LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 29


__ADS_3

Brian memijit pelipisnya, memikirkan Aara membuat kepalanya ingin pecah. Dia sadar jika belum bisa bersikap baik dengan Aara, tapi memang sejak awal hubungan mereka sudah salah. Tak ada cinta dan hanya ada keterpaksaan saja. Berteman pun tidak bisa karena selalu berujung dengan perdebatan.


"Mungkin lebih baik berpisah, tapi bagaimana dengan orang tua." Banyak yang di pikirkan oleh Brian jika memutuskan untuk berpisah. Apa lagi setelah itu ia berniat untuk mempersunting Lily. Tidak akan mudah baginya melalui itu semua.


Brian segera keluar dari kamar dengan merapikan lagi pakaian kerjanya. Dia teringat akan Lily, sudah jamnya sarapan dan ia harus ada di dekat Lily agar wanita itu bisa menyantap semua makanan tanpa ada keluhan.


"Brian, Aara sudah berangkat?" Tanya Mommy yang mulai curiga dengan hubungan keduanya. Beliau melihat gurat kesedihan di wajah putri-putrinya, jika Lily beliau berfikir memang karena ada kaitan dengan kandungannya. Sedangkan Aara sudah menikah, tapi mengapa aura kebahagiaan begitu jauh dari wajah Aara dan Brian.


"Aara ada perlu Mom, lagian sekarang kan kita sudah tidak satu kantor. Makanya Aara berangkat sendiri," jawab Brian mencoba bersikap biasa agar mertuanya tidak curiga. Kemudian duduk mendekati Lily yang mulai menyendok nasi.


Bukan hal yang baru jika Lily makan harus ada Brian di sampingnya. Karena semua penghuni rumah sudah tau akan hal itu.


"Sayang masih harus ada Brian makannya?" tanya Mommy lagi. Meski Aara sudah mengijinkan Brian selalu ada untuk Lily karena alasan kandungan Lily. Tapi Mommy paham jika tidak ada wanita yang mau suaminya berbagi perhatian dengan wanita manapun termasuk saudaranya.


Lily menghentikan suapannya, sendok yang ia pegang kembali ia letakkan dan menoleh ke arah Brian yang juga terdiam menatapnya.


"Jika ingin pergi, pergi saja. Gue bisa makan sendiri!" lirih Lily dan kembali menyuapkan nasinya ke dalam mulut. Lily mengusap perutnya, dalam hati ia meminta agar bayinya tidak rewel dan mengerti jika sang Ayah tidak boleh selalu dekat seperti ini. Meski Lily merasa sudah mulai terbiasa. Bahkan di kehamilan yang sudah menginjak bulan ke 4, adanya Brian menjadikannya sedikit bergantung pada pria itu.

__ADS_1


Brian melihat gerak gerik Lily, dia melihat saat Lily menyentuh perutnya. Perlahan tangan Brian pun ikut mengusap perut Lily membuat wanita itu sedikit tersentak. Dengan menjaga sikap Brian tersenyum kepada Mommy dan Daddy yang memperhatikan.


"Setelah sarapan Brian akan segera berangkat Mom."


Dengan sengaja Brian makan dengan perlahan sampai isi piring Lily habis tak tersisa. Brian mengulum senyum melihat Lily makan dengan sangat lahap dan lega karena saat makan siang nanti pasti Lily akan sedikit kesulitan untuk makan.


"Daddy berangkat dulu! Brian Daddy duluan! Lily, jaga diri kamu baik-baik dan jangan pergi kemana-mana!"


"Hati-hati Daddy!" ucap Lily dan Brian berbarengan.


Daddy segera beranjak dari sana dan merangkul sang istri yang sudah siap mengantar sampai ke depan. Lily menghela nafas panjang, kemudian ikut beranjak dari sana namun dengan cepat Brian menahannya.


"Udah kenyang kak..." tolak Lily. Dia memang sudah sangat kenyang. Rasanya sudah tak ingin lagi memasukkan apapun ke dalam mulutnya.


"Sedikit aja! Ayo..." Brian membantu Lily untuk meminum susu tersebut. Dengan terpaksa Lily menerima dan meminumnya dengan perlahan sampai susu itu tersisa setengah gelas.


"Pintar.... Bundanya pintar, anak Ayah juga pasti pintar. Apa lagi kalo Ayahnya juga di sayang!" celetuk Brian yang sedang meletakkan gelas susu di atas meja makan.

__ADS_1


"Kurang kasih sayang ya Pak? Makanya jangan banyak tingkah!" sahut Lily dengan nada mengejek.


"Bukan hanya kurang kasih sayang tapi kurang belaian. Ikut ke kantor gue aja yuk!" ajak Brian dengan senyum mengembang, jika ia bisa membawa Lily ke kantornya mungkin dia akan sangat semangat bekerja. Dan Lily pun bisa melepas suntuk yang ia rasa.


"Nggak usah ngadi-ngadi dech kak, loe nggak lihat Mommy mulai curiga sama hubungan loe dan Kaka Aara? Mending sekarang loe berangkat kak! Gue mau masuk ke kamar."


"Eh tunggu dulu!" Brian kembali menahan tangan Lily yang sudah ingin pergi. "Gue belum pamit," Brian segera mengusap perut Lily dengan memberi kecupan di sana.


Posisi Lily yang berdiri di hadapannya membuat Brian lebih mudah berinteraksi dengan anaknya. "Sayang, Ayah berangkat dulu ya, baik-baik di rumah sama Bunda. Dan jangan rewel, jangan merepotkan Bunda....Ayah sayang kalian...." Brian mengecup perut Lily dan mengusapnya dengan tersenyum melihat perut yang semakin membesar.


"Gue berangkat ya, jaga diri loe baik-baik."


Cup


Brian mencuri kecupan di pipi Lily membuat rona merah begitu terlihat.


"Kak!" kesal Lily dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Anggap bonus Ly dan penyemangat buat gue kerja. Nanti sore gue bawain oleh-oleh buat kalian!" ucap Brian kemudian mengusak rambut Lily dengan gemas. "Loe sulit banget di gapai, andai semua bisa di ulang lagi. Nggak akan gue mau nurutin apapun yang loe mau!"


"Jangan banyak berkhayal kak, sana berangkat!" celetuk Lily tanpa memperdulikan Brian dia segera pergi ke kamar. Lily selalu menghindar jika membahas tentang yang kemarin. Dia tau dia salah, dia pun menyesal karena sikap Aara jauh dari apa yang ia pikirkan. Namun kini Lily tak ingin larut dalam penyesalan. Ia ingin fokus dengan kandungannya, melahirkan dan memperjuangkan hak asuh atas anaknya.


__ADS_2