
Kabar akan sadarnya Lily membuat semua bernafas lega dengan mengucapkan syukur banyak-banyak. Meski kondisi Lily yang masih harus dalam pantauan dokter karena kandungannya yang masih lemah. Tapi kondisi Lily yang sudah melewati masa kritis cukup memberi angin segar. Meski mereka bingung bagaimana akan menjelaskan pada Lily tentang Aara agar Lily tak lagi begitu mengkhawatirkan.
Mommy dan Daddy masuk kedalam ruangan Lily di ikuti dengan Brian serta Andika dan erna. Raihan dan Andini berusaha untuk tersenyum walaupun hati mereka mendung. Melihat sepasang mata sendu dengan wajah pucat membuat dada serasa sesak. Andai mereka peka terhadap anak-anak mereka mungkin tak akan seperti ini jadinya. Penyesalan yang selalu datang terlambat di waktu yang tak dapat di tebak.
"Sayang....." Mommy yang tak bisa menahan diri segera berlari dan memeluk Lily. Air mata yang sejak membuka pintu dia tahan sudah mengalir deras dengan isakan kecil yang mengundang kesedihan.
"Mommy .... Kak Aara mommy...." Lirih Lily yang teringat akan pembicaraan keluarga tentang kondisi Aara saat ini.
"Lily cukup memikirkan kesehatan kamu dan anak yang ada di dalam kandungan kamu sayang. Itu lebih penting dari apapun bukan? Sebagai calon ibu Lily tidak mau kan mereka kenapa-kenapa?" tanya Mommy Andini dengan mengusap perut putrinya. "Kondisi mereka sedang lemah di dalam sana nak, karena bundanya terlalu banyak pikiran. Maafkan mommy dan Daddy yang selama ini salah bersikap. Tapi mulai sekarang, pikirkanlah kondisi kamu sayang. Jangan terus kamu memikirkan sesuatu yang menyakitkan hati kamu!"
Tangan Lily mengusap perutnya, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan anaknya. Harta yang baru di titipkan dari yang maha kuasa meski jalannya salah namun ini anugerah. Tapi bagaimana dengan keadaan sang kakak. Dia bahkan masih sangat syok mendengar penuturan Mommy di rumah Tiara tadi.
"Tapi Kak Aara Mom...."
"Sssttt.....Aara sudah ada yang mengurus, Mommy dan Daddy akan selalu di samping kalian. Terutama Aara yang sedang butuh banyak dukungan. Tapi Lily harus janji sama Mommy, Lily harus kuat dan kembali sehat. Mommy ingin cucu Mommy lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna. Cantik dan tampan seperti bunda dan ayahnya."
Lily tidak mengernyitkan dahi, dia tidak paham dengan apa yang Mommy bicarakan. Kini pandanganya tertuju pada dua pria yang berdiri di belakang Mommy. Daddy dan juga Ayah dari anak yang ia kandung. Mereka menatapnya dengan senyuman hangat dan mata berbinar. Meski gurat kesedihan masih melekat namun dapat di lihat percikan kebahagiaan itu ada.
"Disini mereka sedang berjuang untuk menyatukan Ayah dan Bunda nya."
__ADS_1
"Mereka?" tanya Lily lagi, sejak awal kehamilan Lily hanya melakukan USG satu kali. Itu pun saat pertama tahu jika ia hamil, seterusnya ia menolak karena tidak ingin Brian semakin tidak bisa menahan keinginannya untuk pisah dari Aara. Jadi setiap periksa kandungan Lily hanya memastikan kandungannya sehat dan tidak lupa meminta vitamin. Selebihnya ia sudah ada rencana akan melakukan USG saat kehamilannya menginjak tujuh bulan itu pun tidak bersama dengan Brian.
"Hhmmm....Seperti Kak Rafkha dan Kak Aara. Tapi jika ini dua jagoan karena tadi kata dokter keduanya ada tanduknya. Iya kan Brian?"
Lily kembali menoleh ke arah Brian, haru, bahagia, menjadi satu. Selama ini takdir seperti mempermainkannya. Tapi hari ini kesedihannya terbayar lunas dengan kabar bahwa di dalam kandungannya ada dua nyawa.
"Kembar?" lirih Lily dengan jawaban sebuah anggukan dari Brian yang tersenyum menatapnya. Isak tangis pun kembali terdengar, kali ini Lily menangis dengan sangat kencang sampai Mommy dan yang lainnya merasa heran.
"Sayang kok malah nangis kejer begini..."
"Loe cubit kali Ndin!" celetuk Om Andika.
"Huhuhuhu....Mommy aku punya anak sekaligus dua...hiks....hiks...hiks....Nanti gimana ngurus nya Mom? Suami aja aku nggak punya....hiks ...hiks....Hua......Kak Brian kenapa nitipinnya sekaligus dua...hiks...hiks..."
Semua yang ada disana nampak tercengang, tak di sangka Lily menangis karena memikirkan akan kerepotan memiliki anak dua. Padahal mereka kira Lily akan sangat bahagia, tapi malah nangis sejadi-jadinya.
Brian yang melihat itu serasa ingin memeluk Lily karena sikap Lily yang begitu menggemaskan. Tidak ia bayangkan jika kedua bayinya lahir. Mungkin Lily akan ikut menangis melihat kedua bayinya yang menangis berebut susu.
"Lily sayang, nanti akan Mommy carikan suami untuk Lily. Jadi Lily jangan khawatir oke!" ucap Mommy mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Mom!" Brian tidak terima dengan ucapan mertuanya. Sedangkan yang lain tampak mengulum senyum karena tau Brian yang tadi begitu kalut sekarang seperti kebakaran jenggot mendengar ucapan Andini.
Setelah Lily terlihat tenang, Mommy dan Daddy pamit ingin melihat Aara karena sejak pagi tadi keduanya belum berkunjung ke kamar Aara.
"Aku ingin bertemu Kak Aara Mom..."
"Tapi kondisi kamu belum pulih benar, kandungan kamu masih lemah. Sesuai yang Mommy katakan tadi, mereka sedang berjuang. Jadi kamu baik-baik disini, nanti jika sudah sehat Mommy dan Daddy akan pertemukan kalian."
"Berjuang...." lirih Lily.
"Daddy minta maaf telah memisahkan kalian berdua, tapi Daddy harap kalian bersabar." Raihan sudah memutuskan untuk tidak egois dan mendengarkan saran sang istri. "Daddy akan menikahkan kalian setelah kondisi Aara memungkinkan dan Brian menceraikan Aara."
Lily terkesiap mendengar penuturan Daddy, rasanya semua seakan mimpi. Dia akan di nikahkan dengan pria yang namanya masih bersemayam di lubuk hati yang paling dalam tanpa ia minta. Sedangkan Aara sedang sakit keras.
"Tapi Daddy....Apa ini adil untuk Kak Aara? Aku tidak mungkin hidup bahagia di atas penderitaan Kakakku." Lily tidak mungkin egois, Aara sangat membutuhkan Brian saat ini. Meski tidak munafik ia pun sama. Tapi kondisinya saat ini berbeda, Aara sakit sedangkan dia sehat dan masih bisa mengurus diri dan kedua anaknya.
"Tapi nak....."
"Tinggalkan Lily dengan Kak Brian! Lily ingin bicara dengan Kak Brian," ucap Lily penuh penegasan membuat semua yang ada di sana segera melangkah keluar ruangan.
__ADS_1