
Brian terus menatap Aara dengan tatapan berbeda, dia pun bingung dengan jawaban Aara yang melakukan program kehamilan sedangkan keduanya tidak terlibat hubungan ranjang. Sungguh itu hanya alasan yang sangat mustahil. Atau apa yang ia pikirkan tadi ada kaitannya dengan ucapan Aara.
Aara pun cuek kemudian mengisi piringnya tanpa peduli dengan tatapan Brian. Wanita itu seakan sadar jika sejak tadi di perhatikan. Hingga ia merasa jengah dan mengambilkan piring kosong milik Brian lalu mengisinya dengan berbagai masakan buatan Mommy.
"Ini suamiku....Ngelihatin terus dari tadi, maaf ya lupa kalo harus melayani." Aara bersikap manis dengan meletakkan piring Brian secara perlahan dan mencolek dagu Brian dengan memberikan sebelah kedipan mata.
"Romantis bener udah kayak sendok sama garpu!" celetuk Andika yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Brian dan Aara.
"Kok sendok sama garpu?" tanya Aara bingung. "Nggak ada apa pasangan yang bagus gitu, Romeo and Juliet kek!" protes Aara.
"Sendok garpu lebih kompak, kayak kalian. Nanti nyampe kamar tinggal ganti baju yang ada tulisannya selamat menikmati. Ya nggak Brian?" Goda Andika mengundang tawa semua yang mendengar. Kecuali kedua pasutri yang menatap sengit beliau.
"Hai bukannya pada makan malah pada becanda aja! Nggak kasian apa itu makanan keburu dingin." Andini datang bersama Lily yang hanya tersenyum mendengar ocehan Mommynya lalu duduk di sebelah Gibran.
Brian segera menoleh saat Lily lebih memilih duduk di sebelah Gibran padahal ada bangku kosong di samping nya yang memang sengaja untuk Lily. Seperti yang sudah-sudah, tapi entah mengapa Lily malah dengan santainya duduk di samping Gibran.
"Pakein selimut biar anget lagi itu makanan!" celetuk Andika yang membuat adiknya mendengus kesal lalu duduk di samping sang suami.
__ADS_1
"Sayang kok duduk di situ?"
"Nggak apa-apa Mom, pengen deket Gibran aja." Jawab Lily kemudian menoleh ke arah Gibran, begitupun dengan Gibran yang kini menatap Lily dengan tatapan teduh.
Andika yang sejak tadi mencari Lily, kini wajahnya berubah sendu dengan menatap ponakannya yang bernasib buruk. Ingin sekali beliau memeluk Lily dan memberi kekuatan agar mampu dengan kuat menghadapi semua ujian hidup yang kita tidak tau ke depannya. Tapi karena jarak Andika dan Lily yang berseberangan membuat Andika mengurungkan keinginannya.
"Lily, nggak kangen sama Om?" lirih Andika dengan mata yang berkaca. Melihat ekspresi Andika membuat suasana di meja makan menjadi berbeda. Om nya yang ceria kini begitu terlihat sedih menatap ponakannya dengan lekat.
"Kangen donk Om...Sudah hampir empat bulanan tidak bertemu, maaf ya Om aku belum boleh keluar rumah sama Daddy." Jawab Lily tak kalah lirih, dia cukup dekat dengan Omnya melebihi dari Aara karena kedekatannya dengan Tiara. Menjadikan dia menganggap Andika seperti Daddynya sendiri.
Mendengar jawaban Lily membuat Andika menghela nafas berat, Andika menoleh ke arah Raihan dan Andini yang kini hanya menundukkan kepala.
Lily tersenyum menganggukkan kepalanya, "kan Lily mah tinggal di sangkar emas Om!" sahut Lily dengan senyum yang hambar.
Melihat itu Brian hanya bisa menghela nafas berat andai tidak ada siapapun mungkin kini ia telah menarik Lily ke dalam pelukannya. Terlebih ia melihat air mata yang sudah menganak di pelupuk mata.
" Ehemmmm.....Ayo kita makan dulu! Setelah itu baru kita ngobrol lagi!" Ucapan Raihan membuat semua kembali fokus dengan makan malam. Begitupun dengan Lily yang segera mengisi piringnya meski enggan.
__ADS_1
Aara yang tadi sempat menundukkan kepala pun segera memakan kembali makanannya sedikit demi sedikit. Tak ada lagi obrolan, semua nampak fokus dengan isi piringnya masing-masing.
Huwek
Huwek
Huwek
Kali ini bukan Lily melainkan Aara, Lily yang sejak tadi menahan mual karena duduk berjauhan dengan Brian hanya menutup mulut agar makanannya tidak kembali keluar. Namun di luar dugaan justru Aara yang nampak begitu payah menahan mual hingga wajahnya memucat.
"Aara kamu kenapa nak? Mual?" tanya Mommy yang sedikit khawatir namun wajahnya terlihat menyimpan kebahagiaan. "Sayang kamu pucat sekali, atau jangan-jangan kamu hamil nak?" tanya Andini dengan mata berbinar.
Ucapan Mommynya membuat Lily terkejut, dia segera menoleh ke arah Aara yang terlihat menahan mual kemudian menoleh ke Brian yang juga tengah menatap Lily dengan menyatukan kedua alisnya. Brian seakan mengerti arti tatapan Lily, dengan perlahan Brian menggelengkan kepala.
Tapi setelah itu ia membantu Aara untuk segera berlari ke wastafel karena rasa mualnya sudah tak tertahankan. Dan akhirnya ia mengeluarkan semua makanannya.
"Loe kenapa? Nggak mungkin kan kalo loe hamil juga?" lirih Brian yang kini tengah menatap Aara dan membantunya membersihkan mulut Aara.
__ADS_1
"Kenapa? Loe takut kalo gue hamil anak pria lain?" lirih Aara namun wajahnya begitu menantang. Perlahan Aara melangkah menuju tangga melewati semua yang kini melihatnya dengan penuh tanda tanya. Brian pun tak tinggal diam, dia segera melangkah panjang untuk membantu Aara. Karena ia tau Aara saat ini tidak baik-baik saja.