan cara yang luar biasa menguras air mata.


"Mau yang mana Sayang?" tanya Brian dengan merangkul pundak Lily. Melihat Lily yang tampak kebingungan, Brian pun berinisiatif untuk meminta karyawan toko memberikan perhiasan yang paling bagus. "Mbak tolong pilihkan beberapa set perhiasan pengeluaran terbaru yang paling bagus di toko ini ya untuk calon istri saya!"


Lily menoleh ke arah Brian dengan mengangkat alisnya kemudian tersenyum dan kembali melihat beberapa set perhiasan yang dibawakan oleh pegawai toko tersebut.


"Ini Kak, ada beberapa pilihan pengeluaran terbaru dan model cincin pernikahan limited edition dari toko kami," ucap pegawai tersebut. Dia memamerkan beberapa set perhiasan dan cincin pernikahan dengan harga yang fantastis karena produk paling bagus yang toko mereka keluarkan.


"Oh iya, makasih ya Mbak. Coba aku pilih dulu." Lily segera mengamati satu persatu dan mencobanya di jari manis lalu memperlihatkan kepada Brian. "Kak, ini cocok tidak?"


Brian tampak berpikir, dia melihat ke model yang lain dan mengambil satu set cincin pernikahan yang menurutnya lebih elegan dan manis di jari Lily.


"Bagaimana jika coba yang ini Sayang? Sepertinya ini cocok untuk kamu."


 Lily mencoba cincin yang Brian pilihkan. Dia tersenyum melihat cincin yang terpasang begitu manis di jemarinya dan segera menyetujui cincin pernikahan yang Brian pilihkan.


"Pilihan Kakak bagus, kenapa nggak dari tadi aja coba? Aku suka yang ini." Lily memperlihatkan jemarinya kepada Brian.


" Kakak kan ingin memberikan kesempatan buat kamu memilih, eh malah bingung sendiri. Bagus semua ya sampai ingin semuanya di beli?"


"Kalo bisa sama toko dan pegawainya aku bawa pulang," sahut Lily menggoda.


"Aisshh... Nanti ya kalo proyek besar Kakak goal, kamu mau minta apapun pasti Kakak kasih."


"Apa sich Kak aku cuma bercanda aja," ucap Lily tak enak kemudian membalas rangkulan Brian.

__ADS_1


Brian mengacak gemas rambut Lily lalu meminta pegawai toko untuk membungkus pilihannya tadi dan ada dua set perhiasan lagi yang Brian beli juga untuk Lily.


"Banyak sekali sich Kak?" protes Lily setelah melihat isi paper bag.


"Nggak apa-apa nanti bisa kamu simpan yang lainnya. Kakak senang bisa membelikan kamu sesuatu, belum pernah kan? Doakan rejeki Kakak semakin lancar dan berkah ya untuk anak dan istri kelak."


"Aamiin," jawab Lily tulus.


Setelah dari toko perhiasan, kini Brian mengajak Lily untuk berbelanja pakaian. Dia benar-benar ingin memanjakan Lily. Brian ingin menebus waktu yang telah terbuang selama ini dan memberikan apapun yang sudah lama Lily inginkan. Apalagi Brian tau betul jika Lily sudah lama tidak jalan-jalan ke Mall. Ada waktu free satu hari ini akan Brian habiskan untuk mengajak Lily berbelanja.


"Kak nggak perlu berlebihan, pakaian Lily masih banyak yang baru. Mommy selalu membelikan untuk Lily," tolak Lily saat keduanya memasuki toko pakaian.


"Beda Sayang, kamu kan sudah lama nggak belanja dan memilih pakaian sendiri. Sekarang Kakak mau kamu pilih apa saja yang kamu suka." Brian membimbing Lily dan meminta pegawai toko membantunya. "Kakak tunggu di sana ya!"


"Mbak tolong calon istri saya ya!"


"Baik Pak," jawab pegawai tersebut.


Ada beberapa potong pakaian yang Lily pilih berikut pakaian tidur yang Brian rekomendasikan untuknya. Lily sempat risih tetapi demi Brian yang seminggu lagi sah menjadi suami, dia pun menurut dan membeli semua yang Brian mau.


"Nanti dipakai ya!" bisik Brian saat keduanya sedang berada di kasir.


Wajah Lily merona, dia tidak menggubris ucapan Brain. Sejak tadi saja wanita itu sudah menahan malu di depan pegawai toko. Ditambah lagi Brian yang berbisik seperti itu. Ingin rasanya Lily segera pulang dan bersembunyi di bawah selimut tebal.


"Ayo pulang Kak," rengek Lily. Keduanya sudah keluar dari toko dengan beberapa kantong paper bag di tangan.


"Kok pulang sich Sayang?"


"Aku teringat dengan Brilly dan Lian Kak, dadaku terasa penuh sekali hampir seharian tidak menyusui mereka," keluh Lily yang merasakan dadanya sedikit nyeri, mungkin karena sudah terbiasa menyusui. Atau mungkin karena kedua putranya rewel. Perasaan Lily mendadak tidak enak padahal tanpa Lily tau kedua putranya sedang tidur nyenyak ditemani oleh Mommy dan Daddy.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu khawatir, mereka anteng dengan Mommy dan Daddy. Sekarang aku masih mau ajak kamu ke suatu tempat. Aku ingin kamu membeli semua kebutuhan yang hampir setahun ini tidak kamu beli."


Dengan patuh Lily mengikuti langkah Brian. Tangannya digandeng oleh pria itu menuju toko selanjutnya. Lily tercengang saat keduanya telah sampai di toko tersebut. Rasanya Lily ingin memukul kepala Brian karena telah mengajaknya ke tempat khusus menjual benda keramat.


"Aku mau pulang!"


"Sayang, kamu belum beli ini." Brian menunjuk ke arah patung yang sedang berpose dengan satu set dalaman berwarna mentereng.


"Kakak mesum sekali, aku tidak mau!" Lily tidak menyangka Brian memiliki pikiran sampai ke sana. Seandainya Lily mau beli pun tidak harus mengajak pria itu juga. Malu sekali Lily rasanya, belum lagi tatapan Brian yang begitu berbinar. Meskipun keduanya pernah menyatu tetapi bukan berarti Lily tidak merasa risih jika membeli benda keramat bersama dengan Brian.


"Sayang, kamu malu? Bahkan Kakak sudah tau ukuranmu. Ayo!" lirih Brian dengan lembut. Pria itu kembali menggenggam tangan Lily hingga keduanya kini sudah berada di dalam dengan aura wajah berbeda. Lily terlihat penuh tekanan sedangkan Brian nampak sumringah.


Lily menghela nafas berat, jalan satu-satunya adalah menuruti agar segera keluar dari sana. Dia meminta Brian untuk berdiri di pojokan dan melarang Brian mengikutinya.


"Tetap di sini dan jangan mengikuti aku!" Tatapan Lily berubah tajam dengan wajah merona.


"Iya Sayang, duh gemes banget sich makin nggak tahan jadinya. Jangan ngambek gitu donk!" rayu Brian namun, tidak digubris oleh Lily. Wanita itu segera melangkah pergi tetapi baru beberapa langkah panggilan dari Brian membuat dirinya menoleh kembali menoleh ke arah pria itu.


"Kenapa?" tanya Lily tanpa mengeluarkan suara.


" Hitam dan merah ya Sayang," lirih Brian agar tidak terdengar dengan yang lain.


Lily mendengus kesal dengan menghentakkan kakinya. Brian membuat kesabaran Lily hampir habis. Dunia seakan terbalik, jika biasanya para pria yang merasa tersiksa diajak ke tempat seperti ini tetapi giliran Brian begitu bahagia. Bukan hanya itu, Lily tidak habis pikir dengan Brian yang malah mengajukan request warna.


"Hitam dan merah? Disangka aku mau kampanye kali."


...****************...


Jangan lupa like dan coment cantik. Mampir juga ke si orange dengan judul CASANOVA dan Cewek Matre. Di sana ada Abang Gibran yang lagi ngereog.

__ADS_1


Follow Ig aku agar bisa tau info lebih lengkapnya. weni0192


Makasih semuanya🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2